Pada pukul 19.00 waktu setempat, pegawai Kementerian Kesehatan akan mematikan semua lampu di dalam gedung kementerian.
Mereka ingin mendorong para staf untuk pulang ke keluarga masing-masing dan mengembangkan keluarganya. Mereka berencana untuk mengulangi eksperimen itu tiap bulan.
Negara itu memiliki salah satu angka kelahiran terendah di dunia, bahkan lebih rendah daripada negara tetangga, Jepang, sebesar 1.19 di tahun 2008. Terdapat ketakutan bahwa populasi mereka akan menyusut dalam waktu sepuluh tahun.
"Tidak akan memakan waktu lama hinga anak-anak kita terbebani dengan menopang para orang tua," ujar Menteri Kesehatan Jeon Jae-Hee kepada koran Korea Times.
"Korea mungkin akan kalah dalam kompetisi perekonomian global karena kurang sumber daya manusia. Ini sebenarnya adalah isu paling penting dan mendesak yang dihadapi oleh negara."
Meningkatkan angka kelahiran bayi kini menjadi prioritas pemerintah, yang sedang berada di ambang masyarakat yang menua dengan cepat, berkurangnya sumber daya manusia dan naiknya biaya layanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan bertanggung jawab memimpin kebijakan tersebut, dan jelas diyakini bahwa stafnya harus memimpin dengan memberi contoh.
Voucher hadiah akan diberikan kepada pegawai yang memiliki lebih dari satu anak, dan departemen itu akan mengorganisir kegiatan sosial dengan harapan dapat menjodohkan para pegawainya.
Namun kritikus mengatakan bahwa yang sebenarnya dibutuhkan adalah reformasi luas untuk mengatasi biaya perawatan dan pendidikan anak yang mahal yang membuat banyak generasi muda enggan membangun sebuah keluarga.
"Pulang lebih awal mungkin tidak ada hubungan langsung dengan memiliki lebih banyak anak, tapi kita tidak dapat sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan hubungan di antara keduanya," ujar Choi Jin-Sun, yang bertanggung jawab atas proyek di kementerian itu.
Staf kementerian yang sudah menikah tidak melakukan perannya, dengan rata-rata 1.63 anak dibandingkan dengan rata-rata 1.82 anak di kalangan pegawai sipil. Kementerian bertujuan meningkatkan angka itu menjadi 2.0 dalam dua tahun.
Beberapa pemerintah lokal juga menjalankan sejumlah skema dan bahkan jasa perjodohan untuk meningkatkan angka kelahiran.
Jepang sendiri tahun lalu telah menerapkan strategi serupa untuk meningkatkan angka kelahirannya.
Canon, sebuah perusahaan elektronik raksasa, memberikan ijin kepada karyawannya untuk pulang lebih awal dua kali dalam seminggu dengan alasan yang tidak biasa: mendorong mereka memiliki lebih banyak anak.
Sementara Keidanren, kelompok bisnis terbesar di negeri Sakura itu dengan 1.300 perusahaan internasional besar sebagai anggotanya, mengijinkan anggotanya untuk membiarkan para pekerja pulang lebih awal untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan membantu Jepang dengan masalah sosialnya yang menekan.
Salah satu alasan di balik rendahnya angka kelahiran di Jepang adalah jam kerja sepanjang 12 jam setiap hari. Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang memicu persoalan tersebut, yaitu tingginya biaya hidup dan kekakuan sosial terhadap kaum wanita dan pengasuhan. (rin/bbc/et) www.suaramedia.com
- Khawatir Senjata Makan Tuan, AS Tunda Pembentukan Milisi Desa
- Kim Jong-Il Dirikan Pusat Militer Di Bawah Gunung Berapi
- Tudingan Kebebasan Internet AS Geramkan China
- Kelompok Oposisi Pakistan Serukan Pengusiran Robert Gates
- Gates: Al-Qaeda Cetuskan Perang Baru India - Pakistan














