Dalam sebuah pertemuan antara duta besar dan perwakilan Rusia untuk lembaga internasional yang dihelat di Moskow, Avetisyan berujar, "Rusia telah berulang kali menekankan bahwa kami siap memasok perlengkapan dan kelengkapan militer di Afghanistan."
"(Pemerintah) Afghanistan tahu dan memahami perlengkapan militer buatan Rusia dan menginginkan pengembangan dan pembaruan persenjataan buatan Rusia," tambahnya.
Avetisyan menegaskan, Rusia siap bekerja sama dengan NATO dalam hal pengiriman pasokan senjata ke Afghanistan.
Menurut keterangan para diplomat, pemerintah Afghanistan menyukai senjata buatan Rusia dan tertarik mendatangkannya.
"Jadi, kami siap bekerja sama dengan Afghanistan dan NATO dalam hal ini," kata Avetisyan. Ia mencatat bahwa hingga saat ini jumlah pasokan yang telah dikirimkan tidak signifikan.
Para perwakilan Rusia bertemu untuk membahas mengenai modernisasi dan perlindungan terhadap kepentingan nasional, demikian dilaporkan oleh kantor berita Interfax.
Pernyataan tersebut seakan membalikkan keputusan Rusia yang memutuskan tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer di Afghanistan dalam keadaan apa pun seperti yang dijelaskan utusan Rusia untuk NATO, Dmitry Rogozin.
"Sudah menjadi prinsip kami untuk tidak ambil bagian dalam fase militer di Afghanistan, kami tidak akan mengirimkan prajurit ke sana dalam keadaan apa pun," kata Rogozin kepada radio Ekho Moskvy.
Januari lalu, Rusia menegaskan kesiapan mereka membantu merekonstruksi Afghanistan jika Barat bersedia mendanai upaya tersebut, kata seorang utusan NATO sebagaimana dikutip situs berita bisnis Rusia Kommersant.
Kommersant mengutip ucapan Dmitry Rogozin yang mengatakan bahwa Rusia bisa memulihkan lebih dari 140 fasilitas industri dan infrastruktir yang dulu dibangun Uni Soviet di Afghanistan.
"Kami menganggap proyek konstruksi sipil adalah cara yang paling efektif untuk memerangi pemberontak. Cara ini memberikan kesempatan kepada penduduk Afghanistan untuk mengembangkan ekonomi independen yang normal," kata Rogozin.
Ia juga meminta negara-negara "yang punya banyak uang dan ingin membantu Afghanistan, tapi tidak bisa mengirimkan pasukan" agar mendanai proses rekonstruksi di negara tersebut.
Uni Soviet mengirimkan sejumlah insinyur untuk membantu Afghanistan membangun pembangkit listrik, jalan raya, sambungan listrik, dan juga jaringan pipa gas dan minyak antara tahun 1952 dan 1988 dengan dana yang berasal dari pemerintah Uni Soviet, kata Kommersant.
Hasil investigasi surat kabar The Independent pada edisi Minggu mengungkapkan bahwa Taliban berhasil melakukan penetrasi dan melemahkan militer Afghanistan. Hal itu mengganjal upaya pelatihan yang dilakukan agar pasukan asing bisa keluar dari Afghanistan.
Upaya untuk melatih tentara dan polisi tersebut telah menelan dana jutaan dolar untuk membangun kekuatan pasukan.
Namun, ternyata hanya seperempat anggota militer dan tujuh unit polisi yang dianggap mampu melaksanakan operasi sendiri.
Sementara itu Menteri Dalam Negeri Pakistan Rehman Malik mengatakan bahwa pasukan Afghanistan dan NATO kurang terlibat dalam upaya mencegah Taliban menyeberangi perbatasan Afghanistan menuju Pakistan.
Ia membantah laporan yang menyebutkan bahwa anggota Taliban di Pakistan melintasi perbatasan dan berperang di Afghanistan. (dn/im/xh) www.suaramedia.com
- Hadapi Taliban, AS Pelajari Perang Dunia - Vietnam
- Picu Kehebohan, Tere Bin Laden Dicekal di Pakistan
- Rasmussen: Penarikan Pasukan Dari Afghanistan Bahayakan NATO
- Meningkatnya Pembelot Tentara Korea Utara Khawatirkan Perang
- Lakukan Kunjungan Rahasia, Petraeus Bujuk Pakistan Perangi Taliban














