Foto Kim Jong-Un diambil setelah pertemuan tingkat tertinggi dari partai penguasa yang pernah digelar sejak 30 tahun, yang memberikan jabatan kuat kepada Jong-Un, sebuah pertanda jelas bahwa dia memang tengah dididik sebagai penerus rezim komunis.
Media resmi memajang foto para pejabat partai penguasa. Surat kabar partai, Rodong Sinmun, menyebutkan bahwa Jong-Un ada dalam kelompok tersebut.
Tapi, tidak disebutkan di mana Jong-Un duduk. Para pakar Korea Selatan dan seorang pejabat pemerintahan menunjuk seorang pria agak gemuk yang duduk di dekat pemimpin dan menyatakan itulah Jong-Un.
"Kami yakin dia Kim Jong-Un," kata juru bicara Kementerian Unifikasi Korsel Lee Jong-Joo mengomentari foto pria yang mengenakan pakaian bergaya Mao berwarna gelap tersebut.
Pria muda yang tampaknya dipersiapkan untuk mengambil alih negara miskin namun memiliki senjata nuklir tersebut memang selama ini menjadi misteri bagi dunia luar. Tidak pernah ada foto dewasa Jong-Un yang dibiarkan keluar dari Korut.
"Dipublikasikannya foto ini sama dengan deklarasi bahwa Jong-Un adalah pewarisnya (Kim Jong-Il)," kata Profesor Yang Moo-Jin dari Pusat Studi Korea Utara di Seoul University kepada kantor berita AFP.
"Ini juga pertanda bahwa Kim Junior meluncurkan aktivitas resmi," tambahnya.
Menurut Yang, Jong-Un mirip dengan kakeknya, Kim Il-Sung, namun ia bertubuh pendek dan gemuk seperti ayahnya.
Amerika Serikat dan negara-negara lain berusaha keras mencari informasi tambahan mengenai Jong-Un yang mengenyam pendidikan di Swiss dan diyakini berusia sekitar 27 tahun.
Sebuah delegasi partai penguasa Korut pada hari Kamis bertolak ke satu-satunya negara sekutu besar Korut, China, demikian dilansir media milik pemerintahan.
Menurut media Korsel, delegasi tersebut kemungkinan akan memberitahu para pejabat China mengenai pertemuan partai.
Tidak ada indikasi bahwa Kim Jong-Un ada di antara delegasi yang dikirim.
Direktur CIA Leon Panetta akan tiba di Korsel, Sabtu mendatang, untuk saling bertukar informasi mengenai suksesi kekuasaan, demikian dilaporkan kantor berita Yonhap.
Nama sang putra tidak disebutkan oleh media resmi hingga pekan lalu, saat pemimpin Kim mengangkatnya menjadi jenderal bintang empat sebelum pertemuan Partai Pekerja Korea, Selasa.
Para analis mengatakan, Korut kemungkinan akan berusaha meredakan ketegangan di luar negeri saat mempersiapkan peralihan kekuasaan dari pemimpin 68 tahun yang sakit-sakitan itu kepada sang putra.
Tapi, pembicaraan militer antar-Korea yang berlangsung selama dua tahun berakhir tanpa perkembangan, Kamis, saat Seoul menuntut Pyongyang meminta maaf atas penenggelaman kapal perang Korsel, kata Kementerian Pertahanan Korsel.
"Para pejabat Korsel mendesak Korut untuk mengaku, meminta maaf, dan menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas serangan terhadap Kapal Perang Cheonan," kata kementerian dalam sebuah pernyataan.
Korsel juga mendesak Korut "segera menghentikan ancaman-ancaman militer dan tindakan agresifnya di perbatasan laut."
Korut menolak menerima temuan investigasi multinasional yang menyalahkan negara komunis tersebut atas penenggelaman kapal Korsel yang terjadi bulan Maret silam dan menewaskan 46 orang pelaut karena tembakan torpedo Korut.
Belum ditetapkan tanggal untuk pembicaraan berikutnya.
Setelah berbulan-bulan hubungan kedua Korea tegang terkait masalah kapal itu, Korut akhir-akhir ini memperlihatkan isyarat damai kepada Korsel maupun AS.
Tapi, Korut masih membantah keras keterlibatan dalam tragedi laut dan menyebut latihan laut gabungan AS dan Korsel sebagai ajang pamer kekuatan dan latihan untuk menyerang Korut.
Para pejabat Korut "tetap tidak berubah dan memiliki niatan tersembunyi untuk menyerang (Korut), didukung oleh majikan Amerika mereka," demikian disebutkan surat kabar kabinet, Minsu Joson, Kamis (30/9), menuding Seoul mencoba memicu perang nuklir dengan latihan gabungan yang digelar minggu ini.
Menteri Pertahanan Kim Tae-Young mengatakan dalam sebuah forum bahwa Seoul mendeteksi sinyal kemungkinan provokasi Korut, khususnya di 11 wilayah perbatasan tempat Korsel memasang pengeras suara propaganda untuk membalas penenggelaman kapal.
Namun, pengeras-pengeras suara tersebut belum dinyalakan hingga kini.
Kim mengatakan Pyongyang "tampaknya berfokus pada pembentukan landasan suksesi kekuasaan dan meringankan kekurangan makanan serta perekonomian."
Korut memperlihatkan kesediaan untuk kembali ke dialog enam negara. Tapi, Korut menginginkan komitmen AS untuk menggelar dialog terpisah untuk menandatangani kesepakatan damai permanen.
"Selama pesawat pengangkut nuklir AS melintas di sekitar perairan negara kami, maka penangkal nuklir kami tidak akan diistirahatkan, tapi justru diperkuat," kata Pak Kil-Yon, wakil menteri luar negeri Korut di hadapan Majelis Umum PBB, Rabu lalu. (dn/af) www.suaramedia.com














