Afghanistan Rights Monitor (ARM) pada hari Kamis merilis laporan yang di dalamnya menerangkan bahwa ada ratusan rumah yang dihancurkan atau rusak sebagian akibat berkelanjutannya perang antara pasukan koalisi dan propemerintahan melawan para pejuang Taliban, utamanya di distrik-distrik Arghandab, Panjwaye, Zheray, dan Daman di Provinsi Kandahar.
Kelompok itu juga menuding pasukan yang dipimpin AS telah menggunakan "taktik bom selimut" untuk menyingkirkan tempat-tempat perlindunganTaliban dan bom rakitan (IED) yang tersebar di seluruh kawasan konflik dan terus mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kubu pasukan koalisi dan Afghanistan di kawasan selatan.
"Pasukan AS dan koalisi secara luas menggunakan pengeboman udara, agaknya dengan tujuan untuk menghancurkan IED dan perangkap yang mengakibatkan tewasnya banyak prajurit propemerintahan," kata seorang sumber setempat yang namanya tidak bisa disebutkan karena alasan keamanan kepada ARM.
Seorang petani menuding pasukan AS menghancurkan propoerti rakyat. "(Tentara) Amerika menghancurkan kebun-kebun delima dan ladang anggur kami untuk mendirikan pos-pos militer dan membangun jalan-jalan baru untuk dilewati kendaraan-kendaraan mereka," kata sang petani dari Distrik Arghandab yang juga merahasiakan namanya itu.
Akan tetapi, pada hari Jumat NATO mengecam laporan itu dan merujuk pada pernyataan Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) bulan Januari 2009 lalu yang menyebut organisasi itu "dangkal dan tidak jelas sumber informasinya."
ARM kala itu mengkritik PBB dan lembaga-lembaga bantuan internasional karena dituding tidak mampu menjangkau dan membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya di kawasan-kawasan yang tidak aman.
"Klaim-klaim ARM yang banyak itu hanya bisa didukung oleh sumber-sumber anonim atau bukti yang menggelikan, tidak bisa dijadikan indikasi standar penelitian atau laporan yang bisa diterima," kata Letnan Kolonel Web Wright dari Angkatan Darat AS yang menjadi juru bicara Komando Regional Selatan NATO (RSC). Ia menambahkan bahwa ARM tidak berusaha mendapatkan keterangan dari NATO atau para pejabat Afghanistan sebelum merilis laporannya.
"Laporan ini hanya mengutip keterangan dari sumber-sumber tanpa nama dan berisi informasi bias yang amat negatif. Kami menolak klaim-klaim ini karena sepihak, tidak berdasar, dan berisi propaganda," tambah Wright.
Lebih lanjut lagi, Wright mengatakan bahwa NATO "amat berhati-hati" guna meminimalkan jatuhnya korban sipil dan membatasi kerusakan yang terjadi. "Berdasarkan kekhawatiran yang dikemukakan kelompok-kelompok seperti UNAMA, ISAF menerapkan arahan-arahan taktis untuk memastikan bahwa jumlah korban jiwa dan kehancuran properti bisa ditekan," katanya. "RSC mematuhi arahan-arahan ini dan menerapkannya secara penuh dalam operasi. Hasilnya, sejauh ini para pemberontak menewaskan lebih banyak warga sipil jika dibandingkan pasukan koalisi dan Afghanistan," tambahnya.
Dalam laporan hari Kamis itu, para tetua dari Distrik Zheray juga mengeluhkan tindakan pasukan asing yang memasuki rumah-rumah mereka. Mereka mengatakan bahwa tindakan semacam itu melanggar norma-norma budaya mereka yang kuat, khususnya mengenai perlindungan wanita.
"Mengapa mereka (pasukan asing) menerobos masuk rumah-rumah kami tanpa memberitahu terlebih dahulu dan menggeledah para wanita kami?" kata Malik Aminullah, seorang tetua dari Distrik Zheray. "Keamanan dan Taliban tidak ada kaitannya dengan wanita dan anak-anak," lanjutnya.
Namun, Wright mengatakan bahwa operasi-operasi militer ditingkatkan di selatan Afghanistan dalam beberapa bulan terakhir, khususnya di Distrik Panjwai. "Berdasarkan sejarahnya, kawasan ini dikenal sebagai tempat aman bagi pemberontak," katanya. "Para pemberontak memiliki waktu untuk mengembangkan bom rakitan yang sangat banyak untuk mengganggu kebebasan pergerakan pasukan koalisi dan pasukan Afghanistan. Demikian juga, para pemberontak juga mengembangkan pabrik-pabrik bahan peledak berbahan amonium nitrat (HME) dan lokasi pemrosesan di dalam dan di antara pusat-pusat populasi," tambahnya.
Ia mengatakan, karena pabrik-pabrik ini, NATO meningkatkan jumlah serangan yang cermat dan menggunakan upaya pembersihan ranjau untuk menyingkirkan senjata-senjata tersebut. "Kami amat berhati-hati untuk mengambil keputusan dalam mengurangi ancaman dan meminimalkan kerusakan atau korban jiwa," tambah Wright. "Jika dimungkinkan, para pejabat setempat dihubungi untuk mendapatkan persetujuan mereka sebelum melakukan serangan, kawasan itu dipagari, dan pengumuman dilakukan melalui media-media setempat atau corong pengeras suara. Tudingan-tudingan ARM mengenai ‘pengeboman selimut’ adalah tuduhan keliru dan menyesatkan," katanya.
Dalam tuduhan lainnya, ARM mengutip keterangan warga setempat yang mengatakan bahwa para penduduk yang terkena dampat operasi militer telah berjanji akan membantu membangun kembali properti warga yang hancur sehingga dapat meneruskan kehidupan seperti biasa. Namun, ARM mengklaim bahwa perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada ratusan keluarga yang kehilangan tempat tinggal amat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.
ARM mengatakan bahwa bagi para penduduk Provinsi Kandahar, keadaan saat ini mirip dengan tahun 1980-an saat warga setempat menderita karena terjebak perang antara pemerintah yang didukung Uni Soviet dengan kelompok-kelompok milisi.
"Taliban seperti bayangan. Tubuh mereka ada di Pakistan, namun Amerika hanya memerangi bayangan mereka di Afghanistan," kata seorang warga setempat kepada ARM. "Seiring datangnya musim dingin, saat langit menjadi berawan, bayangan itu – Taliban – menghilang hingga musim semi beruikutnya." (dn/nk) www.suaramedia.com














