Klip video berdurasi setengah jam tersebut memperlihatkan orang-orang yang direkrut oleh pasukan militer Deutsche Taliban Mujahideen (Mujahidin Taliban Jerman).
Salah satunya diidentifikasi sebagai Eric Breininger, 24, seorang muallaf yang berasal dari Neunkirchen, sebelah barat Jerman.
Rekaman tersebut bukan yang pertama kalinya memperlihatkan peranan Jerman dalam gerakan Islam.
Dua orang muallaf Jerman dikaitkan dengan sebuah plot pengeboman di Bandara Frankfurt pada tahun 2007 lalu.
Pakar terorisme Neil Doyle mengatakan, "Diyakini bahwa ada jalur perekrutan di dalam komunitas Turki di Jerman yang berfungsi menyalurkan orang-orang yang direkrut ke Pakistan dan tempat lainnya.
Tahun 2009 lalu, kelompok Mujahidin Taliban Jerman merilis sebuah video yang menampakkan pelatihan pejuang asing dalam menggunakan senjata dan di tengah salju. Video tersebut memperlihatkan Abu Ibrahim Amriki, seorang pejuang asal AS yang beroperasi di Pakistan, dan juru bicaranya, Ayyub Almani. Video tersebut tampaknya dikeluarkan oleh Islamic Jihad Union (persatuan jihad Islam), sebuah cabang dari gerakan Islam di Uzbekistan.
Di Pakistan, terdapat sebuah "desa Jerman yang sebagian beranggotakan para muallaf asal Jerman.
Dalam tayangan video itu, kehidupan di desa tersebut digambarkan sebagai pilihan gaya hidup idaman, dengan sekolah-sekolah, rumah sakit, apotek dan pusat penitipan anak dalam jarak yang aman dari front pertempuran.
Dalam video tersebut, Abu Adam, juru bicara kelompok tersebut di Jerman, menudingkan telunjuknya dan bertanya: "Tidakkah ini menarik perhatian Anda? Dengan hangat, kami mengundang Anda semua untuk bergabung dengan kami."
Video tersebut menunjukkan gubuk yang didirikan dengan latar belakang hijau subur dan formasi batu karang terjal, dengan wanita yang terlihat mengenakan burqa biru dikelilingi oleh anak-anak, kata surat kabar tersebut.
Menurut para pejabat Kementerian Luar Negeri Jerman, jumlah keluarga Jerman yang mengambil tawaran itu dan pergi ke Waziristan semakin banyak, kebanyakan merupakan keturunan Afrika Utara. Para pendukung kelompok itu mengatakan para muallaf merupakan sebagian pejuang yang paling berdedikasi.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan pada Kantor Berita The Daily Telegraph bahwa mereka bernegosiasi dengan Pakistan untuk membebaskan enam warga negara Jerman, termasuk "Adrian M", seorang muallaf kulit putih, istrinya yang berasal dari Eritrea, dan putri mereka yang berusia empat tahun, mereka ditahan saat hendak menuju "desa Jerman". Pemerintah Jerman khususnya mengkhawatirkan nasib anak tersebut.
Mereka ditahan di Peshawar setelah ditangkap pada bulan Mei tahun lalu, sesaat sebelum melintasi perbatasan dari Iran. Mereka diyakini meninggalkan Jerman bulan Maret tahun lalu.
Juru bicara tersebut mengatakan bahwa negosiasi dengan pemerintah Pakistan "tengah berlangsung" menyangkut nasib sekelompok warga negara Jerman. Pemerintah Jerman juga meengetahui bahwa Gerakan Islam Uzbekistan melakukan perekrutan di Jerman sejak awal tahun lalu.
Perekrutan tersebut dipimpin oleh Abu Adam, pemuda Jerman berusia 24 tahun yang diyakini berdarah Turki atau Afrika Utara dan dibesarkan bersama dengan rekan seperjuangannya, Abu Ibrahim, di Kessenich, daerah pinggiran kota Bonn.
Mereka bertemu satu sama lain di Masjid Bonn, meninggalkan Jerman dalam beberapa kelompok-kelompok kecil di bulan Maret dan April. "Mereka melakukan perjalanan melalui Turki ke kota Iran Zahedan. Terletak dekat perbatasan dengan Pakistan, Zahedan yang terkenal dengan wisata jihadnya, bahkan seluruh ruangan hotel menyisihkan jatah untuk orang asing yang meneruskan jalan mereka ke kota," kata laporan dalam surat kabar Jerman Speigel. "Dari Zahedan, mereka naik taksi ke Pakistan. Meskipun, untuk kelompok Jerman tersebut, di situlah masalah dimulai. Setelah menyeberangi perbatasan, kelompok itu ditangkap oleh polisi dan dibawa ke sebuah penjara di Peshawar."
Adam, yang bernama asli Mounir Chouka, dilatih menggunakan senjata oleh pasukan Jerman saat mengikuti wajib militer, ia kemudian menghabiskan waktu tiga tahun berlatih di Kantor Statistik Federal.
Dia pergi pada tahun 2007. Kepada rekan-rekannya, ia mengaku bergabung dengan sebuah perusahaan perdagangan di Arab Saudi, namun ia diyakini pergi ke Yaman untuk mengikuti kamp pelatihan. (dn/ts/lj/tg) www.suaramedia.com














