Akan tetapi, komisaris besar polisi telah memerintahkan kantor polisi yang bersangkutan mengirimkan pengajuan Niazi untuk mendapatkan pendapat hukum, demikian dilaporkan Daily Times.
Awal bulan ini, Bugti mengumumkan "uang imbalan" senilai satu miliar rupee dan lahan pertanian seluas 40,4 hektar untuk Musharraf karena dugaan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan sang mantan presiden.
Musharraf terlibat dalam kejahatan-kejahatan bengis dan tak termaafkan terhadap negara dan masyarakat, seperti membubarkan sebuah pemerintahan terpilih dan memecah belah parlemen, membunuh Akbar Bugti beserta 70 orang korban lainnya, kejadian Masjid Lal dan sejumlah kejahatan lain, kata presiden Partai Jamjoori Watan tersebut.
Bugti ingin nama Musharraf dikirimkan ke Interpol agar ia bisa dipulangkan ke Pakistan karena sang mantan penguasa militer dan merusak kedaulatan serta integritas negara. Jika itu tidak dilakukan, Musharraf bisa membocorkan lebih banyak rahasia negara yang akan semakin memperlemah kedaulatan nasional.
Ia juga mendesak jaksa agung Pakistan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap politikus berusia 67 tahun itu agar ia bisa diadili.
Bugti mengumumkan hal itu dalam sebuah konferensi pers.
Presiden Partai Jamhoori Watan tersebut mengatakan bahwa tidak ada kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam pernyataan Musharraf. Menurutnya, Musharraf sudah berbohong sejak hari pertama.
Bugti juga mengklaim bahwa pendiri Liga Muslim Seluruh Pakistan tersebut menjadi ancaman keamanan bagi Pakistan.
Talal Bugti mengatakan, "Musharraf adalah seorang pengecut dan tidak akan pernah kembali ke Pakistan karena mengetahui kenyataannya." Bugti menambahkan bahwa jika Musharraf punya nyali, maka dia seharusnya segera kembali ke Pakistan dan menghadapi semua tuntutan hukum terhadap dirinya.
September lalu, Talal Akbar Bugti mengatakan bahwa yang terlibat dalam pembunuhan Akbar Bugti, sang ayah, bukanlah militer Pakistan, melainkan mantan presiden Pervez Musharraf.
Bugti adalah mantan kepala suku Baluch Bugti dan pernah menjadi Menteri Dalam Negeri serta gubernur Baluchistan.
Sebelumnya, Menteri Negara Produksi Pertahanan Abdul Qayyum Jatoi mengatakan bahwa Angkatan Darat Pakistan terlibat dalam pembunuhan Bugti.
Talal menginginkan Musharraf diseret di hadapan hukum atas kejahatan yang telah dilakukannya. Ia juga bersumpah akan membalaskan pembunuhan ayahnya sejalan dengan tradisi Baluch.
Jika Musharraf kembali ke Pakistan, Talal Bugti mengatakan bahwa sang mantan presiden akan diberi sambutan "karpet merah" (karpet kematian).
Ia juga menuding Jenderal Nadeem Taj, Brigadir Mumtaz, Brigadir Masood, Kolonel Furqan, Mayor Nadeem, dan Mayor Ali bertanggung jawab atas pembunuhan Bugti.
April lalu, Bugti menyebut Musharraf bertanggung jawab atas pembunuhan Benazir Bhutto, ia menambahkan bahwa Musharraf ingin memecah belah negara dan berkuasa selama bertahun-tahun.
"Benazir dipanggil pulang dengan dalih rekonsiliasi nasional agar ia bisa dihabisi," kata Bugti.
"Agenda utama Musharraf adalah memecah belah negara, dan oleh karena itu ia membunuh mendiang Benazir dan Akbar Bugti," tambahnya. (dn/nk/thi) www.suaramedia.com














