Di antara persenjataan yang diangkut oleh pesawat tersebut, ditemukan peluru kendali dan granat, demikian kata Panitan Wattanayagorn, seorang juru bicara pemerintah Thailand kepada Al Jazeera pada hari Minggu (13/12).
"Kejadian itu masih diselidiki oleh kepolisian Thailand, dan esok hari, lima orang pria yang menjadi kru pesawat tersebut akan diproses dalam persidangan, berdasarkan hukum Thailand," kata Wattanayagorn.
"Karena berasal dari Korea Utara, kami yakin bahwa pesawat tersebut melanggar resolusi PBB, dan kami akan melakukan tindakan berdasarkan hal itu."
"Resolusi PBB pada tahun 1874 melarang adanya transfer persenjataan dari Korea Utara, dan ada empat langkah yang harus dilakukan – melakukan inspeksi, menangkap dan menghancurkan senjata-senjata tersebut, kemudian mengirimkan informasi perihal penemuan kami kepada PBB," tambah juru bicara tersebut.
Sejak menggelar uji coba nuklir pada bulan Mei silam, Korea Utara telah dijatuhi berbagai sanksi PBB yang bertujuan utama untuk menyumbat alur penjualan senjata negara tersebut, yang menurut sejumlah perkiraan, dapat menambahkan keuntungan bersih sejumlah $1miliar per tahun ke dalam kas Korea Utara.
Senjata Korea Utara yang paling banyak diminati adalah peluru kendali balistik. Dalam daftar pelanggannya, tercantum nama Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya, demikian pernyataan versi pejabat pemerintahan AS.
Mercedes Stephenson, seorang analis keamanan dan pertahanan yang berbasis di Toronto, Kanada, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kejadian tersebut merupakan sebuah bukti nyata bahwa Korea Utara memang benar-benar terlibat dalam aktivitas semacam itu.
"Penghentian pengiriman senjata tersebut memang signifikan, namun (apa yang ada dalam pesawat tersebut) hanyalah puncak dari fenomena gunung es, hanya sebagian kecil dari keseluruhan senjata yang telah dikirimkan, seperti yang telah kami curigai selama ini. Amat sulit untuk melacak pengiriman senjata yang sifatnya melanggar hukum."
Berdasarkan sejumlah pemberitaan media, disebutkan bahwa otoritas Thailand memperoleh informasi mengenai isi muatan pesawat tersebut dari AS.
Wattanayagorn tidak bersedia menanggapi pemberitaan tersebut, namun ia mengatakan: "Kami telah menjalin kerja sama dengan banyak agen dari berbagai negara di dunia, dan kami akan melanjutkan kerjasama semacam itu."
Dia menambahkan, pesawat tersebut sedianya akan kembali singgah di Colombo, Sri Lanka, namun masih belum jelas lokasi yang menjadi tujuan utama pesawat tersebut.
"Saya tidak dapat memberitahukan tujuan akhir pesawat tersebut karena hal ini ada hubungannya dengan keamanan nasional. Pemerintah (Thailand) akan memberikan lebih banyak detil mengenai hal ini," kata Kolonel Polisi Supisarn Pakdinarunart.
Kepolisian Thailand mengatakan bahwa empat atau lima orang pria yang ditangkap berasal dari Kazakhstan, dan satu orang lainnya berasal dari Belarusia.
Para awak pesawat tersebut menyangkal tuduhan kepemilikan senjata, uang jaminan untuk membebaskan mereka juga ditolak oleh Thailand.
"Mereka melakukan dua jenis kejahatan, yang pertama, mereka telah memberikan keterangan palsu mengenai isi muatan pesawat, yang kedua, setelah menjalani pemeriksaan, terungkap bahwa isi muatan tersebut adalah senjata.
Kasus tersebut bukan yang pertama kali terjadi, pada bulan Juni lalu, sebuah kapal Korea Utara, Kang Nam 1, diduga membawa muatan senjata terlarang. Kapal tersebut ditolak ketika berupaya memasuki sebuah pelabuhan di Asia Tenggara, kapal tersebut berbalik arah setelah dibuntuti oleh Angkatan Laut AS selama berminggu-minggu. (dn/aj/gt) www.suaramedia.com
- Kemarahan China Tak Hentikan Bisnis Senjata AS - Taiwan
- Berantas Korupsi Afghanistan, Karzai Bela Walikota Korup
- Pakistan - Arab Saudi Berencana Cuci Otak Tahanan Taliban
- Perbaiki Hubungan Dengan Karzai, Gordon Brown Beri Kejutan
- Kagumi Taliban, Uskup Inggris Picu Gejolak Dalam Militer















