IED baru yang disebut "Omar" ini dibuat oleh ahli teknis Taliban di Afghanistan dan menghabiskan biaya 85 dolar per alat.
Menurut pernyataan Taliban, EID yang baru ini tidak dapat dideteksi oleh mesin pendeteksi ranjau khusus yang digunakan oleh pasukan asing yang ditugaskan di negara itu karena tidak mengandung bahan logam atau komponen elektronik.
Taliban mengatakan bahwa mereka telah membuat IED baru yang dikendalikan oleh pengendali jarak jauh setelah pasukan AS dan NATO membawa masuk ke Afghanistan perangkat modern khusus yang dapat mendeteksi dan menetralisir IED biasa yang dibuat oleh Taliban.
Taliban mengatakan bahwa IED generasi terbaru ini terbukti efektif dan menjadi senjata mereka yang paling mematikan: tiga dari lima pasukan koalisi yang tewas tahun lalu di Afghanistan adalah korban bom ini. Setidaknya 48 dari 108 tentara Inggris yang terbunuh juga akibat IED.
Chris Hunter, mantan ahli penjinak bom yang bertugas di Irak dan kini menjalankan usaha konsultasinya sendiri, mengatakan bahwa senjata baru itu dibuat dari bahan kayu di Pakistan.
"Keahlian untuk bom generasi baru ini kemungkinan berasal dari pejuang asing yang datang dari tempat-tempat seperti Chechnya," ujarnya. "Namun mereka diproduksi secara massal di Pakistan dan didorong keluar pada tingkat industrial. Kau dapat melihatnya di mana-mana."
Di awal perang, IED akan seringkali dipicu oleh dua bilah gergaji terpisah menggunakan sebuah pengatur jarak. Ketika bilah itu diinjak atau dilindas, keduanya akan menimbulkan korsleting yang akan memicu ledakan – seringkali sebuah peluru artileri.
Hunter menambahkan bahwa bilah gergaji logam itu kini telah diganti dengan bilah grafit dan peluru artileri dengan nitrat amonium. Kerusakan yang muncul lebih diakibatkan oleh kekuatan ledakan daripada pecahan logam.
Jumlah IED yang digunakan di Afghanistan meningkat 400% sejak tahun 2007 dan jumlah pasukan yang terbunuh oleh perangkat ini sekitar 400%, dan yang terluka 700%, menurut sebuah laporan dari Penelitian Pasar Keamanan Dalam Negeri AS.
Salah seorang komandan brigade yang ditempatkan di Afghanistan mengatakan bahwa anjing pelacak adalah yang paling dapat diandalkan untuk mendeteksi IED, namun metode ini memakan waktu lama dan membutuhkan banyak anjing. Konvoi pun harus berjalan dengan sangat lambat sementara jalanan di depan diperiksa untuk ledakan.
Laporan tersebut datang saat AS berjanji pada hari Jumat untuk menyediakan kendaraan lapis baja, radar penembus tanah, dan peralatan lainnya bagi sekutu NATO untuk membantu melindungi pasukan mereka di Afghanistan dari bom jalanan yang semakin banyak.
"Hari ini saya memberitahu sekutu kita bahwa AS akan memberikan mereka lebih banyak intelijen, pelatihan, dan peralatan, termasuk pengacak sinyal, robot pembersih jalan, sistem pengintaian, dan radar penembus tanah," ujar Menteri Pertahanan AS Robert Gates dalam sebuah konferensi pers setelah pertemuan antar negara-negara NATO di Istanbul.
IED adalah pembunuh utama prajurit asing di Afghanistan. Lebih dari 500 prajurit asing pimpinan AS terbunuh di negara itu di tahun 2009, termasuk lebih dari 310 prajurit AS.
Laporan lain yang dirilis pada tanggal 2 Februari 2010 mengungkapkan bahwa bagi pasukan Inggris yang bertugas di Afghanistan, senjata berteknologi tinggi tidak menjadi masalah, namun IED Taliban-lah yang banyak menghilangkan nyawa pasukan mereka.
IED telah menjadi musuh paling mematikan bagi pasukan Inggris di Afghanistan. Musim panas lalu, mereka menghadapi ribuan insiden dalam satu bulan.
"Meskipun Taliban masih bertempur dengan senjata-senjata kecil, granat berpendorong roket dan IED, mereka telah semakin memfokuskan peran IED sebagai peralatan anti-personel," bunyi laporan tersebut. (rin/pv/id) www.suaramedia.com
- Khawatir Invasi "Alien", China Tarik Avatar Dari Peredaran
- Bantuan Raksasa Rusia Perkuat Teknologi Militer Sri Lanka
- Fazal-Ur-Rehman: Jumlah Blackwater Melebihi Polisi Islamabad
- Taliban: Tawaran Hamid Karzai Sia-Sia Dan Lucu
- Mengapa Jepang Danai Pangkalan Militer "Glamour" AS?














