Kamis, 23 Pebruari 2012

Headlines:

Video Eksekusi Pakistan, Dilema Bagi Militer AS

E-mail Cetak PDF

ISLAMABAD (Berita SuaraMedia) – Sebuah rekaman video yang beredar luas di internet memperlihatkan sejumlah pria berseragam militer Pakistan mengeksekusi mati enam orang pemuda berbaju sipil. Tayangan itu meningkatkan kekhawatiran mengenai pembunuhan tidak sah yang dilakukan para prajurit Pakistan, yang mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat, kata para pejabat AS.

Keaslian video berdurasi lima setengah menit yang memperlihatkan eksekusi mati enam orang pria – sebagian di antaranya terlihat seperti remaja, matanya ditutup, dan tangan mereka diikat di belakang – masih belum secara resmi dibenarkan oleh pemerintah AS.

Militer Pakistan berdalih dan mengatakan video tersebut "dipalsu" oleh para gerilyawan.

Tapi, sejumlah pejabat AS, yang menolak disebutkan identitasnya karena isi video tersebut, mengatakan bahwa video itu tampaknya memang asli. Hal itu juga diamini oleh sejumlah pensiunan perwira militer AS dan para analis intelijen yang menyaksikannya.

Setelah menyaksikan tayangan video hari Rabu (29/9) waktu setempat, seorang pejabat pemerintahan AS mengatakan, "Ada hal-hal yang bisa dipalsukan dan sebaliknya. Yang ini jelas tidak bisa dipalsukan."

Direktur CIA Leon Panetta yang berada di Islamabad, Rabu, dalam kunjungan yang telah dijadwalkan sebelumnya, diperkirakan akan mengangkat topik video tersebut saat bertemu dengan pemimpin Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Ashfaq Parvez Kayani, dan kepala dinas intelijen Pakistan, Jenderal Ahmed Shuja Pasha, kata para pejabat AS.

Video tersebut menambahkan laporan yang ditinjau Departemen Luar Negeri dan Pentagon yang menyebut bahwa unit Angkatan Darat Pakistan dengan cepat mengeksekusi para tahanan dan warga sipil di kawasan-kawasan tempat mereka berperang melawan Taliban, kata para pejabat pemerintahan.

Video tersebut agaknya direkam di Lembah Swat, tempat militer Pakistan melakukan serangan tahun lalu untuk mengusir Taliban. Upaya tersebut dipuji para pejabat AS dan sebagian besar mendapat pendanaan dari AS.

Beredarnya laporan itu bisa berdampak serius terhadap hubungan antara militer kedua negara. Hukum AS mengharuskan negara tersebut menghentikan pendanaan terhadap unit militer asing yang diketahui melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Tapi, hukum tersebut belum pernah diterapkan terhadap mitra strategis macam Pakistan, yang militernya telah menerima kucuran dana bantuan AS senilai lebih dari $10 miliar sejak tahun 2001 karena bekerja sama memerangi para gerilyawan Taliban dan Al Qaeda yang berada di negara tersebut.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Philip J. Crowley menyebut rekaman itu "mengerikan." Ia menambahkan, duta besar AS, Anne W. Patterson, telah mengemukakan isu tersebut dengan pemerintah Pakistan dan tengah menunggu tanggapan. "Kami sudah bertekad menyelidikinya," tambah sang juru bicara.

Ditemui secara terpisah, juru bicara Angkatan Darat Pakistan, Mayor Jenderal Athar Abbas, membantah video itu dan menyebutnya sebagai bagian dari "kampanye propaganda" militan untuk memfitnah militer. "Tidak ada prajurit Pakistan yang terlibat dalam aktivitas semacam ini," katanya.

Seorang pejabat dinas intelijen Pakistan, yang menolak namanya disebutkan, membantah video itu dan menyebutnya sebagai sebuah "drama."

Militer Pakistan mendapatkan tekanan berat dari Amerika Serikat agar menyerbu kawasan Swat. Sejak saat itu mereka mengembangkan operasi ke Waziristan Selatan, militer Pakistan melancarkan serangan untuk mendapatkan dukungan warga setempat serta menyingkirkan militan serta para simpatisan mereka dari masyarakat.

Video yang agaknya diambil secara sembunyi-sembunyi dengan menggunakan kamera telepon genggam tersebut memperlihatkan enam orang pemuda yang diperintahkan berbaris di dekat bangunan yang telah ditinggalkan dan dikelilingi dedaunan. Saat para prajurit bersiap menembak, salah satunya bertanya kepada komandan, seorang pria berjenggot lebat dan berpotongan rambut pendek khas militer, "Satu demi satu atau sekaligus?" Sang komandan kemudian menjawab, "Sekaligus."

Sejurus kemudian, terdengar letusan tembakan dan tubuh para pemuda itu ambruk di atas tanah. Sebagian yang masih hidup dan terluka akibat tembakan terdengar merintih. Mendengar itu, seorang prajurit mendekati tumpukan tubuh manusia itu dan menembakinya satu demi satu dari jarak dekat. Tugas pun selesai.

Para pria yang menembaki pemuda-pemuda tersebut mengenakan seragam Angkatan Darat Pakistan dan agaknya menembak dengan menggunakan senapan G-3, senjata standar Angkatan Darat Pakistan yang jarang digunakan militan, kata sejumlah warga Pakistan yang menyaksikan rekaman itu.

Para prajurit itu juga berbicara dengan menggunakan bahasa Urdu, bahasa yang dipakai militer Pakistan. Mereka juga menggunakan sapaan "Sahib" saat menyebut sang komandan, "Sahib" adalah bentuk sopan dari kata tuan, kata yang tidak umum dipergunakan oleh Taliban.

Pertanyaan mengenai pembunuhan di luar hukum merupakan pertanyaan sensitif bagi para pejabat di Pentagon, yang telah berupaya memperbaiki hubungan dengan militer Pakistan yang sering tegang dalam kunjungan-kunjungan mereka dan juga melalui tambahan pendanaan.

Tapi, meningkatnya peristiwa-peristiwa semacam itu dalam beberapa bulan terakhir memicu lahirnya perdebatan internal di Departemen Luar Negeri dan Pentagon. Keduanya memperdebatkan apakah laporan munculnya video tersebut cukup untuk memotong pendanaan bagi unit militer Pakistan, kata para pejabat.

Setidaknya yang menjadi kekhawatiran adalah menjaga agar militer Pakistan tetap menjadi sekutu. Para pejabat di Pentagon, yang sudah merasa frustrasi karena penolakan Pakistan menindak para anggota Taliban yang menyeberang ke Afghanistan untuk memerangi pasukan AS, khawatir bahwa mengangkat isu HAM akan semakin memperburuk hubungan.

Senator Patrick J. Leahy, perwakilan Demokrat dari Vermont dan pendukung undang-undang yang akan mengharuskan penghentian pendanaan mengatakan pada hari Rabu waktu setempat bahwa siapa pun yang menyaksikan video itu akan terkejut.

Jika video itu asli, maka hukum bisa diterapkan, katanya.

Saat ini, per tahunnya Amerika Serikat mengucurkan dana $2 miliar untuk militer Pakistan, termasuk dana yang secara khusus dikucurkan untuk operasi antiterorisme, yang Pentagon ingin Pakistan mengembangkannya.

Kepala Staf Gabungan Militer AS Laksamana Mike Mullen mengemukakan laporan pembunuhan di luar hukum dengan pemimpin Angkatan Darat Pakistan Jenderal Kayani dalam pertemuan tahun ini, kata seorang pejabat senior pemerintahan.

Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, kata pejabat itu, adalah betapa seriusnya Jenderal Kayani menanggapi pembunuhan-pembunuhan itu, dan apakah dia bersedia menghukum para prajurit yang terbukti terlibat.

Dua mantan perwira Pakistan mengaku yakin video itu asli.

"Itu asli," kata Javed Hussain, seorang mantan brigadir jenderal Pasukan Khusus. "Mereka adalah prajurit di Swat. Para korban tampaknya militan atau simpatisan mereka." Para penembak adalah prajurit infanteri," katanya. "(Video) itu mengejutkan, tidak diharapkan dari sebuah pasukan yang profesional dan disiplin."

Seorang purnawirawan letnan jenderal, Talal Masood, juga menyatakan bahwa video itu tampaknya asli. "(Video) itu akan berdampak serius terhadap upaya memenangkan hati dan pikiran yang amat penting dalam jenis pertempuran ini," katanya. (dn/nyt) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon