Rabu, 23 Mei 2012

Headlines:

"AS – Intelijen India Penyebab Bom Bunuh Diri Pakistan"

E-mail Cetak PDF

PESHAWAR (Berita SuaraMedia) – Seorang politisi Islam dari sebuah partai yang kehilangan beberapa anggota dalam sebuah serangan bunuh diri menyalahkan hubungan yang dijalin Pakistan dengan AS atas kekerasan tersebut. Ia juga mendesak Islamabad agar menghentikan partisipasi dalam "perang melawan teror".

Komentar yang diucapkan hari Selasa tersebut menunjukkan betapa dalamnya sentimen anti-Amerika di Pakistan. AS menganggap dukungan dari Pakistan sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas negara tetangganya, Afghanistan. Dalam tiga tahun terakhir, serangan di Pakistan telah menewaskan lebih dari 70 orang dalam gelombang kekerasan baru yang melanda negara tersebut.

Sebuah bom remote control yang meledak hari Selasa menghantam rombongan Angkatan Darat yang tengah bergerak di distrik Dangu, dekat perbatasan Afghanistan, menewaskan tiga orang prajurit Pakistan dan seorang warga sipil, kata Farid Khan, seorang opsir polisi. Rombongan tersebut membawa jenazah seorang prajurit yang tewas hari Senin lalu dalam serangan bom bunuh diri di kota Peshawar, sebelah barat laut Pakistan.

Dalam serangan tersebut, seorang pengebom bunuh diri menyerang arak-arakan partai Jamaat-e-Islami, tampaknya menarget polisi yang mengawasi perkumpulan kelompok pro-Taliban tersebut. Sebagian besar dari 24 korban tewas maupun 45 orang yang terluka merupakan loyalis partai, sementara dua orang lainnya adalah polisi, kata opsir polisi Khan Abbas pada hari Selasa.

Meski ada sebagian pihak yang menyalahkan Taliban setelah serangan tersebut, sang pemimpin partai Islam tersebut tidak melakukan hal yang serupa, ia justru menuding CIA atau intelijen India yang mendalangi serangan itu.

"(Serangan) itu terjadi karena kami telah membawa masuk perang Amerika ke negara kami sendiri," kata Sirajul Haq, seorang pemimpin partai tingkat provinsi, di Peshawar pada hari Selasa setelah menghadiri pemakaman sebagian korban. "Tetap saja, masih ada waktu untuk mengakhiri aliansi dengan Amerika untuk menghindarkan pertumpahan darah lebih lanjut.

Tidak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan banyak warga Pakistan tersebut.

Sebelumnya, pada hari Senin, sebuah bom meledak di luar gedung sekolah milik sebuah yayasan kesejahteraan polisi, menewaskan seorang anak laki-laki dan melukai 10 orang lainnya. Dan sepanjang akhir pekan lalu, beberapa bom meledak di kawasan Kohat, sebelah barat laut Pakistan, dan menewaskan hampir 50 orang.

Gerilyawan Taliban dan al-Qaeda yang berbasis di kawasan perbatasan Pakistan – yang memerangi polisi dan tentara Pakistan – melancarkan ratusan serangan dalam tiga tahun terakhir. Mereka umumnya menarget pasukan keamanan, pejabat pemerintahan dan para pendukung mereka.

Peshawar, ibu kota provinsi barat laut, menjadi salah satu kota yang paling terguncang karena berdekatan dengan wilayah perbatasan.

Sementara itu, pasukan Pakistan mengumumkan pemberian kompensasi sebesar 20 juta rupee ($237.897) kepada para keluarga warga sipil yang terbunuh dalam serangan udara pasukan asing di kawasan barat laut satu minggu lalu.

Militer Pakistan juga akan menanggung seluruh biaya pengobatan warga sipil yang terluka dalam serangan tersebut.

Militer Pakistan belum mengumumkan ada berapa orang yang tewas dalam serangan udara tersebut, namun para pejabat pemerintahan daerah dan saksi mata mengatakan bahwa ada lebih dari 60 orang yang tewas. Kepala militer Pakistan telah meminta maaf atas kematian warga tersebut.

Serangan Pakistan itu menegaskan kesulitan yang dihadapi AS dan sekutunya dalam memerangi kelompok militan yang membaur dengan warga sipil tak bersalah, sembari bergulat dengan intelijen yang buruk dan berusaha untuk memenangkan dukungan politik dan masyarakat.

Jenderal Angkatan Darat Stanley McChrystal, komandan militer AS di Afghanistan, telah menjadikan penurunan korban sipil sebagai prioritas, namun rakyat Afghan semakin digusarkan dengan kematian warga sipil.

Pada hari Senin (12/4), pasukan Amerika menembaki sebuah bus, membunuh setidaknya empat warga sipil dan melukai 18 lainnya di provinsi Kandahar. Serangan itu memicu kecaman-kecaman "Matilah Amerika!" dan "Mati kau orang kafir!" oleh para penduduk setempat.

Di Pakistan, pembunuhan tak disengaja terhadap orang-orang yang tak bersalah dan evakuasi paksa para penduduk dari rumah mereka untuk menyelamatkan diri dari pengeboman mengancam kampanye untuk memenangkan hati rakyat di daerah perbatasan Afghanistan, yang kebanyakan adalah pendukung Taliban Pakistan. (dn/ap/sm) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon