Pemandangan dari pintu sebuah helikopter angkut Marinir AS yang terbuka memperlihatkan seperti apa akibat bencana banjir yang tanpa ampun melanda sebuah desa kecil di pegunungan Pakistan.
Tiang-tiang listrik nyaris bertumbangan, genting hotel yang terlepas tampak mengapung di dekat aliran deras Sungai Swat. Banyak bagian jembatan yang tersapu air. Jika dilihat sepintas lalu, yang tampak tersisa hanya kerangka dinding beton.
Begitu helikopter mendarat, tampak banyak warga Pakistan dengan wajah lelah dan tanpa ekspresi, sebagian di antaranya hanya membawa pakaian apa pun yang mampu diselamatkan dari bencana di dalam tas-tas plastik kecil, dengan putus asa menunggu giliran mereka diangkut.
Saat AS melaksanakan misi penyelamatan dan mengucurkan dana jutaan dolar untuk bencana banjir Pakistan, Washington berharap bahwa bantuan itu akan mengikis kebencian dan rasa tidak percaya yang banyak dipendam warga Pakistan terhadap AS.
Meski AS dan Pakistan tetap menjadi sekutu dalam kampanye "perang melawan terorisme", rakyat Pakistan memang telah sejak lama memandang AS sebagai negara tukang eksploitasi yang lebih tertarik mengambil alih negara mereka ketimbang melestarikan kemakmuran Pakistan.
Bencana banjir tersebut dianggap sebagai peluang langka bagi AS untuk menopang persekutuan yang penting yang menggeser fokus bantuan AS dari militer Pakistan kepada ekonomi dan infrastruktur negara tersebut.
Sejauh ini, AS telah memberikan bantuan $87 juta, dan Senator John F. Kerry (perwakilan Demokrat dari Massachusetts) yang berkunjung ke Pakistan Kamis (19/8) lalu menegaskan bahwa Washington akan menambah bantuan itu menjadi $150 juta.
Bantuan banjir yang ditawarkan AS kepada Pakistan merupakan yang paling besar jika dibandingkan dengan negara lain. Negara-negara sesama Muslim tidak bergerak cepat, salah satu surat kabar Pakistan menyebut keengganan itu mengejutkan. Sementara itu, Pakistan menampakkan keputusasaan saat akhirnya memutuskan menerima bantuan banjir sebesar $5 juta dari negara tetangga sekaligus rivalnya, India.
Sebagian besar bantuan dari AS sejauh ini dipusatkan ke kawasan barat laut, khususnya di Lembah Swat, sebuah kawasan yang direbut Pakistan dari kendali Taliban setahun lalu yang akhirnya justru dilanda bencana banjir.
Di Kalam, helikopter angkut CH-53 milik AS mendarat sebanyak delapan kali sehari di sebuah lapangan di tengah hutan untuk menjemput para penduduk yang terdampar. Bahkan pada suatu pagi baru-baru ini, helikopter itu dijejali 70 orang yang duduk saling berpunggungan di atas karung-karung tepung. Mereka membawa apa saja yang bisa mereka selamatkan. Permadani, barang-barang, wadah, dan pakaian dijejalkan dalam tas-tas plastik kecil.
"Kinerja AS cukup baik di sini," kata Muhammad Din (27) yang menggendong putranya di lengannya. "Hal ini semestinya mengubah pandangan masyarakat di sini tentang Amerika."
Desa yang terletak di punggung bukit dari bagian atas Lembah Swat tersebut berupaya mengembalikan statusnya sebagai tujuan wisata utama bagi warga kelas menengah Pakistan. Tapi, kemudian banjir menerjang, membuat Kalam menjadi sebuah pulau, tak punya listrik, air bersih, dan tanpa pasokan makanan serta obat-obatan.
Helikopter militer AS yang membawa keluar sekitar 940 warga dari Kalam per harinya juga membawa masuk sekitar 44 ton tepung, minyak goreng, teh, dan berbagai barang kebutuhan lain untuk warga yang masih ada di sana.
Delapan helikopter angkut Marinir dipergunakan dalam operasi itu, dan empat unit helikopter CH-46 Sea Knight tiba minggu ini di pangkalan udara Ghazi, tempat pemusatan bantuan AS.
Misi bantuan dan penyelamatan dimulai atas permintaan pemerintah Pakistan, misi tersebut dilaksanakan dengan berkoordinasi dengan militer Pakistan. Prajurit Pakistan yang bersenjatakan senapan otomatis bertugas mengamankan penerbangan di titik-titik penjatuhan bantuan dan penjemputan warga, kata Kapten Marinir Paul Duncan.
Para prajurit Pakistan yang bertugas bersama Marinir mengatakan peranan AS dalam bantuan banjir tidak ternilai.
"Mereka punya helikopter besar yang bisa mengangkut banyak orang dan juga barang bantuan yang banyak," kata seorang personel militer yang merahasiakan namanya karena dilarang berbicara kepada wartawan. "Helikopter-helikopter kami terlalu kecil. Pasukan AS benar-benar membantu kami di sini."
Tapi, ada banyak warga Pakistan yang mengatakan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh misi penyelamatan dan bantuan jutaan dolar tersebut. Di Islamabad, ibu kota Pakistan, banyak orang yang mengatakan bahwa Amerika akan mengharapkan imbalan atas bantuan yang diberikan, AS terlalu sering mengabaikan Pakistan dan tidak bisa begitu saja dimaafkan.
"Saat AS memberi kami bantuan, satu-satunya penguasa kami menerimanya," kata Muhammad Jamshed, seorang pria berusia 28 tahun yang berjualan pakaian di Islamabad. "AS ingin merebut hati rakyat melalui bantuan ini, tapi itu tidak akan terjadi. Kami tidak butuh bantuan ini. Tuhan ada di sini, dan Dia yang akan membantu kami."
Tapi, kata Duncan (38), di Kalam dan di berbagai wilayah di Swat, sikap masyarakat berbeda.
"Sejauh ini yang saya alami amat positif, hingga hampir-hampir mengejutkan," kata Duncan. "Orang yang kelaparan tentu tidak akan marah pada orang yang memberinya makanan," pungkasnya. (dn/lt) www.suaramedia.com














