Duta besar Kwon Sung-chol melontarkan pernyataan itu dalam sebuah upacara yang memperingati 50 tahun hubungan diplomatik antara Korea Utara dan Kuba, pada hari yang sama dengan Pyongyang mengatakan membuka diri untuk kembali ke negosiasi pelucutan senjata nuklir.
"Jika Washington dan Seoul berusaha untuk menciptakan konflik di Semenanjung Korea, kami akan merespon dengan sebuah perang suci berbasis kekuatan penggertak nuklir kami," Kwon, menurut kantor berita China Xinhua.
"Pemerintah kami akan mengusahakan denuklirisasi di semenanjung dan pembangunan perdamaian jangka panjang sebagai awal proses reunifikasi kedua Korea," ujar Kwon.
Washington dan Seoul mengatakan bahwa Pyongyang harus meninggalkan pengembangan senjata nuklirnya, tapi belum mengancam akan menyerang negara yang miskin dan terisolir itu.
Pemimpin kedua Korea Utara, Kim Yong-nam, mengatakan pada mantan Presiden AS Jimmy Carter yang datang berkunjung bahwa negaranya ingin menghidupkan kembali perundingan pelucutan senjata nuklir enam pihak.
Kim Jong-il mengunjungi China dalam sebuah perjalanan rahasia yang oleh para analis disebut bertujuan menggandeng Beijing untuk rencana suksesi Korea Utara.
Bulan Juli lalu, James Clapper, pria yang dinominasikan menjadi pimpinan komunitas mata-mata AS, mengatakan pada Senat AS bahwa dia mengkhawatirkan periode "serangan langsung" oleh Korea Utara terhadap tetangganya di selatan.
Dalam sebuah respon tertulis terhadap pertanyaan dari anggota Komite Intelijen Senat, Clapper mengatakan bahwa dia mencemaskan kekerasan baru di semenanjung Korea.
Korea Selatan, AS dan negara-negara lain menuduh Utara mengirimkan sebuah kapal selam untuk menembakkan torpedo ke kapal perang Korea Selatan di dekat perbatasan Laut Kuning pada bulan Maret.
Utara membantah keterlibatannya dalam penenggelaman kapal itu dan mengatakan bahwa tindakan balasan dalam bentuk apapun bisa memicu perang.
"Pelajaran paling penting bagi kita semua dalam komunitas intelijen dari provokasi Pyongyang tahun ini adalah untuk menyadari bahwa kita mungkin sedang memasuki periode baru yang berbahaya ketika Korea Utara akan kembali berusaha untuk memperluas tujuan politik internal dan eksternalnya melalui serangan-serangan langsung atas sekutu kita di Republik Korea," tulis Clapper.
"Bersama dengan ini adalah kesadaran baru bahwa kekuatan militer Korea Utara menghadirkan ancaman yang tidak bisa diremehkan," tambahnya.
Clapper, yang saat ini menjabat sebagai penasihat intelijen Menteri Pertahanan Robert Gates dan penghubung Pentagon dengan Direktur Intelijen Nasional, mengetahui dengan baik kawasan tersebut karena pernah bertugas di Korea Selatan pada tahun 1980an.
Gates dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae-Young mengumumkan latihan militer bersama pada bulan Juli di Laut Jepang sebagai peringatan terhadap Korea Utara.
Latihan itu melibatkan 20 kapal termasuk kapal induk USS George Washington seberat 97,000 ton dan 200 pesawat. (rin/dn) www.suaramedia.com
- Petraeus: Jejak Kaki Taliban Kian Meluas di Afghanistan
- Munculnya Hitler Kecil Australia Picu Kemarahan
- Kerry Peringatkan Meningkatnya Ekstrimisme Akibat Banjir
- Frustasi, Karzai Desak Strategi Perang Afghanistan Dirombak
- Ungkap Kebenaran, Taliban Gelar Konferensi Pers














