"Saya menduga ada seseorang – dan saya tak tahu siapa kala itu – yang mengubah nilai-nilai (tes) dari nol hingga memenuhi syarat kelulusan," kata Paul Funk, yang dulu bertugas mengawasi penyebaran ahli bahasa Afghanistan untuk Mission Essential Personnel (MEP), kontraktor yang berbasis di Columbus, Ohio. "Banyak peserta yang gagal dinyatakan lulus."
Ketika ditanya mengenai dugaan tersebut, para perwira militer AS mengatakan kepada kantor berita ABC News bahwa mereka tengah menyelidiki perusahaan tersebut.
Funk mengemukakan klaimnya dalam tuntutan hukum pembocoran rahasia awal tahun ini terhadao Mission Essential Personnel, ia mengatakan bahwa perusahaan tersebut menutup mata terhadap kecurangan ujian bahasa yang dilakukan via telepon dan mempekerjakan orang-orang yang tidak memenuhi standar bahasa yang ditetapkan militer AS dan tidak mengungkapkannya dalam kontrak perusahaan.
Menurutnya, sekitar 28 persen "ahli bahasa" yang dipekerjakan sejak November 2007 hingga Juni 2008 tidak memenuhi persyaratan bahasa yang diajukan pemerintahan. Perusahaan tersebut membantah klaim-klaim itu di pengadilan, dan pekan ini menyebutnya sebagai "klaim palsu" dalam wawancara dengan agensi berita ABC News.
Penerjemah sipil telah selama hampir satu dekade memainkan peranan penting dalam perang Afghanistan, mereka mendampingi pasukan yang bergerak ke pinggiran kota, membantu para prajurit mengumpulkan informasi dari para penduduk setempat, dan berusaha menyebarkan pesan keamanan, moderat, dan perdamaian yang melandasi kehadiran pasukan AS di Afghanistan.
Sebagian veteran perang Afghanistan mengatakan bahwa nilai dari seorang penerjemah yang mumpuni sama dengan senjata atau baju pelindung.
Tapi, seorang mantan pemeriksa penerjemah yang akan dikirim ke Afghanistan mengatakan kepada ABC News dalam wawancara eksklusif di program World News with Diane Sawyer dan Nightline bahwa ia yakin ada banyak penerjemah yang saat ini terjun di lapangan sebenarnya tak bisa menjalankan fungsi mereka.
"Ada banyak kasus saat prajurit yang terjun di lapangan dan telah berbicara kepada para tetua (yang) menyerahkan pesan-pesan kepada penerjemah bahwa ada kemungkinan penyergapan tiga mil di depan. Namun, penerjemah tak bisa membaca pesannya dan mereka akhirnya diserang," kata Funk. "Ini menyangkut nyawa para prajurit."
Marc Peltier, kepala MEP, dalam wawancara dengan ABC News mengaku "tidak menerima laporan dari lapangan" mengenai penerjemah yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Dari atau Pashto. Ia menambahkan bahwa perusahaannya telah menerima rating "sempurna 100 persen" dari militer AS dan memberikan salinan survei yang diklaim sebagai jajak pendapat internal perusahaan. Hasilnya menunjukkan 82 persen pelanggan perasa puas dengan kinerja penerjemah. Seorang pengacara Peltier yang mendampingi dalam wawancara itu mengatakan pihak perusahaan akan menjawab tuduhan Funk di pengadilan, tidak di media.
"Kami khawatir ABC dimanfaatkan untuk memengaruhi proses pengadilan, yang dibantah perusahaan dan kami harap bisa kami menangkan," kata perusahaan.
Peltier mengatakan kepada ABC News dan menganggap "menyusahkan bahwa (Funk) mendatangi ABC untuk membuat tuduhan-tuduhan ini."
Ia mempertanyakan motif keuangan Funk dalam melayangkan gugatan. Ia mengkaim Funk telah "menawarkan pengunduran diri karena ketidaklayakan keuangan." Tapi, ia tidak bersedia memberikan penjabaran.
Pengacara Funk mengatakan bahwa tudingan ketidaklayakan itu melibatkan seorang bawahan di unit yang dikepalai Funk, dan oleh karena itu tidak ada sangkut pautnya dengan pengunduran dirinya.
Bagaimana cara MEP menemukan ratusan orang penerjemah yang bersedia berangkat ke Afghanistan dari warga Amerika yang memenuhi syarat adalah salah satu hal yang menjadi misteri bagi Funk. Menurutnya, perusahaan tersebut kesulitan menemukan warga negara Amerika yang bisa berbicara bahasa Afghanistan, bahasa Dari dan Pashto.
Pada akhirnya, dalam tuntutan hukum itu Funk menyatakan bahwa perusahaan tersebut kemudian mencurangi hasil tes kelayakan untuk mendapatkan target staf yang memungkinkan mereka meraup lebih banyak uang dari militer AS.
Funk mengatakan kepada ABC News bahwa dirinya mengirim email kepada mantan kepala MEP dan menyebut bahwa para kandidat akan mencurangi ujian lisan yang dilaksanakan via telepon.
"Saya katakan padanya (tes) itu tidak benar. Ada pengganti yang melakukan tes. Anda harus berhadap-hadapan dengan kandidat. Anda harus mengidentifikasinya. Anda harus tahu siapa mereka dan mereka menggunakan pengganti dalam tes telepon," kata Funk. "Mereka menggunakan pengganti dalam ujian telepon karena orang-orang itu tidak mungkin lulus jika mereka bahkan tidak bisa melewati proses wawancara," katanya.
Seorang penerjemah perusahaan tersebut yang kini bekerja di Afghanistan membenarkan praktik itu dalam wawancara dengan ABC News, ia mengatakan bahwa dirinya menggantikan calon lain yang tidak mampu menjalani tes sendiri. Sang karyawan yang bersedia membeberkan praktik tersebut dengan syarat namanya tidak disebutkan, menyebut ujian tertulis yang dilakukan setelahnya sebagai "bualan."
Tapi, MEP mengklaim pihaknya menjalankan "uji bahasa yang paling kuat dan menyeluruh serta pengawasan sebelum pengiriman yang lebih baik jika dibandingkan dengan perusahaan mana pun yang menyediakan penerjemah ke Afghanistan."
Menurut Funk, motif perusahaan membiarkan orang tak layak melewati proses pengawasan sederhana saja.
"Hanya masalah uang," katanya. "Semua penerjemah yang pernah saya ajak bicara tahu apa yang terjadi. Motifnya uang."
Akibatnya, kata Funk seperti dibenarkan para veteran perang AS, adalah banyak penerjemah yang tak mampu menerjemahkan percakapan antara tentara AS dan Afghanistan. Masalah itu sudah ada sebelum MEP menginjakkan kaki di Afghanistan.
Genevieve Chase, kopral satu Angkatan Darat AS yang terlatih berbahasa Pashto dan bertugas di Bagram dan Lashkargah, Provinsi Helmand, pada 2006, mengatakan kepada ABC News bahwa menjumpai penerjemah yang tidak bisa bicara bahasa Pashto atau hanya sedikit bisa berbahasa Inggris bukanlah hal mengherankan. Terkadang, ia yakin bahwa kegagalan menjalin komunikasi membahayakan nyawa pasukan.
"Entah di mana, ada seseorang melakukan sesuatu yang seharusnya tak ia lakukan," kata Chase. "Tak sulit menunjuk orang yang tidak bisa berbahasa Pashto. Bahkan, bagi saya cukup sederhana saja mengisolasi mereka."
Chase mengatakan unit pasukan Angkatan Darat bisa mengidentifikasi penerjemah yang tak becus. Ia mengingat percakapan aneh kala seorang tetua Afghanistan berbicara panjang lebar dan sang penerjemah kemudian menoleh pada prajurit AS dan menerjemahkan, "Dia bilang 'oke'."
Menurutnya, pasukan biasa menyerahkan penerjemah yang buruk kepada unit pasukan lain ketimbang harus menanggung risiko.
John McHugh, seorang jurnalis Inggris yang bertugas bersama pasukan AS, mengaku bisa sedikit memahami bahasa Pashto sehingga bisa tahu jika ada penerjemah di unitnya yang tidak memberikan terjemahan yang benar. Karena khawatir dengan hal itu, ia pun merekam dialog antara seorang prajurit AS dan tetua Afghanistan.
"Anda bahkan bisa menyaksikan dalam rekaman saat tetua suku berbicara mengenai Taliban yang datang ke desa dan para penduduk desa tak bisa melakukan apa pun. Lalu sang penerjemah mengatakan, 'Taliban ada di balik bukit itu. Jika kalian ingin menemukan mereka, pergilah ke sana,' yang sama sekali tak sama dengan ucapannya," kata McHugh dalam sebuah wawancara.
MEP membantah dan menyatakan penerjemah dalam rekaman itu bukan karyawan mereka. Setelah kejadian itu, McHugh kembali ke London dan meminta bantuan seorang penerjemah melihat kembali rekamannya.
"Kami melihat kembali sebagian besar rekaman, dan ada perbedaan besar antara perkataan dan hasil terjemahan," kata McHugh. "Saya bukan bicara mengenai memendekkan kalimat atau meringkas. Saya bicara mengenai informasi dalam jumlah besar yang diabaikan, betul-betul kesalahan penerjemahan."
Menurutnya, penerjemah yang tak ahli berani menerima pekerjaan itu karena upahnya menggiurkan. Warga AS yang jadi penerjemah bisa dibayar hingga $200.000 per tahun. Warga Afghanistan yang dipekerjakan secara lokal mendapat bayaran kurang dari itu, tapi tetap saja jauh di atas bayaran rata-rata di negara itu.
"Mereka menginginkan uangnya," kata McHugh. "Kepada saya, salah satunya bahkan menyebut diri sebagai bintang rock di desanya, karena uang yang diperolehnya sama dengan penghasilan bintang rock."
Menurut militer AS, perubahan strategi Afghanistan dan penambahan pasukan setahun lalu meningkatkan kebutuhan akan ahli bahasa dan penerjemah, dan tuntutan itu menjadi "amat menantang, tapi kami terus berusaha memenuhi kebutuhan komandan di lapangan dengan menggunakan ahli bahasa militer dan sipil."
Seorang juru bicara Angkatan Darat AS menuliskan dalam emailnya bahwa luasnya variasi bahasa dan dialek membuat penerjemahan sulit dilakukan, bahkan bagi ahli bahasa yang kemampuannya paling baik sekalipun. Mengenai dugaan Mission Essential mengizinkan penerjemah tak layak bertugas dengan pasukan, para pejabat mengatakan bahwa mereka tidak bisa berkomentar soal itu, mereka hanya mengatakan "Investigasi militer sudah dilakukan untuk mencari tahu adanya kecurangan." (dn/abc) www.suaramedia.com













