Seorang juru bicara Komite Perdamaian Korea-Asia Pasifik yang tidak menyebutkan namanya memberikan pernyataan kepada kantor berita Korea Central News Agency pada Sabtu (9/4) pagi waktu setempat dan mengatakan bahwa Korut telah menginformasikan kepada Hyundai Group bahwa pihaknya mungkin menghapuskan hak monopoli perusahaan tersebut untuk melakukan tur.
Komite tersebut mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa Hyundai Asan mungkin tidak akan lagi melakukan tur ke Gunung Kumgang. Di lokasi wisata tersebut, Hyundai telah menanamkan modal jutaan dolar.
"Tidak ada lagi prospek melanjutkan tur ke Gunung Kumgang," demikian isi pernyataan tersebut. Komite tersebut menambahkan, pihaknya kini akan melakukan kesepakatan dengan "pengusaha luar negeri" yang belum ditentukan untuk menggantikan Hyundai Asan.
"Sebuah tindakan akan diambil segera untuk memperbarui tur Gunung Kumgang," kata komite tersebut tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Juru bicara wanita Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Lee Jong-Joo, mengatakan bahwa pengumuman sepihak Korea Utara tidak bisa diterima.
"Korea Utara harus segera menarik tindakannya yang jelas melanggar hukum dan praktik internasional," kata Jong-Joo kepada AFP, Sabtu (9/4).
Hyundai Asan, anak perusahaan dari raksasa logistik Hyundai, dan Korea Utara menandatangani kontrak untuk memberikan perusahaan tersebut monopoli selama 50 tahun terhadap tur lintas perbatasan menuju tempat peristirahatan tersebut.
Perusahaan itu mengatakan, kontrak yang sudah ditandatangani tidak bisa seenaknya dibatalkan Korut secara sepihak.
"Semua kesepakatan yang dicapai dengan Korut terkait tur tersebut harus dihormati karena tidak bisa dibatalkan secara sepihak," kata Hyundai.
"Kami akan terus berkonsultasi dengan pemerintah (Korea Selatan) dan melakukan upaya maksimal untuk melanjutkan tur," tambah perusahaan itu.
Profesor Yang Moo-Jin dari University of North Korean Studies mengatakan, Korut memanfaatkan proyek itu untuk memaksa Korsel memperhalus sikapnya terhadap Pyongyang.
Tur ke Gunung Kumgang oleh warga Korsel, yang dimulai tahun 1998, pernah membuat Korut menangguk untung jutaan dolar tiap tahunnya.
Korsel menghentikan tur ke sebuah tempat peristirahatan di kawasan wisata Gunung Kumgang (Gunung Berlian) yang berpemandangan bagus di tahun 2008 setelah seorang warganya ditembak mati di sana. Untuk membalasnya, Korut menyita bangunan milik Korsel di sana.
Pyongyang sudah menawarkan kelanjutan tur tersebut namun menolak desakan Seoul yang ingin peristiwa penembakan itu diselidiki.
Hubungan kedua negara makin dingin sejak Korsel menuding Korut menenggelamkan kapal perang Korsel pada Maret 2010 yang mengakibatkan 46 orang tewas.
Pyongyang membantah tudingan itu, namun kemudian mengebom sebuah pulau Korsel bulan November lalu dan menewaskan empat orang.
Mei tahun lalu, Korut berusaha membuka Gunung Kumgang untuk para turis China, namun Korsel lalu meminta China tidak mengirim turisnya ke tempat peristirahatan tersebut. Permintaan itu dipenuhi Beijing, demikian dilansir kantor berita Yonhap. (dn/ap/af) www.suaramedia.com
- "Politik Helikopter" Jadi Penghambat Kampanye Oposisi India
- Tingkat Bahaya Nuklir Jepang Mencapai Chernobyl!
- Zardari: Perang Afghanistan Mendestabilkan Pakistan
- Petraeus: Tak Benar Al-Qaeda Bangkit di Afghanistan
- "Jepang Berusaha Tutupi Kebenaran Bencana Nuklir Fukushima"













