Rabu, 23 Mei 2012

Headlines:

Teka Teki Tujuan Terselubung AS Di Timur Jauh

E-mail Cetak PDF

NAHA, OKINAWA (Berita SuaraMedia) – Satu bulan setelah Jerman menyerah pada bulan Mei 1945, pandangan mata Amerika Serikat dialihkan ke Timur Jauh, dimana pertempuran paling berdarah dalam perang Pasifik terletak di pulau Okinawa.

Dua belas ribu orang tentara dan Marinir AS kehilangan nyawa, dua kali lebih banyak dalam pertempuran selama 82 hari tersebut jika dibandingkan dengan jumlah prajurit yang tewas dalam perang Irak dan Afghanistan selama bertahun-tahun.

Dalam beberapa minggu setelah akhir pertempuran tersebut, terjadilah peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Tiga minggu berselang, Jenderal MacArthur membawa para tawanan Jepang yang menyerahkan diri dalam kapal perang Missouri.

Peristiwa tersebut terjadi 65 tahun yang lalu. Namun, hingga saat ini Marinir AS masih tetap bercokol di Okinawa. Pada tahun 2006, AS bernegosiasi dalam sebuah kesepakatan senilai $26 miliar untuk memindahkan 8.000 orang Marinir ke Guam, dan sisanya dipindahkan dari pangkalan udara Futenma, sebelah selatan kota yang paling terisolasi, Nago. Para penduduk Okinawa telah sejak lama memprotes maraknya kejahatan, kebisingan dan polusi di Futenma.

Masalah semakin memuncak tahun lalu ketika Partai Demokrat Liberal yang menegosiasikan kesepakatan tersebut terguling, dan Partai Demokrat Jepang terpilih dengan berbekal janji untuk mengupayakan kebijakan yang lebih berimbang antara Beijing dan Washington.

Perdana Menteri Jepang yang baru, Yukio Hatoyama, memperlihatkan kekhawatiran dengan kesepakatan Futenma, Hatoyama kemudian berjanji untuk melakukan revisi dan mengambil keputusan pada bulan Mei. Masyarakat Nago baru saja memilih seorang walikota baru yang berkomitmen untuk mengenyahkan pangkalan AS tersebut.

Dalam satu minggu terakhir, ribuan orang menggelar demonstrasi di Tokyo untuk menentang pemindahan pangkalan Marinir tersebut ke Nago. Sejumlah pihak menginginkan agar seluruh pasukan AS keluar dari Jepang.

Setelah 65 tahun berlalu, rakyat Jepang menginginkan AS keluar, dan Hatoyama semakin mengobarkan sentimen tersebut. Pada bulan Januari, Hatoyama mengakhiri misi Jepang yang telah dilakukan selama delapan tahun, yakni misi pengisian ulang bahan bakar dari kapal-kapal yang membantu dalam perang Afghanistan.

Hal itu kemudian memicu lahirnya pertanyaan, Jika Tokyo tidak menginginkan keberadaan Marinir AS di Okinawa, timbul pertanyaan mengapa mereka masih bertahan.

Jawabannya, pasukan AS berada di Jepang untuk melindungi Korea Selatan dan Taiwan. Korea Selatan memiliki populasi dua kali lipat dari tetangga komunisnya di utara, dengan kekuatan ekonomi yang 40 kali bebih besar, memiliki akses terhadap persenjataan mutakhir di gudang senjata AS, ditambah dengan komitmen AS untuk menjaga negeri ginseng tersebut.

Dan jika benar ada Perang Korea II, mengapa 28.000 orang pasukan AS masih berada di Korea, dan Marinir masih berada di Futenma, apa yang mereka perjuangkan? Apakah benar Korea Selatan kekurangan prajurit?"

Mengapa AS terlihat jauh lebih ngotot dalam mempertahankan negara-negara itu dibandingkan dengan antusiasme para penduduk negara-negara itu untuk mendapatkan pembelaan dari AS?

Misalnya saja Taiwan. Pekan lalu, AS mengumumkan penjualan senjata senilai $6,4 miliar ke sebuah negara pulau yang pernah disepakati AS sebagai bagian dari provinsi China. Pemerintah China, yang semakin bertambah kuat karena defisit perdagangan AS, merasa geram karena AS mempersenjatai "provinsi yang hilang" tersebut. China selama ini berupaya keras untuk menyatukan kembali Taiwan dengan China daratan.

Dalam bidang pariwisata, perdagangan dan investasi, Taiwan semakin memperdalam hubungan dengan China daratan.

Kecuali Uni Soviet, hanya ada sedikit negara dalam sejarah yang mengalami kemerosotan kekuatan dan pengaruh seperti AS dalam dekade terakhir. AS terkunci pada dua peperangan, tidak disukai secara universal dan secara berturut-turut mengalami defisit 10 persen dari produk domestik bruto (PDB), karena utang AS terus merambat naik hingga mencapai 100 persen PDB.

Kemunduran strategis dari Eurasia adalah sebuah hal yang tidak terelakkan. Sebaiknya diawali dengan menyetujui secara baik-baik permintaan Jepang yang meminta AS memindahkan pasukan Marinirnya dari Okinawa. (dn/bh) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon