Tipu muslihat itu harus ia bayar dengan nyawanya, kata seorang mantan agen intelijen militer Pakistan, Mahmood Shah. Taliban kemudian mulai mencurigainya dan ia dieksekusi setelah beberapa kali diinterogasi.
Kasus Rahman yang diceritakan kembali oleh Shah kepada kantor berita Associated Press, sejalan dengan aspek kunci dalam perang melawan teror. Badan-badan intelijen Barat, dengan bantuan dari sekutu-sekutu mereka, menyelundupkan mata-mata dan informan ke dalam struktur al-Qaeda dan Taliban. Program itu agaknya membuahkan hasil, meski ada banyak penyusup seperti Rahman yang ketahuan jati dirinya dan dibunuh.
Bocoran dari seorang informan al-Qaeda-lah yang membuat otoritas internasional menemukan bahan peledak yang disembunyikan di dalam cartridge printer yang diterbangkan dari Yaman menuju Amerika Serikat sepekan lalu, kata para personel keamanan Yaman. Mereka menambahkan bahwa bahan peledak itu bisa saja mengakibatkan ledakan yang sama mematikannya dengan pengeboman Lockerbie di Skotlandia yang menewaskan 270 orang.
Badan-badan intelijen seperti MI6 dan CIA mempekerjakan lebih banyak agen yang memiliki latar belakang beragam sejak terjadi serangan 11 September 2001. Banyak pihak mengatakan taktik itu berhasil. Ada sejumlah plot, termasuk plot peledakan maskapai trans-Atlantik tahun 2006 yang dapat digagalkan karena para agen intelijen memanfaatkan tips yang diperoleh untuk melacak calon peneror.
Beberapa tahun belakangan, para agen AS, Eropa, dan Pakistan mengatakan bahwa al-Qaeda telah menjadi semakin lemah akibat serangan demi serangan drone CIA di sepanjang perbatasan Afghanistan dan Pakistan, serta penyusupan agen di dalam sel jaringan teror. Para pemimpin tertinggi dikesampingkan atau kepercayaan mulai terkikis sehingga para militan mulai berpaling satu sama lain.
Dalam pidato pekan lalu, pemimpin MI6 John Sawers untuk pertama kalinya mengungkapkan bahwa badan intelijen Inggris dapat "memasuki" organisasi-organisasi teror. Tapi, ia tidak bersedia menjelaskan lebih lanjut.
"Lapisan keamanan al-Qaeda perlahan semakin melemah, dan oleh karena itu saat ini lebih mudah menyusup ke dalam kelompok-kelompo ini," kata Noman Benotman, seorang mantan militan yang memiliki hubungan dengan al-Qaeda di Afghanistan, Pakistan, dan Sudan yang kini menjadi analis terorisme dan keamanan di London.
Arab Saudi paling banyak meraig keberhasilan menyusupkan mata-mata di Jazirah Arab, sebagian di antaranya adalah mantan tahanan Guantanamo, kata Benotman. Masa tahanan di Guantanamo merupakan aset baru bagi kelanjutan banyak agen ganda. Hal itu merupakan pertanda akhir kredibilitas yang sering membuat mereka dipuja dan dipercaya di antara para anggota senior.
Arab Saudi memiliki program rehabilitasi teror yang menampung sekitar 120 dari hampir 800 orang yang keluar dari Guantanamo sejak dibuka sembilan tahun lalu. Di antaranya, sekitar dua lusin orang kembali mengangkat senjata, sementara sebagian kecil diyakini bekerja menjadi mata-mata untuk Saudi dengan ganti imbalan yang dibayarkan kepada keluarga dan anggota suku mereka, pinjaman dan insentif keuangan lainnya, menurut dua pejabat pemerintah Eropa yang tidak bersedia namanya disebutkan karena sensitivitas pekerjaan mereka.
Otoritas Yaman mengatakan bahwa bocoran informasi bom pekan lalu berasal dari seorang warga negara Arab Saudi yang keluar Guantanamo pada tahun 2007, menghabiskan waktu dalam program rehabilitasi dan pergi ke Yaman sebelum menyerahkan diri kepada otoritas Arab Saudi pada akhir bulan September. Aparat keamanan Yaman mengatakan bahwa ia mungkin saja seorang agen ganda yang disusupkan oleh Arab Saudi. Tapi, para pejabat pemerintahan Eropa mengatakan, meski Saudi mungkin memberikan gambaran paling luas mengenai plot itu, tampaknya Arab Saudi memiliki sumber-sumber lain.
Awal tahun ini, seorang warga Saudi lain yang ditahan di Guantanamo dan dimasukkan program rehabilitasi teror juga melarikan diri ke Yaman dan bergabung kembali dengan sebuah kelompok militan. Para pejabat mengatakan bahwa agaknya ia juga bekerja sebagai agen ganda di Yaman.
Bagi para mantan tahanan Guantanamo, warga Saudi dianggap tidak terlalu terlibat dalam penangkapan banyak tahanan, tidak seperti warga Amerika atau Pakistan.
"Arab Saudi adalah satu dari sedikit negara yang menjalin kontak intelijen di Yaman, menganggarkan sekitar $300 juta per tahun untuk mendukung jaringan keamanan ini," kata Maajid Nawiz, mantan militan dari kelompok di Mesir yang turut mendirikan lembaga think tank melawan ekstremisme di Inggris. "Mereka juga berhasil menyusup ke suku-suku di Marib, Yaman. Insentif keuangan untuk sebagian suku-suku ini cukup kuat."
Para pejabat Arab Saudi menolak mengomentari menegnai operasi intelijen ketika dimintai keterangan, Rabu.
Omar Ashour, kepala program Timur Tengah di University of Exeter di Inggris yang mempelajari program rehabilitasi di Arab Saudi, mengatakan ada banyak pria yang menjalani program di Saudi tetap memiliki hubungan yang kuat dengan militan.
"Ada hubungan yang dalam dan kuat," kata Ashore. "Mungkin agaknya beberapa orang akan dianggap pengkhianat, tapi sebenarnya mereka bisa mendapat kembali kepercayaan yang hilang dari mereka dengan cepat."
Setelah para mantan militan selesai menjalani program di Saudi, komunikasi mereka diawasi, kata Ashour. Para pejabat Saudi bahkan muncul di berbagai acara keluarga seperti pernikahan untuk mengawasi kontak sosial mereka, katanya.
Moazzam Begg, seorang warga Inggris yang ditahan di Guantanamo selama lebih dari dua tahun, mengatakan bahwa badan intelijen Inggris, MI5 dan MI6 bertahun-tahun lalu berulang kali berusaha menjadikan dirinya sebagai informan. Tapi, ia ragu ada banyak tahanan Guantanamo yang setuju berpihak pada CIA atau otoritas Pakistan karena peranan pasukan koalisi dalam penangkapan dan pemenjaraan mereka. Ia mengatakan bahwa kawasan-kawasan suku di perbatasan sulit disusupi agen karena intensnya aktivitas militer di perbatasan, tidak seperti di Arab Saudi. (dn/dn) www.suaramedia.com
- Banjir Nuklir di Pakistan Jadi Dilema Barack Obama
- Dukungan "Rumit" Obama Untuk India Dikecam Pakistan
- Kecurigaan Hancurkan Hubungan Romantis AS - China
- Tolak Propaganda, Taliban Desak AS Selidiki Afghanistan
- Pakistan Ambil Langkah Atasi Skandal Gelar Palsu Pejabat














