Musharraf bersikukuh bahwa AS dan sekutu-sekutunya harus menyelesaikan pekerjaan di Afghanistan, mendesak mereka untuk tidak bernegosiasi dengan Taliban, seperti yang berusaha dilakukan pemerintah Afghan dengan dukungan mereka, agensi berita Guardian melaporkan.
"Taliban moderat itu tidak ada," ujarnya.
"Tunjukkan ketegasan, pesan yang harus disampaikan ke Taliban adalah ‘Kami akan menghabisi kalian’, alih-alih pesan bahwa kita harus memulangkan tentara kita. Ini adalah pesan yang lemah," tambahnya, mengkritik sentimen besar bahwa militer akan ditarik dari Afghanistan dan dikirim pulang.
Musharraf menolak keras kepercayaan luas bahwa Pakistan mendukung Taliban di Afghanistan, mengatakan bahwa "merekalah yang berusaha membunuh saya."
Solidaritas Musharraf dengan AS setelah serangan 11 September telah membuatnya tidak populer di Pakistan dan menjadi target bagi Taliban Pakistan dan ekstrimis lain.
Namun, dia mengecam serangan drone (pesawat tanpa awak) AS di negara itu sebagai "pelanggaran penuh terhadap kedaulatan Pakistan."
Tapi para pemimpin Pakistan sudah lama dicurigai diam-diam menyetujui strategi tapi kemudian berbicara tentang mereka di hadapan penentangan publik.
Musharraf, yang meraih kekuasaan dengan menggulingkan perdana menteri saat itu, Nawaz Sharif, dalam sebuah kudeta berdarah di tahun 1999, mengatakan bahwa militer Pakistan harus memiliki peran tegas di dalam konstitusi, meskipun mereka tidak boleh diberi kekuatan untuk menggulingkan pemerintahan.
"Jika kau menginginkan stabilitas, jika kau ingin keseimbangan di dalam struktur demokratis Pakistan, militer harus memiliki peran," ujarnya. "Demokrasi harus disesuaikan dengan lingkungannya."
Musharraf siap meluncurkan partainya yang baru – Liga Muslim Pakistan – seiring dengan upayanya kembali ke jagat politik Pakistan, kali ini sebagai orang sipil.
Musharraf mengatakan bahwa pimpinan militer yang sekarang, Jenderal Ashfaq Parvez Kayani, akan terpaksa mengintervensi pemerintah sipil yang dipimpin oleh Presiden Asif Ali Zardari karena korupsi dan nepotisme yang meluas.
Mantan penguasa militer berusia 67 tahun itu mengeluarkan pernyataan tersebut dalam sebuah forum debat pada Rabu (29/9) malam waktu setempat dan komentarnya itu penting dalam latar belakang laporan media tentang rapat darurat minggu ini antara kepala Angkatan Darat Pakistan Kayani, Perdana Menteri Yusuf Raza Gilani dan Presiden Zardari, di mana laporan media menyebutkan bahwa sang jenderal telah menuntut perombakan dalam struktur pemerintah sipil.
"Yah, kalian bisa lihat foto pertemuan antara Jenderal, Presiden, dan Perdana Menteri dan bisa saya yakinkan bahwa mereka tidak sedang membahas cuaca," ujar Musharraf.
"Ada sebuah diskusi serius dan jelas saat ini semua tekanan pasti berada di puncak kepala militer, " ujar Musharraf.
Dalam sebuah komentar yang akan membuat marah anggota Partai Rakyat Pakistan, dia menyalahkan keteledoran Benazir Bhutto yang berujung pada kematiannya, mengatakan bahwa dia tidak menyesali keamanan yang diberikan pada mantan perdana menteri itu di hari pembunuhannya.
"Ada cukup keamanan yang disediakan tapi keamanan di lingkungan kita (Pakistan), bisa saya katakan, tidak akan pernah cukup," ujar Musharraf.
Musharraf menyalahkan Bhutto karena membahayakan dirinya sendiri dengan berdiri melalui atap matahari dari kendaraannya.
Dia ditembak dan sebuah bom bunuh diri meledak sesaat setelah itu.
Bhutto dibunuh dalam kampanye politik di Rawalpindi pada tanggal 27 Desember 2007.
Sebuah laporan PBB tentang pembunuhannya, yang dipublikasikan pada bulan April, mengatakan bahwa kematiannya seharusnya bisa dicegah dan mengkritik agen intelijen Pakistan, polisi, dan pemerintah yang dipimpin oleh Musharraf, atas kegagalan keamanan saat itu.
Meskipun Musharraf tidak berkomentar pasca publikasi laporan tersebut, namun ketika ditanya tentang kesimpulan PBB itu dia mengatakan tidak memiliki penyesalan. (rin/nk/oli) www.suaramedia.com













