"Saat ini AS menargetkan untuk mengurangi emisi mencapai 17 persen dari tingkat tahun 2005, saya berpikir bagi kita semua angka ini tidak bisa dianggap sebagai suatu hal yang luar biasa atau menonjol," Wei Su negosiator China mengatakan dalam sebuah wawancara langka di Kopenhagen konferensi perubahan iklim.
Dia lebih jauh mengkritik Washington karena gagal untuk mengurangi emisi, tidak seperti apa yang negara-negara maju lainnya telah mampu mencapai. Keberhasilan perundingan sangat bergantung pada komitmen dari Amerika Serikat, emitor nomor dua di dunia setelah China, untuk secara substansial mengurangi emisi, katanya.
Su mungkin akan berbentrokan dengan penyangkal iklim Senator Jim Inhofe (perwakilan Republikan dari Oklahoma) yang berencana untuk menghadiri atau "menghancurkan" pembicaraan Kopenhagen. Kemudian dia akan mendapatkan semacam ide perlawanan dan ketidakpedulian yang Obama hadapi. Inhofe mengatakan ia ingin berada di sana hanya supaya dia bisa menentang apa yang Senator John Kerry (perwakilan Demokrat dari Massachusetts) dan Barbara Boxer (perwakilan Demokrat dari California) akan katakan mengenai kemungkinan Senat dalam meloloskan perundang-undangan energi dan iklim yang bersih.
Su harus menyadari ada semakin banyak orang di AS yang tidak peduli tentang pemanasan global, menyangkal hal itu terjadi, atau tidak percaya itu disebabkan oleh manusia, yang bahkan membuat target 17 persen sulit untuk dijanjikan, tanpa undang-undang untuk menduukung itu.
Panel PBB mengatakan pengurangan dari 25 sampai 40 persen di bawah tingkat 1990 pada tahun 2020 diperlukan untuk menghindari pemanasan global yang terburuk.
Sebelum berlangsungnya pembicaraan di Kopenhagen tersebut, merebak isu dari e-mail yang dihack dari lembaga penelitian iklim yang isinya menyarankan perubahan iklim tidak disebabkan oleh manusia, menurut seorang pemimpin negosiator iklim Arab Saudi.
Isu e-mail tersebut muncul pada akhir bulan September ketika ratusan pesan antara ilmuwan di universitas Climatic Research Unit (CRU) dan rekan-rekan mereka di seluruh dunia dimuat di internet, bersama dengan dokumen lainnya.
Itu adalah upaya transparan untuk mendiskreditkan bukti ilmiah dasar dan menabur kebingungan menjelang pembicaraan di Kopenhagen ujar Malini Mehra dari Center for Social Markets.
Tampak bahwa dokumen tersebut dihack atau bocor; penyelidikan polisi belum mengungkapkan yang mana.
CRU menyimpan salah satu dataset paling penting di dunia tentang bagaimana suhu global telah berubah.
Para "skeptis" Iklim yang telah menyatakan bahwa e-mail itu merongrong kasus ilmiah untuk perubahan iklim yang disebabkan emisi gas rumah kaca oleh manusia, menyebut masalah itu "ClimateGate".
Tapi hanya baru-baru hal tersebut dapat terwujud sebagai isu untuk mempengaruhi negosiasi Kopenhagen, yang seharusnya untuk menyetujui kesepakatan global baru dalam memerangi perubahan iklim untuk menggantikan Protokol Kyoto.
Isu telah memperoleh traksi melampaui jumlah kecil orang-orang yang sangat terlibat dalam perdebatan ilmiah mengenai perubahan iklim. The Competitive Enterprise Institute juga mengutip e-mail sebagai bagian dari alasan untuk menggugat EPA atas penemuannya bahwa karbon dioksida dan gas-gas rumah kaca lainnya menjadi ancaman bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Kontroversi itu telah memaksa Gedung Putih dan pendukung RUU iklim di Capitol Hill untuk membela para ilmuwan, dan dalam beberapa hari terakhir masyarakat ilmiah sendiri telah meningkatkan balasan media.
"Mereka tidak memiliki argumen ilmiah di pihak mereka, mereka tidak bahkan menantang ilmu itu sendiri; semua yang mereka miliki adalah sindiran dan kampanye tidak jelas," Michael Mann, seorang ilmuwan iklim Penn State University dan salah satu dari individu-individu yang e-mailnya dihack, kepada wartawan pekan lalu.
Tetapi bahkan jika kontroversi tidak merusak legitimasi ilmiah perubahan iklim, itu tidak berarti bahwa kebangkitan kembali pertikaian ilmiah ini tanpa konsekuensi politik. (iw/ex/bc/nt) www.suaramedia.com














