Sabtu, 04 Pebruari 2012

Headlines:

Jutaan Dolar Gagal Luruskan Arah Bidikan Polisi Afghanistan

E-mail Cetak PDF

KABUL (Berita SuaraMedia) – Meski dana bernilai lebih dari $6 juta telah dikucurkan untuk melatih polisi Afghanistan, hasil yang ditunjukkan tidak memuaskan, utamanya terkait cara membidikkan senapan AK-47 sebelum menarik pelatuk.

Para kontraktor yang dipekerjakan pemerintah AS bertanggung jawab atas sebagian besar pelatihan polisi Afghanistan, namun dalam rapat dengar pendapat dan perkiraan Badan Audit dan Pengawas Militer AS (GAO), ditemukan bahwa kontrak-kotrak tersebut dipenuhi oleh kesalahan, demikian menurut surat kabar McClatchy.

Jawabannya menjadi jelas awal tahun ini, kontraktor Italia yang juga membantu melatih para sukarelawan Afghanistan mengatakan bahwa cara mereka membidik senapan AK-47 dan M-16 tidak benar.

"Kita membayar orang-orang untuk mengajari (polisi Afghanistan) cara menembakkan senjata, tapi tidak ada yang memeriksa arah bidikan mereka?" kata Senator Demokrat Claire McCaskill dari Missouri, setelah menghubungkan hal itu dalam sebuah rapat dengar pendapat pada hari Kamis lalu.

Menurut McCaskill, yang mengepalai tim pengawas kontrak di Senat AS, hal itu memperlihatkan bahwa meski dana $6 juta telah digelontorkan untuk membayar kontraktor swasta, namun program pelatihan polisi masih banyak bermasalah.

"(Kontrak itu) tidak bisa dipercaya, kontrak yang tidak kompeten," katanya. "Selama delapan tahun kita seharusnya melatih polisi Afghanistan. Kita telah membuang uang $6 juta."

McCaskill mengetahui hal tersebut dari majalah Newsweek yang mengupas mengenai program pelatihan $6 juta tersebut.

Seorang juru bicara DynCorp International, Inc., yang mendapatkan kontrak pelatihan tersebut, membantah kabar itu. Jason Rossbach, nama sang juru bicara, mengatakan bahwa mereka telah memberikan latihan penggunaan senapan dan pistol dari berbagai jarak dan posisi tubuh kepada para polisi rekrutan.

"Langkah pertama dalam bekerja dengan AK-47 adalah program dasar, membidikkan senjata untuk memastikan akurasi," katanya. "Jika bermasalah, maka mereka mengulangnya. Jika senjata itu tidak layak, maka senjata itu disingkirkan."

Yang mejadi isu paling menekan adalah, kontrak untuk program tersebut telah ditelantarkan. Bulan lalu, GAO mencegah Angkatan Darat memberikan kontrak pelatihan polisi senilai $1 miliar. Di antara para penawar, ada nama Xe Services, perusahaan yang dulu dikenal dengan nama Blackwater dan punya catatan yang bermasalah.

Auditor GAO mengatakan bahwa Angkatan Darat secara tidak adil mengabaikan penawar lainnya dan tunduk pada protes DynCorp International Inc. DynCorp mendapatkan kontrak pelatihan senilai $1,2 miliar dari Departemen Luar Negeri.

Memperbaiki dan mengembangkan 90.000 orang personel Polisi Nasional Afghanistan untuk menjaga stabilitas dan melindungi masyarakat adalah hal yang penting dalam rencana pemerintahan Obama untuk memulai penarikan militer AS pada bulan Juli 2011.

Selain di Afghanistan, para personel Dyncorp juga merambah Pakistan dan menimbulkan kontroversi. Kehadiran para personel Dyncorp tidak diketahui di Pakistan, hingga sejumlah personel Dyncorp melanggar hukum Pakistan, tertangkap mata menenteng senjata di hadapan publik, menganiaya para penduduk Pakistan dan dibiarkan lolos oleh Kementerian Dalam Negeri.

Kehebohan tesebut membuka kembali catatan Dyncorp dan Blackwater, kontraktor militer AS, yang dicurigai memiliki hubungan. Kegiatan Blackwater di Irak, Afghanistan, dan Pakistan terbukti sangat meresahkan.

Blackwater tak lama lalu kembali terseret skandal penimbunan dan mengubah senjata dan telah memalsukan formulir pendaftaran dalam upaya memperoleh keunggulan atas para pesaing sehingga memperoleh keuntungan dalam memperoleh dan mempertahankan kontrak pemerintah.

Kasus tersebut menyeret beberapa pejabat Blackwater, termasuk sang pimpinan ke gerbang hukum.

Perusahaan itu dilarang di Irak karena pengawalnya diduga melepaskan tembakan ke arah warga sipil yang tak berdosa, kendati pengadilan AS membebaskan pegawai perusahaan tersebut dari semua tuntutan pidana.

Dalam satu kasus, terdakwa diduga memasang senapan laras pendek pada apa yang mestinya adalah senapan laras panjang "guna memudahkan perusahaan melaksanakan kontrak layanan perlindungan di Irak dan Afghanistan, karena perusahaan tersebut percaya senjata itu lebih dapat disesuaikan untuk digunakan di dalam kendaraan dan bangunan". Total Biaya Perang AS Perdetik (dn/hp/mc/sm) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon