Tapi, Mark Sedwill, yang kini menjadi perwakilan senior NATO di Afghanistan, mengatakan kepada para wartawan di Washington bahwa adalah sebuah hal yang keliru jika mengira kesepakatan bisa terjadi dalam waktu singkat.
Menurut Sedwill, sejumlah pemimpin senior Taliban telah menerima tawaran politik yang diajukan oleh pemerintah Afghanistan.
"Ada cukup banyak pemimpin (Taliban) yang tampaknya merasa lelah dengan perang dan agaknya bersedia merenungkan masa depan di dalam jalur utama proses politik Afghanistan," katanya.
"Apa yang akan diakibatkan hal itu masih sangat sulit diprediksikan pada tahapan ini. Ada beberapa anggota senior pemberontak yang betul-betul terlihat mengulurkan tangan – atau sebenarnya menerima uluran tangan dari pemerintah Afghanistan – yang tengah mencari cara untuk melakukan rekonsiliasi," tambahnya.
Presiden Hamid Karzai pernah mengatakan dirinya akan berbicara dengan para gerilyawan yang bersedia meninggalkan kekerasan, memutuskan hubungan dengan al-Qaeda dan tunduk pada konstitusi Afghanistan.
Kepada umum, Taliban menyatakan tidak akan bernegosiasi hingga pasukan asing angkat kaki dari Afghanistan, tapi tetap saja ada yang menyebut telah terjadi kesepakatan di balik layar.
Di Kabul pada hari Selasa lalu, pemerintah Afghanistan mendirikan dewan perdamaian yang beranggotakan 70 orang yang merumuskan upaya-upaya yang telah dijalankan untuk melakukan rekonsiliasi dengan para pemimpin tinggi Taliban dan membujuk para prajurit Taliban agar meninggalkan pertempuran.
Sedwill mengatakan, dirinya mengunjungi Washington sebagai bagian dari persiapan pertemuan NATO di Lisbon, Portugal, bulan November mendatang. Dalam ajang itu, para pemimpin sekutu akan mempertimbangkan masa depan Afghanistan.
Presiden Afghanistan Hamid Karzai pada hari Selasa lalu menunjuk para anggota dewan baru untuk menegosiasikan kesepakatan damai denga Taliban.
Namun, Taliban menolak langkah terbaru Karzai.
Karzai menjadikan upaya perdamaian menjadi prioritas utamanya. Namun, upaya tersebut mendapatkan penolakan dari banyak pemimpin etnis minoritas yang khawatir Karzai, seorang suku Pashtun, memberikan terlalu banyak kelonggaran bagi para gerilyawan Pashtun.
Dalam pidato hari Selasa, Karzai mengimbau Taliban mengakhiri peperangan. "Jika mereka menganggap diri berasal dari tanah ini, jika mereka menganggap diri sebagai Muslim dan warga Afghanistan, mereka harus menerima konstitusi dan datang kepada kami," kata Karzai.
AS mendukung upaya Karzai. Jenderal David Petraeus, komandan pasukan koalisi yang dipimpin AS di Afghanistan, pada hari Senin mengatakan kepada wartawan bahwa ada "para pemimpin tingkat tinggi Taliban" yang menerima tawaran Karzai.
Namun, Taliban membantah hal itu. Mereka mengatakan tidak akan ambil bagian dalam negosiasi selama pasukan asing yang dipimpin AS masih ada di negara tersebut.
"Itu propaganda Amerika untuk menutupi kegagalan di Afghanistan dan menunjukkan kepada rakyat mereka bahwa mereka berhasil dalam perang," kata juru bicara Taliban, Zahibullah Mujahid melalui wawancara telepon, Selasa. "Emirat Islam Afghanistan sama sekali tidak menjalin kontak dengan pemerintah Afghanistan atau asing mengenai pembicaraan damai.
Arsalan Rahmani, seorang senator Afghanistan yang menjadi deputi menteri dalam pemerintahan Taliban sebelum 2001 dan kini menjadi anggota komisi perdamaian baru, pada hari Selasa mengatakan dirinya "optinis" mengenai peluang negosiasi, karena tekanan militer yang diterapkan pada Taliban.
Ia mengatakan, Taliban mungkin lebih bersedia berdialog "karena rumah-rumah, pangkalan-pangkalan, dan desa-desa mereka dibom, dan di kubu mereka sendiri jatuh korban jiwa."
Agar pembicaraan berhasil, ia mengatakan bahwa para tahanan Taliban di penjara Afghanistan dan Amerika harus dibebaskan, dan Taliban harus diperkenankan membuka kantor politik tempat para anggotanya bisa beroperasi tanpa khawatir ditangkap. (dn/bt/ws) www.suaramedia.com














