Namun, meski meraup kesuksesan luar biasa di China, film tersebut tetap menyisakan masalah. Otoritas setempat memutuskan untuk menarik peredaran versi dua dimensi Avatar dari bioskop-bioskop. Film tersebut ditarik untuk "memberikan jalan" bagi film buatan China mengenai kehidupan Konfusius.
Timbul pertanyaan menggelitik, mengapa pemerintah China memutuskan untuk melakukan hal tersebut?
Ada bagian dalam Avatar yang – tidak diragukan lagi – dibuat dengan tujuan untuk mempromosikan produk-produk budaya AS untuk menyingkirkan kompetitor asing.
Tapi itu bukan satu-satunya hal yang dipermasalahkan, khususnya ketika ada banyak warga China yang memuji revolusi kreatif yang dihadirkan oleh film tersebut. Munculnya revolusi yang lebih tenang dan halus tersebut membuat gerah pemerintah China.
Dari sudut pandang warga AS, Avatar mengisahkan mengenai eksploitasi, militerisme, dan pemerliharaan lingkungan. Tapi, di mata warga China, Avatar adalah sebuah film berisi peringatan terhadap bentuk-bentuk ketidakadilan sosial dan ekonomi, sebuah hal yang jamak dijumpai di China. Bagi sebagian besar komunitas blogger China, Avatar adalah sebuah fabel yang mengisahkan mengenai para pejabat China yang tidak punya etika dan mengusir paksa para penduduk dengan dalih melakukan pengembangan daerah.
"Pengembangan properti dengan tangan besi" menjadi sebuah isu panas bagi Beijing. Karena gelombang urbanisasi dan ketiadaan hak-hak properti, para penduduk kota serngkali diusir paksa dari kediaman masing-masing dengan kompensasi yang amat kecil, atau bahkan tidak ada sama sekali. Bangunan-bangunan mewah kemudian didirikan di atas "tanah kosong" tersebut.
Para penegak hukum kota, yang dikenal dengan sebutan chengguan, seringkali bersekongkol dengan para pengembang properti setempat, mereka menerbitkan izin setelah menerima suap.
Dengan dukungan aparat keamanan, para pengembang kemudian memaksa penduduk untuk mengosongkan bangunan jika tidak ingin ditendang keluar secara paksa. Terkadang, hal tersebut berujung pada peristiwa tragis. Misalnya, seorang wanita di Chengdu lebih memilih bakar diri daripada diusir. Ada pula seorang pria lanjut usia yang mengancam terjun dari atap jika diusir paksa, namun seorang anggota chengguan justru berkata, "Naik saja langsung ke lantai teratas. Jangan lompat dari lantai satu atau dua."
Ditambah dengan sikap keras kepala aparat kecil yang diberikan kekuasaan absolut, amuk massa akibat tindakan-tindakan semacam itu tak terbendung lagi. Dalam beberapa tahun terakhir, ada sejumlah pihak yang berusaha menarik perhatian nasional terhadap permasalahan tersebut melalui gambar-gambar rumah paku (dingzihu, sebuah istilah baru China untuk menyebut kediaman milik penduduk yang menolak memberikan tanah untuk kepentingan pengembangan. Istilah tersebut dipopulerkan oleh para pengembang properti, merujuk pada paku yang menancap di kayu dan tidak bisa diratakan dengan martil).
Rumah-rumah tersebut tetap berdiri karena para pemilik menolak untuk menyerah dan lebih memilih untuk terus melawan pihak pengembang. Di berbagai blog China, sejumlah komentar menyebut rumah pohon alien Navi di planet Pandora tidak jauh berbeda dengan sebuah rumah paku, dan tentara yang menyerbu sama seperti chengguan.
Dengan dibumbui sarkasme, reaksi para blogger terhadap Avatar – yang dipandang dalam sudut pandang kesewenangan aparat China – betul-betul terlihat jelas. "Manusia gagal melakukan pengusiran (terhadap para alien)? Betul-betul memalukan. Mengapa tidak segera mengirimkan chengguan China saja?" tulis seorang blogger. Ada pula yang menulis, "Para aparat penghancur China harus menuntut (James) Cameron karena pembajakan, pelanggaran hak cipta!"
Komentar-komentar semacam itu menyebar dengan pesat di dunia maya. Pemerintah China menjadi semakin resah dan tersudutkan dengan opini publik yang beredar luas di internet.
Tidak dapat dibantah, korupsi berperan dalam sebagian besar kesepakatan dengan pihak pengembang. Pubik kemudian menyalahkan ketidakbecusan pemerintah pusat untuk memberantas korupsi, seperti yang pernah dijanjikan. Meski kemarahan publik umumnya ditujukan pada aparat setempat, para pemimpin tidak akan mengambil risiko yang tidak perlu. Hal-hal kecil lebih menimbulkan rasa khawatir pemerintah dibandingkan dengan hilangnya kendali pemerintah terhadap pesan-pesan semacam itu, dan Avatar sangat populer. Pemerintah kemudian memutuskan untuk memanfaatkan figur bijaksana, Konfusius. (dn/np) www.suaramedia.com
- Insiden Toko Roti Halangi Pembicaraan Damai Pakistan - India
- Kesaksian Afghan Buktikan Kekerasan AS Dalam Pesta Kelahiran
- AS Sebarkan Lebih Banyak Pusat Pelatihan Di Pakistan
- Peringati Kematian Tokoh Muslim, Kashmir Lumpuh
- Uji Coba Nuklir Berradius 5000 km India Sulut Ketegangan














