Meski Amerika Serikat, Uni Eropa dan China menyebut Roza Otunbayeva dengan julukan pemimpin oposisi, Rusia menjadi negara pertama yang langsung mengakui pemerintahan baru Bishkek.
Perdana Menteri Vladimir Putin langsung menawarkan bantuan dana dari Rusia kepada pemerintahan baru Kyrgyzstan, bantuan darurat senilai lebih dari $50 juta. Almazbek Atambayev, deputi kepala pemerintahan sementara Kyrgyzstan, terbang ke Moskow pada hari penggulingan Bakiyev di Bishkek.
Ada lebih dari satu hal yang membuat Moskow menyimpan dendam terhadap Bakiyev. Bakiyev tidak memenuhi janji menutup pangkalan militer AS di Manas dan menyalahi kesepakatan yang ia tandatangani dengan Medvedev tahun lalu untuk mendirikan sebuah pusat pelatihan di Kyrgyzstan untuk Collective Security Treaty Organization (CSTO). Selain itu, Bakiyev dan orang-orangnya dilaporkan telah menggelapkan dana bantuan ratusan miliar dolar yang diberikan Rusia dan menyita aset-aset di perusahaan besar Rusia yang beroperasi di negara tersebut.
Kremlin pernah menjalin hubungan dekat dengan para pemimpin oposisi sebelum peristiwa penggulingan terjadi. Rusia juga diam-diam mendukung kampanye oposisi untuk menggulingkan Bakiyev. Strategi Kremlin adalah untuk perlahan-lahan membangun tekanan dari dalam negeri kepada Bakiyev dan mengatur protes parlemen untuk memaksa ia mengundurkan diri. Namun, serangkaian keputusan buru-buru dan tidak terkoordinir dari kelompok oposisi yang menggelar unjuk rasa massal di kota-kota Kyrgyzstan mengambil alih rencana Kremlin.
Unjuk rasa tersebut memaksa bandara di ibu kota Bishkek ditutup selama sekitar 12 jam. Bandara tersebut bertempat di lahan yang sama dengan pangkalan udara AS yang dikenal dengan sebutan Pusat Transit di Manas. Karena ada gangguan, sejumlah pesawat kargo terpaksa menghindari pangkalan tersebut.
Pada tanggal 7 April lalu, Presiden Kurmanbek Bakiyev dikabarkan bertolak dari ibu kota dengan menumpang pesawat kepresidenan, namun masih belum jelas apakah sang presiden melarikan diri ke luar negeri atau hanya keluar kota. Kepemimpinan Bakiyev tengah dipertanyakan, dan hal itu dapat menimbulkan pengaruh langsung terhadap operasi militer AS di Manas.
AS mencapai kata sepakat dan menandatangani perjanjian dengan Bakiyev musim panas lalu, kesepakatan tersebut memungkinkan AS terus menggunakan pangkalan udara yang dimaksud. Pada awal kesepakatan, Bakiyev mulanya menginginkan AS meninggalkan pangkalan tersebut namun kemudian ia memulai negosiasi intens, membahas mengenai jumlah uang sewa yang bersedia dibayarkan AS untuk tetap dapat menggunakan pangkalan udara tersebut.
Moskow langsung memberikan dukungan publik kepada Roza Otunbayeva, pemimpin sementara pemerintahan Kyrgyzstan, bertentangan dengan kecilnya keabsahan internasional untuk mengonsolidasikan kekuatan. Rusia kemudian membantu pemerintahan baru Bishkek dengan cara paling baik untuk melakukan alih kekuasaan kepada pemerintahan sementara, serta menekan Bakiyev agar mengundurkan diri dan pergi ke pengasingan di Kazakhstan.
Presiden Dmitry Medvedev bekerja sama dengan Presiden AS Barack Obama dan mengembangkan sebuah hal yang tampak seperti respons internasional bersama terkait peristiwa di Kyrgyzstan. Tidak tepat jika dikatakan bahwa Kremlin mendadak ingin memperkenalkan demokrasi di Asia Tengah. Namun, revolusi Kyrgyzstan memperlihatkan bahwa perubahan rezim demokratis kini menjadi alat yang efektif bagi Moskow.
Pada hari Sabtu (17/4), pemerintahan temporer Roza Otunbayeva sedang menyusun konstitusi baru untuk membentuk demokrasi parlementer di negara Asia Tengah itu.
"Kami sepakat dengan sistem republik parlementer dan sekarang kami memiliki kelompok kerja yang sedang menyusun sebuah konstitusi," ujar Otunbayeva kepada wartawan di Washington dan kota-kota lain via telekonferensi dari Bishkek.
Otunbayeva, yang menjadi pemimpin bulan ini setelah kudeta yang menggulingkan Presiden Kurmanbek Bakiyev, mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah dirinya akan mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilu yang diharapkan berlangsung enam bulan lagi.
"Kami belum memutuskan. Sejauh ini saya sendiri tidak tahu," ujar Otunbayeva, seraya menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan dasar seperti bagaimana presiden akan dipilih masih dikerjakan.
"Saya ingin menjadi seorang juru damai," ujar Otunbayeva dalam bahasa Inggris. "Kami tidak memiliki partai-partai besar yang kuat, tapi ketiga partai ini yang menjadi kekuatan utama dari pemerintahan interim kami. Jika kami tidak bersama-sama maka kami akan kehilangan semua taruhannya." (dn/mt/sm) www.suaramedia.com
- "AS – Intelijen India Penyebab Bom Bunuh Diri Pakistan"
- AS Cari Cara Jadikan India "Mitra" Dalam Misi Afghanistan
- Buku Terlarang Hitler, Ditolak Dunia Disambut India
- Taliban Sukses Rebut Lembah Kematian Dari Tangan AS
- Ancam Tentara Inggris, Jerman Bergabung Dengan Taliban














