Serangan terhadap pos penjagaan Keating di distrik Kamdesh, Provinsi Nuristan, merupakan salah satu serangan terberat yang pernah dialami pasukan AS di medan tempur Afghanistan.
Serangan tersebut memperlihatkan betapa bahayanya menempatkan sekelompok kecil pasukan di wilayah jarang penduduk di Afghanistan. Hal tersebut telah dihindari oleh para komandan dalam menyusun strategi baru untuk melindungi wilayah yang lebih padat penduduk.
Proses investigasi terhadap serangan tersebut dipimpin oleh Mayor Jenderal Guy C. Swan III dan didasarkan pada hasil wawancara terhadap 140 orang di sekitar pos penjagaan yang mengetahui perihal serangan tersebut. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa ada 60 orang prajurit yang berjaga dan bertempur di pos tersebut, menewaskan sekitar 150 orang gerilyawan, demikian diklaim dalam laporan tersebut.
Namun, laporan tersebut juga menambahkan bahwa para prajurit tersebut ditugaskan di lokasi yang tidak memiliki nilai strategis. Ditambahkan pula bahwa kemampuan intelijen dan pengintaian, yang boleh jadi akan membantu mereka mencegah terjadinya serangan semacam itu, telah dialihkan kepada sejumlah misi AS lainnya.
Terbatasnya sumber daya manusia, ditambah dengan letak markas yang ada di sebuah jurang dan dikelilingi oleh lereng bukit yang curam, membuat misi yang dibebankan kepada pasukan Bravo, skuadron ketiga, kavaleri 61, tersebut berubah menjadi misi untuk melindungi markas.
Dalam lima bulan pertama setelah ditempatkan di pos penjagaan tersebut, para prajurit telah mengalami 47 kali serangan. Frekuensi serangan tersebut meningkat tiga kali lipat jika dibandingkan dengan unit yang ditugaskan sebelumnya, demikian diungkapkan dalam laporan tersebut. "Akibatnya, AS memutuskan untuk menutup pos jaga tersebut dalam waktu sesegera mungkin."
Akan tetapi, penutupan yang sedianya dijadwalkan antara bulan Juli dan Agustus 2009 tersebut mengalami penundaan karena perlengkapan yang diperlukan untuk mengangkut perlengkapan primer serta melakukan pengintaian dan pengumpulan data intelijen, ditransfer ke sebuah operasi militer lain di Barg-e-Matal untuk mencari prajurit yang hilang di kawasan selatan Afghanistan, demikian ditambahkan dalam laporan tersebut.
"Penundaan penutupan pos penjagaan Keating menjadi hal yang penting, karena hal itu menimbulkan sebuah pola pikir baru yang mempengaruhi perkembangan perlindungan pasukan yang berjaga di pos tersebut," tulis laporan tersebut. "Komando pasukan AS mengambil langkah-langkah yang kurang memadai, akibatnya, markas tersebut menjadi sasaran empuk bagi pasukan musuh."
Dalam laporan tersebut, dikemukakan bahwa para komandan AS seharusnya melakukan hal yang lebih baik guna meningkatkan pertahanan dan melakukan analisis laporan intelijen mengenai rencana serangan besar musuh terhadap markas tersebut. Para komandan skuadron yang bertugas mengawasi pos jaga tersebut telah menerima surat teguran. Para petinggi militer AS mengaku telah mengirimkan surat peringatan kepada komandan brigade yang bertugas.
Surat peringatan tersebut menjadi bagian dari upaya baru para petinggi militer AS untuk meminta pertanggungjawaban para komandan lapangan atas insiden besar yang mengakibatkan personel militer AS terluka atau kehilangan nyawa.
Tanggal 3 Oktober tahun lalu, serangan terhadap prajurit AS diawali pada pukul 5.58 pagi. Berondongan timah panas dan lontaran mortir ditembakkan oleh para gerilyawan dari berbagai penjuru. Pada saat yang sama, pos penjagaan AS lain yang terletak tidak jauh dari lokasi tersebut juga turut diserang, hal itu membatasi upaya serangan balasan dari para prajurit AS.
Pasukan Afghanistan yang membantu penjagaan pos tersebut tidak kuasa bertahan. Para gerilyawan kemudian memasuki markas tersebut di tiga lokasi. Berkat bantuan jet tempur dan helikopter, pasukan AS kembali menguasai keadaan. (dn/bn) www.suaramedia.com
- Bantuan Raksasa Rusia Perkuat Teknologi Militer Sri Lanka
- Fazal-Ur-Rehman: Jumlah Blackwater Melebihi Polisi Islamabad
- Taliban: Tawaran Hamid Karzai Sia-Sia Dan Lucu
- Mengapa Jepang Danai Pangkalan Militer "Glamour" AS?
- IED Tak Terdeteksi, Senjata Terbaru Taliban Hadapi Penjajah Asing














