Saat berkunjung ke Kota Christchurch di Pulau Selatan, Clinton memuji kinerja 40 orang pasukan tempur elit SAS (Special Air Service) Selandia Baru di Afghanistan. Clinton menginginkan mereka tetap bertahan setelah masa tugas mereka berakhir awal tahun depan. Tapi, Clinton mengatakan bahwa keputusan akhir tetap ada di tangan pemerintah.
"Mereka (pasukan khusus Selandia Baru) dianggap amat penting," kata Clinton dalam wawancara dengan TV New Zealand. "Mereka bekerja dengan amat profesional," tambahnya.
"Kami amat menghormati Selandia Baru dan para prajurit yang kalian kirimkan ke sana (Afghanistan). Tentu saja, kami ingin mereka tinggal selama mungkin yang bisa kalian izinkan," kata Clinton.
Clinton mengatakan, dirinya telah membahas kehadiran militer Selandia Baru di Afghanistan, baik pasukan khusus Selandia Baru maupun 140 orang pasukan anggota tim rekonstruksi provinsi di Bamiyan, dalam dialog dengan Perdana Menteri John Key di ibu kota Wellington, Kamis. Namun, Clinton tidak mengungkapkan apakah dirinya meminta Key untuk tetap menempatkan pasukan di Afghanistan.
"Ini keputusan pemerintah dan rakyat Selandia Baru, tapi saya jelas memuji kinerja mereka (pasukan khusus Selandia Baru) dan menyampaikan rasa terima kasih para pejabat militer dan sipil kami kepada perdana menteri mengenai kinerja para prajurit Selandia Baru," kata Clinton.
Masa tugas pasukan di Bamiyan selama tujuh tahun sudah berakhir bulan September lalu. Tapi, awal tahun ini Key mengatakan bahwa penempatan mereka dilanjutkan setahun lagi dan penarikan tenaga sipil mulai dilakukan. Pasukan SAS di Afghanistan sedianya akan mengakhiri masa tugas mereka pada Maret 2011 mendatang.
Komentar Clinton disampaikan sehari setelah ia menandatangani dokumen yang bertujuan untuk sepenuhnya memperbaiki hubungan AS dan Selandia Baru yang dalam 25 tahun terakhir diganggu oleh perseteruan nuklir. Dalam kesepakatan yang dinamai "Deklarasi Wellington" tersebut, diupayakan peningkatan kerja sama kedua negara dan tujuan pemulihan secara penuh hubungan kedua negara, termasuk pertukaran dalam bidang militer.
Kesepakatan itu memungkinkan dilakukannya dialog lebih mendalam yang dilakukan secara lebih reguler, membahas mengenai berbagai tantangan, mulai dari keamanan regional hingga energi bersih, penanggulangan bencana, dan perkembangan.
Selain memberikan pujian terhadap kontribusi yang diberikan Selandia Baru di Afghanistan, Clinton pada hari Jumat juga memuji negara tersebut atas peranannya di kawasan Asia-Pasifik, khususnya kinerja Selandia Baru dalam membantu memastikan tercapainya hak-hak populasi pribumi, khususnya di pulau-pulau Pasifik Selatan.
Clinton menyampaikan harapan bahwa era baru kerja sama AS dan Selandia Baru akan memanfaatkan "kredibilitas" Selandia Baru dalam menghadapi isu-isu hak asai manusia dengan cara mengawinkannya dengan jangkauan Amerika Serikat.
Clinton juga memberi selamat kepada para ilmuwan AS dan Selandia Baru atas kinerja mereka di Antartika untuk menyelidiki perubahan iklim. Ia juga memuji cepatnya tanggapan pemerintah setempat di Christchurch yang melakukan pembangunan kembali setelah dilanda gempa besar 7 skala richter yang menghantam pada bulan September.
"Sulit membayangkan seseorang seperti saya yang datang di saat gempa 7,1 skala richter menghantam baru dua bulan yang lalu," kata Clinton dalam sebuah pertemuan di balai kota dengan beberapa ratus orang siswa, profesor, dan para pemimpin daerah setelah menuntaskan perjalanan dari bandara.
Bencana gempa bumi 4 September lalu merusak sekitar 100.000 rumah di Christchurch, menimbulkan celah terbuka sepanjang 19 mil (30 kilometer) di pertanian terdekat, namun tidak mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Sejak saat itu, terjadi sekitar 3.000 gempa susulan. Sebagian di antaranya semakin menambah kerusakan bangunan-bangunan dan mengakibatkan orang-orang panik dan keluar ruangan.
Diperkirakan ada 50.000 rumah di kota itu yang memerlukan perbaikan besar akibat gempa, sementara ada 1.200 rumah yang harus dihancurkan dan dibangun kembali. Mereka memperkirakan bahwa dana perbaikan yang harus dikeluarkan untuk memulihkan akibat gempa bumi itu bisa mencapai $2,9 juta. (dn/ap) www.suaramedia.com














