Berkembang spekulasi bahwa Obama akan bertemu dengan Dalai Lama ketika pemimpin Tibet tersebut mengunjungi AS beberapa waktu ke depan, Gedung Putih tidak memberikan tanggapan mengenai kemungkinan pertemuan tersebut.
Pertemuan antara Obama dan pemimpin spiritual Tibet yang diasingkan tersebut akan merusak landasan politik yang mendasari hubungan China-AS, demikian kata Zhu Weiqun, deputi ketua partai United Front Work Department, kepada para wartawan.
"Jika AS memilih untuk bertemu dengan Dalai Lama pada saat ini, maka hal itu pastinya akan mengancam kepercayaan dan pengertian antara China dan AS," kata Zhu. "Dan bagaimana mungkin hal itu membantu AS untuk mengatasi krisis ekonomi yang terjadi saat ini?" tambahnya.
Dia menambahkan bahwa China berharap agar pertemuan tersebut tidak terjadi, namun China akan mengambil "tindakan yang diperlukan" jika Obama bersikeras melanjutkan rencananya.
"Jika itu benar terjadi, maka China akan menentang keras hal itu, seperti biasanya," kata Zhu mengenai kemungkinan pertemuan Obama dengan Dalai Lama.
Zhu berbicara setelah pekan lalu digelar pembicaraan antara para pejabat Partai Komunis dan dua orang utusan Dalai Lama. Dialog tersebut menjadi yang pertama dalam 15 bulan terakhir.
Masing-masing kubu tidak mengabarkan adanya perkembangan, namun Zhu mengatakan bahwa para perwakilan Dalai Lama bersedia melakukan dialog-dialog lebih lanjut.
Bahkan sebuah pertemuan simbolis dalam waktu singkat antara pemimpin AS dan Dalai Lama akan memicu amarah Beijing, yang baru-baru ini mengancam menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan AS berkenaan dengan proposal penjualan senjata senilai $6,4 miliar ke Taiwan.
Pemerintahan terasing Tibet pada hari Selasa mengecam keras peringatan yang dilontarkan China mengenai kemungkinan pertemuan antara Dalai Lama dan Presiden Barack Obama.
"Dari sudut pandang kami, kami merasa bahwa peranan AS adalah memfasilitasi dialog yang jujur dan adil antara Dalai Lama dan pemerintah China," kata juru bicara pemerintah terasing Tibet, Thubten Samphel.
"Jadi sebenarnya tidak ada yang salah dalam pertemuan antara presiden AS dan Yang Mulia," kata Samphel kepada AFP.
Dalai Lama sedianya akan berada di Washington pada permulaan lawatan 10 hari ke AS pada tanggal 16 Februari mendatang, namun masih belum diumumkan mengenai pertemuan dengan Obama.
"AS mendukung pendekatan Yang Mulia terhadap isu-isu yang harus dipecahkan oleh Tibet dalam kerangka konstitusi China," kata Samphel.
"Jadi tidak ada alasan bagi China untuk mengatakan bahwa pertemuan (antara Dalai Lama dan Obama) akan merusak hubungan AS dan China," kata Samphel.
Dalam kunjungan pertamanya ke China bulan November tahun lalu, Obama mengatakan bahwa dirinya mendesak Presiden Hu Jintao untuk melanjutkan dialog dengan Dalai Lama.
Kelompok-kelompok Tibet yang ada di pengasingan mengkritik Obama karena menolak menjumpai Dalai Lama ketika pemimpin Buddha tersebut mengunjungi Washington pada bulan Oktober lalu. Obama mendeima kritikan tajam dan dituding tunduk pada tekanan China agar tidak menemui pemimpin Buddha tersebut ketika berada di Washington, namun presiden AS tersebut menekankan bahwa dirinya akan menemui Dalai Lama pada kesempatan lain.
Dalai Lama saat ini menetap di India, namun ia seringkali berkunjung ke AS, negara dimana dirinya mendapatkan dukungan melimpah, termasuk dari kalangan artis dan politisi ulung.
Dalai Lama mengatakan bahwa dirinya menginginkan otonomi untuk Tibet, yang ditinggalkan pemimpin spiritual tersebut pada tahun 1959. China mengatakan bahwa tuntutan tersebut merupakan tekanan untuk memerdekakan diri. (dn/et/vs/ht) www.suaramedia.com
- "Berita Kematian Hakimullah Mehsud Adalah Propaganda AS"
- Siddiqui: Vonis Hukuman Seumur Hidup Datang Dari Israel
- Teka Teki Tujuan Terselubung AS Di Timur Jauh
- Agenda Tersembunyi Dalam Konflik AS - China Terkait Taiwan
- Gopal: Penjara AS Ciptakan Pemberontakan Afghanistan














