Pergeseran fokus strategi tersebut memperlihatkan pandangan AS yang berpendapat bahwa, seiring tidak mampu atau tidak bersedianya militer Pakistan melakukan pekerjaan tersebut, maka lebih banyak pasukan AS yang dibutuhkan dan saat ini ada di Pakistan akan dialihkan melintasi perbatasan menuju Afghanistan.
Dalam beberapa bulan terakhir, militer AS meminjamkan pesawat drone Predator dan Reaper kepada CIA untuk memberikan tambahan kekuatan bagi CIA dalam menyerang para gerilyawan di perbatasan Afghanistan.
Tambahan drone tersebut membantu CIA meningkatkan jumlah serangan di Pakistan pada bulan September lalu. Rata-rata, CIA melakukan lima kali serangan per minggu pada bulan September, meningkat jika dibandingkan dengan rata-rata dua atau tiga serangan per minggu yang dicatatkan sebelumnya.
Pentagon dan CIA meningkatkan pembelian drone, namun kemampuan produksi drone tidak cukup memadai untuk memenuhi besarnya kebutuhan AS.
Meningkatnya serangan pada September lalu sebagian bertujuan untuk mengganggu plot serangan di Eropa Barat. Para pejabat AS mengatakan pada hari Jumat waktu setempat bahwa mereka menduga Osama bin Laden dan para anggota senior al-Qaeda lainnya menjadi bagian dari dugaan plot teror yang diduga menjadikan Inggris, Perancis, atau Jerman sebagai target. Menurut mereka, mereka masih coba memahami bentuk permukaan dari skema tersebut.
Menurut para pejabat AS, keberhasilan serangan teror terhadap Barat yang berasal dari Pakistan bisa memaksa AS mengambil tindakan militer secara sepihak, hal yang ingin dihindari semua pihak.
Meski militer AS menerbangkan drone pengintai di Pakistan dan berbagi data intelijen dengan pemerintah Pakistan, Pakistan melarang operasi militer AS di tanahnya karena hal itu akan melanggar kedaulatan negara.
Operasi-operasi CIA, meski banyak diketahui, secara teknis sebenarnya rahasia. Hal itu memungkinkan Islamabad menyangkal keterlibatan mereka terhadap serangan-serangan itu di hadapan masyarakat yang tidak mendukung. CIA tidak pernah mengakui program itu, dan pergeseran sumber daya Pentagon dirahasiakan.
Pakistan diam-diam bekerja sama dengan program drone CIA yang dimulai pada masa pemerintahan George W. Bush, namun program itu amat tidak populer di Pakistan karena kekhawatian mengenai kedaulatan dan terus bermunculannya laporan jatuhnya korban jiwa sipil. Para pejabat AS mengklaim target yang ditetapkan CIA sudah tepat dan jumlah korban sipil terbatas.
Para pejabat AS mengatakan, kini kekhawatiran membuat kesal warga Pakistan sudah berkurang jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu. Mereka juga mengatakan, AS kini semakin agresif merespons ancaman dari seberang perbatasan.
"Anda harus mengatasi tempat-tempat perlindungan (militan)," kata ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS John Kerry (Demokrat, Massachusetts) setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi di Washington pekan ini. "Saya sudah memberikan dorongan kuat terhadap warga Pakistan mengenai hal itu."
Ketegangan antara AS dan Pakistan menjadi semakin buruk dalam beberapa hari terakhir terkait serangkaian serangan lintas perbatasan dari helikopter-helikopter bersenjata NATO. Islamabad merespons dengan menutup perlintasan perbatasan utama yang biasa dipergunakan untuk mengirim pasokan bagi pasukan Barat di Afghanistan dan mengancam akan menghentikan arus kontainer NATO.
Pada hari Jumat, militan Pakistan menyerang kapal-kapal tanker yang mengangkut bahan bakar ke perlintasan perbatasan lain, sebuah hal yang memperlihatkan rentannya jalur pasokan NATO melintasi kawasan Pakistan.
Karena para perwira militer AS mengatakan kesuksesan di Afghanistan sebagian besar bergantung pada penutupan sarang-sarang militan di Pakistan, serangan drone tersebut juga bisa memiliki maksud jangka panjang bagi pemerintahan Obama, yang kini tengah mendapatkan tekanan politik untuk menunjukkan hasil nyata dari perang Afghanistan yang telah berlangsung selama sembilan tahun dan telah menetapkan waktu awal penarikan pasukan pada bulan Juli tahun depan.
Kesepakatan rahasia untuk meningkatkan serangan CIA di dalam Pakistan menunjukkan bahwa militer AS melihat ada titik-titik di Pakistan yang dipergunakan untuk menyusun rencana dan meluncurkan serangan terhadap pasukan AS dan NATO di Afghanistan, sebuah hal yang dianggap sebagai penghalang utama perang Afghanistan.
"Jika bicara mengenai drone, saat ini tidak ada misi yang lebih penting dibandingkan menyerang target-target di kawasan suku, dan di situlah perlengkapan tambahan dikerahkan," kata seorang pejabat AS. "Memang itu bukan satu-satunya jawaban, tapi hal itu penting bagi keamanan nasional dan perlindungan pasukan (AS) di Afghanistan."
Gagasan mengalihkan sumber daya militer melalui CIA diutarakan dalam tinjauan kebijakan Afghanistan-Pakistan tahun lalu, kata sejumlah pejabat. Peralihan sumber daya militer diujungtombaki oleh Direktur CIA Leon Panetta dan Menteri Pertahanan Robert Gates, kata seorang mantan direkur CIA. Hal itu juga mendapat dukungan dari kepala staf gabungan militer Laksamana Mike Mullen dan komandan baru pasukan sekutu di Afghanistan, Jenderal David Petraeus.
Gates membantu mengatasi perbedaan pendapat sebagian pihak di Pentagon yang mengatakan bahwa drone-drone tersebut dibutuhkan di Afghanistan untuk menyerang Taliban.
Sejak mengambil alih komando pada bulan Juli, Jenderal Petraeus meletakkan fokus lebih besar di kawasan suku Pakistan, kata sejumlah sumber militer dan pejabat pemerintah.
Militer AS berusaha membujuk militer Pakistan meningkatkan upaya melawan gerilyawan di kawasan suku. Upaya tersebut berujung pada operasi militer di beberapa kawasan, tapi tidak di Waziristan Utara, yang dipergunakan oleh jaringan Haqqani untuk melancarkan serangan lintas perbatasan dan diyakini oleh para pejabat AS sebagai tempat berlindung para pemimpin senior al-Qaeda.
Pakistan mengatakan, militer mereka telah disebar dalam unit-unit kecil, memperkecil kemungkinan melancarkan operasi berskala besar. Sumber daya militer Pakistan juga dialihkan untuk menangani bencana banjir terparah sepanjang sejarah negara tersebut.
Oleh karena itu, AS kini menganggap perlu dorongan kuat AS di Pakistan, karena semakin tebalnya keyakinan bahwa Pakistan tidak akan lagi mengerahkan sumber daya untuk berrperang di dalam batas negaranya, kata seorang mantan pejabat dinas intelijen. Militer Pakistan sudah habis, katanya. "Mereka sudah melakukan yang mampu mereka lakukan."
Para pejabat AS juga dibuat amat frustrasi dengan Islamabad yang mereka anggap melakukan kesepakatan ganda. Sebagian elemen ISI terus mendukung jaringan Haqqani untuk melawan pengaruh regional India, dan pemerintah menolak seruan AS untuk menindak kelompok itu.
Pemerintah Pakistan berulang kali membantah bahwa mereka mendukung jaringan Haqqani.
Jenderal Petraeus bersikap keras terhadap jaringan Haqqani, ia menyebutnya tidak bisa diajak diajak damai.
Selain pesawat tanpa awak, para pejabat mengatakan militer AS berbagi informasi target dengan CIA melalui penerbangan mata-mata. (dn/hp/ws) www.suaramedia.com














