Operasi militer yang dimaksud adalah operasi militer terhadap kota Marjah di propinsi Helmand, Afghanistan. Para komandan dan media terang-terangan membandingkan operasi militer ke Marjah tersebut dengan operasi militer di Fallujah pada bulan November 2004.
Pada musim panas lalu, pasukan marinir AS mendapat pengalaman tidak menyenangkan di propinsi Helmand. Ketika marinir AS mengokupasi sejumlah desa di propinsi tersebut, banyak korban berjatuhan oleh musuh yang seolah tidak kasat mata. Musuh menyerang menyerang dan lantas membaur dengan penduduk. Merasa frustasi dan kesal, marinir AS pun memutuskan untuk melakukan serangan militer yang keras, dengan hasil yang dapat diperhitungkan.
Propinsi Helmand merupakan daerah dengan perlawanan intensif terhadap pasukan AS. Operasi militer yang nantinya akan diarahkan ke propinsi Helmand akan menjadi serangan militer terbesar sejak AS menginvasi Afghanistan pada tahun 2001. Setidaknya 15.000 personel tentara akan dikirimkan untuk menyusur kota Marjah. Militer AS memperkirakan bahwa terdapat 80.000 orang yang merupakan pendukung Taliban berada di kota Marjah. Marjah adalah sebuah kota pertanian yang terletak sekitar 350 mil dari Kabul, tepatnya di lembah sungai Helmand. Marjah dikelilingi distrik-distrik yang didiami oleh sekitar 125.000 penduduk.
Brigadir Jenderal Larry Nicholson, komandan Brigade Ekspedisioner Laut Dua yang bertugas di Afgahnistan selatan mengungkapkan karakter serangan yang akan dilancarkan. Ada tiga pilihan serangan ke Marjah. "Yang pertama adalah tinggal dan bertempur dan mungkin mati," kata Nicholson. "Yang kedua adalah membuat perdamaian dengan pemerintahannya dan melakukan reintegrasi," lanjutnya. Yang ketiga adalah upaya percobaan untuk meloloskan diri. "Siapa tahu di sana ada orang-orang yang juga menunggu."
"Ini akan jadi peristiwa besar," papar Nicholson. "Saya tak akan mencari pertempuran yang adil," imbuhnya.
Sehubungan dengan adanya pengumuman tentang rencana perang, Jenderal Stanley McChrystal, seorang komandan senior di Afghanistan, mengatakan," "Ini memang agak tak lazim, namun ini memberi setiap orang kesempatan untuk berpikir sebelum bertindak tentang apa yang akan mereka lakukan sebelum tiba-tiba diserang di tengah gelapnya malam."
Dengan adanya pengumuman tentang rencana serangan, masyarakat sipil dapat mengungsi sebelum pasukan AS melancarkan serangan. Pengumuman itu juga memberikan alibi bagi serangan AS, dimana pihak yang tidak mengindahkan peringatan akan dicap sebagai Taliban yang keras kepala dan pantas untuk dihabisi.
Artikel dalam situs web itu juga menyebutkan, "Dengan serangan terhadap Fallujah dan Ramadi di Irak di bawah sabuk mereka, Marinir berpengalaman dalam serangan urban macam ini." Istilah serangan urban tersebut mengacu kepada serangan yang dilancarkan oleh pasukan marinir AS ke kota Fallujah pada bulan November 2004.
Operasi militer di Fallujah tersebut terkenal sebagai salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Irak. Fallujah adalah kota berpopulasi 300.000 orang. Setelah pesawat-pesawat tempur AS mengguyur kota tersebut dengan ribuan ton peledak dan tank-tank AS meletupkan misil ke bangunan-bangunan di kota itu, Fallujah hanya menyisakan puing.
Komando militer AS mengklaim bajwa serangan tersebut menewaskan 2000 orang "perusuh". Walau demikian, jumlah korban yang tewas tidak diketahui. Penduduk sipil yang berdiam di Fallujah turut menjadi korban pengeboman. Sejumlah penduduk ditembak dalam penyusuran dari pintu ke pintu yang dilakukan oleh militer AS pasca pengeboman. Sejumlah penduduk terbunuh ketika mengungsi. Para pejuang yang terluka dieksekusi. Fasilitas medis menjadi sasaran serangan militer. Penduduk yang tersisa di Fallujah tidak mendapatkan makanan, air, dan listrik selama lebih dari 10 hari.
Serangan terhadap kota Fallujah merupakan balasan terhadap kejadian yang menimpa petugas Blackwater. Pada tangal 31 Maret 2004, empat orang AS yang bekerja sebagai petugas Blackwater Security, sebuah kontraktor militer swasta yang kini telah berganti nama menjadi Xe Services, diserang dan dibunuh. Mayat mereka dimutilasi. Gambar mayat-mayat itu disiarkan ke seluruh dunia.
Dipercaya bahwa operasi militer di Marjah memiliki alasan yang sama dengan operasi militer di Fallujah.. Sebagaimana di Fallujah, di Marjah juga terjadi kekerasan yang terus meningkat selama setahun terakhir. AS baru-baru ini terpaksa menanggung malu dengan tewasnya tujuh orang petugas operatif CIA di perbatasan Afghanistan.
Di Afghanistan, militer AS menempuh strategi yang sama sebagaimana yang diaplikasikan di Irak: sikat habis sebuah pusat populasi yang membangkang kepada AS, jadikan pusat populasi itu sebuah contoh bagi seluruh negeri.
Tindakan militer AS yang menimbulkan banjir darah sebenarnya menuai kritik. Untuk membenarkan tindakannya, militer AS menggunakan alasan perjuangan tanpa akhir melawan ":terorisme". Di balik propaganda tersebut, dipercaya bahwa alasan yang sesungguhnya adalah keinginan elit AS untuk mengatasi krisis kapitalisme yang dihadapi AS. Alasan ini berlaku di Afghanistan sebagaimana berlaku di Irak. AS ingin menguasai posisi yang strategis di Teluk Persia dan Asia Tengah, gudangnya persediaan energi dunia.
Setahun yang lalu, ketika Barrack Obama menjadi presiden AS menggantikan George Bush, banyak pihak berharap Obama dapat menutup lembaran hitam dalam sejarah AS. Lembaran itu ternoda oleh kata-kata seperti Fallujah, Abu Ghraib, Guantánamo, Blackwater, dan sebagainya. Dalam pemerintahan Obama, jumlah pasukan AS yang ditempatkan di luar negeri ternyata lebih banyak daripada selama masa pemerintahan Bush. Pembunuhan menyebar dimana-mana, mulai dari Irak dan Afghanistan sampai Pakistan dan Yaman. Demi membiayai dua perang, Obama menyedot dana sebesar $322 juta. Harapan yang sempat ditambatkan kepada Obama pun kini kian menipis. (es/sw/wp) www.suaramedia.com
- Fazal-Ur-Rehman: Jumlah Blackwater Melebihi Polisi Islamabad
- Taliban: Tawaran Hamid Karzai Sia-Sia Dan Lucu
- Mengapa Jepang Danai Pangkalan Militer "Glamour" AS?
- IED Tak Terdeteksi, Senjata Terbaru Taliban Hadapi Penjajah Asing
- Penutupan Molor, Pasukan AS Jadi Sasaran Empuk Taliban














