Rabu, 23 Mei 2012

Headlines:

Tetap Rangkul Taliban, Karzai Bisa Picu Perang Saudara

E-mail Cetak PDF

KABUL (Berita SuaraMedia) – Mantan kepala mata-mata Afghanistan menyampaikan peringatan bahwa negara tersebut berisiko terpecah dan dilanda perang saudara jika Presiden Hamid Karzai melanjutkan upaya merangkul Taliban.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan kantor berita The Scotsman di tempat persembunyiannya di gunung, Amrullah Saleh membandingkan Taliban dengan Khmer Merah di Kamboja dan menuding pemerintah bersikap "amat lembut" terhadap Taliban.

Karzai menunjuk 68 orang yang ditugasi menegosiasikan kesepakatan pada hari Selasa.

Komisi Tinggi Perdamaian Karzai beranggotakan para penguasa wilayah, termasuk mantan presiden pada masa perang saudara, setidaknya ada juga dua orang raja opium dan hanya ada delapan orang wanita. Pada bulan Juni, sang presiden meminta Taliban, yang disebutnya saudara, kembali pulang.

"Kebijakan-kebijakan lembek ini melemahkan semangan rakyat Afghanistan dan menciptakan kesan bahwa Talibanlah satu-satunya kubu yang menang," kata Saleh, sembari duduk di beranda yang dikelilingi kebun buah yang hanya bisa dicapai melalui jembatan yang melintasi aliran deras Sungai Panjshir.

Mantan kepala Direktorat Keamanan Nasional Afghanistan (NDS) yang bekerja sama dengan MI6 dan CIA dari 2004 hingga Juni lalu, saat ia mundur karena kehilangan kepercayaan Karzai.

Ia kemudian menghabiskan waktu berminggu-minggu mengelilingi sebelah utara Afghanistan, membangun basis dukungan untuk geerakan politik sebelum akhirnya bergabung dengan politikus oposisi, Dr. Abdullah Abdullah.

Keduanya beroperasi di bawah perintah Ahmad Shah Massoud, seorang komandan legendaris Aliansi Utara yang tewas karena bom dua hari sebelum 11 September 2001.

Dr. Abdullah mengklaim Taliban melihat air mata Karzai sebagai sebuah tanda kelemahan.

Kelompok-kelompok pembela hak sipil khawatir dorongan untuk berdamai akan menghapuskan hal-hal seperti hak perempuan.

Dengan batas awal penarikan pasukan AS pada Juli 2011, hanya sedikit pihak yang mampu memberikan alternatif selain dialog, dan sebagian besar bermanuver untuk lingkungan yang ditinggalkan NATO.

Banyak bekas sekutu Karzai, khususnya orang-orang dari utara, mulai menjaga jarak dengan pemerintah dan menyampaikan pernyataan yang menjurus kepada perang.

Ketika dua orang pejabat senior Afghanistan menunjukkan bukti serangan roket terhadap konferensi perdamaian Juni lalu, Karzai mengatakan kepada mereka bahwa ia rasa bukan Taliban yang melakukannya.

"Presiden tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun terhadap bukti itu, dia menganggapnya sampah," kata Amirullah Saleh.

Saleh menolak membicarakan alasan Karzai secara lebih terperinci. Tapi, seorang pejabat terkemuka Afghanistan yang mengetahui langsung pertemuan itu dan menolak menyebutkan namanya, mengatakan bahwa Karzai mengisyaratkan dalam pertemuan itu bahwa mungkin yang melakukan serangan adalah Amerika.

Beberapa menit setelah pembicaraan itu, Saleh dan Hanif Atmar, yang kala itu menjabat menteri dalam negeri, mengundurkan diri.

Saleh dan Atmar mengatakan mereka berhenti karena Karzai sudah tidak lagi menganggap mereka setia.

Tapi, yang lebih dalam dari itu, kata Saleh dan sejumlah pejabat Barat, adalah hilangnya kepercayaan Karzai terhadap kemungkinan keberhasilan AS dan NATO di Afghanistan.

Untuk alasan itulah, kata Saleh dan para pejabat lain, Karzai berusaha menciptakan kesepakatannya sendiri dengan Taliban dan Pakistan.

Menurut seorang mantan pejabat senior Afghanistan, langkah yang diambil Karzai termasuk bernegosiasi dengan Taliban di luar sepengetahuan AS dan NATO. (dn/nk/nt) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon