Sabtu, 25 Mei 2013

Headlines:

Rentetan Gempa Susulan Teror Korban Jepang

E-mail Cetak PDF

ONAGAWA, Jepang (Berita SuaraMedia) – Ratusan gempa susulan telah mengguncang tanah dan menegangkan dalam lima pekan sejak gempa bumi besar dan tsunami Jepang, memaksa para korban selamat untuk hidup kembali dalam teror hampir setiap hari.

Tak henti-hentinya gemuruh lapisan bumi yang tertekan telah menghalangi pekerjaan bantuan, mengancam operasi yang memang sudah berbahaya untuk menahan krisis nuklir dan memperburuk rasa takut jauh melebihi  pantai yang hancur oleh gelombang besar.

Sekarang banyak yang mengeluhkan "sakit gempa" – sensasi seperti tanah bergetar di bawah kaki mereka bahkan ketika sebenarnya tanah tersebut tidak bergetar – sebuah kondisi yang menyalahkan pada bingungnya reseptor keseimbangan bagian dalam telinga dan sebuah kondisi kegelisahan yang meninggi.

Untuk puluhan ribu orang yang tinggal di tempat perlindungan evakuasi yang penuh sesak di dalam dan di dekat tanah kosong tsunami, deritan gedung yang lemah dan resiko gelombang pembunuh lainnya memicu rasa takut yang besar sekali.

"Kami hampir terbiasa dengan gempa susulan, namun setiap kali salah satu dari gempa susulan tersebut menyerang, kami teringat akan teror yang kami rasakan di hari tsunami tersebut," kata Kenichi Endo, 45 tahun, yang kehilangan ayahnya yang seorang nelayan di gelombang monster tersebut.

"Saya merasa takut bahwa kemungkinan gelombang tersebut akan kembali," kata Endo, sekarang salah satu dari 790 orang yang bersembunyi di sebuah sekolah dasar yang diubah menjadi pusat evakuasi di pelabuhan Onagawa di Prefektur Miyagi. "Saya mengalami kilas balik." Di Tokyo juga, di mana banyak bangunan telah terguncang dan banyak kereta terhalangi oleh gempa bumi, jutaan orang merasa takut setiap kali sebuah jeritan suara peringatan gempa di TV atau telepon genggam mereka, memperingatkan sebuah ancaman baru.

Sejak gempa bumi 9 Skala Richter menggeser dasar laut sepanjang 24 meter dan mengirimkan sebuah gelombang besar yang menimpa Jepang, lebih dari 400 gempa di atas 5 Skala Richter menghantam, sebagian besar di bawah laut namun banyak yang di bawah Jepang sendiri.

Peta-peta menunjukkan pusat gempa menyebar seperti sebuah ruam merah di seluruh dasar laut Pasifik timur Jepang, salah satu tempat yang paling mudah gempa dan vulkanik di dunia, di persimpangan beberapa piringan tektonik.

Para pakar geografi setuju bahwa goncangan dan gemuruh tidak akan berhenti dengan segera.

Mereka hanya berbeda pada apakah mereka akan berlangsung selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan satu dekade.

Sebuah gempa susulan 1,7 Skala Richter menghantam pada 7 April diikuti oleh serangkaian guncangan di atas 6 Skala Richter pekan ini, dengan yang terbesar menyebabkan sebuah ketakutan tsunami, salah satu dari beberapa yang dikeluarkan dan dicabut sejak gempa bumi besar tersebut.

Di pusat evakuasi Onagawa, lampu-lampu padam pada 7 April dan ratusan orang tumpah keluar bangunan di mana mereka menggigil kedinginan selama sekitar satu jam sampai gempa reda dan mereka diperbolehkan kembali masuk ke dalam.

"Saya kira atap rumah akan ambruk," kata pengungsi Keiko Katsumata, 57 tahun, yang ia katakan bahwa ia dalam keadaan tidak sehat. "Hanya ketika saya berpikir kehidupan saya mulai bergerak maju lagi, sedikit demi sedikit, gempa susulan ini datang." Ia mengatakan bahwa gemuruh tersebut membawa kembali kenangan-kenangan butuk dan perasaan menyakitkan atas rasa bersalah: "Saya memikirkan ketika saya seharusnya mendesak teman saya untuk melarikan diri. Jika saya dapat menghidupkan kembali kejadian 11 Maret, saya pikir saya akan berusaha untuk melakukan lebih banyak untuk membantu mereka melarikan diri." Pejabat kota Kiyoto Abe mengatakan bahwa "gempa susulan tersebut menambahkan lapisan stress lainnya bagi para pengungsi. Di kota-kota tetangga, saya telah mendengar pusat evakuasi rusak oleh gempa susulan dan harus direlokasi ke daerah lainnya.

"Peristiwa itu menjadi semacam evakuasi ganda." Efek dari goncangan tidak hanya pada psikologis – mereka juga telah memundurkan upaya untuk membangun kembali kehidupan orang-orang yang trauma.

Gempa 7,1 Skala Richter tersebut memicu tanah longsor mematikan, menghancurkan bangunan, menghancurkan jendela dan memperlemah tanah lapang, dan juga menunda pembangunan terjadwal dari perumahan sementara, Abe mengatakan.

"Kami memeriksa daerah yang mana yang akan disetujui untuk pembangunan," ia mengatakan kepada kantor berita AFP ketika pekerjaan berlangsung hanya untuk 57 rumah sementara, dengan renacan untuk 169 bangunan lainnya yang baru-baru ini ditunda karena kekhawatiran keamanan.

Gempa susulan berpusat di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir yang rusak oleh tsunami Fukushima juga telah berulang kali mempercepat langkah kru darurat di sana untuk evakuasi, dan menuntun pada rasa takut bangunan reaktor yang terbakar dan pipa air kemungkinan berkompromi lebih jauh.

Rasa takut radiasi juga telah menghantui beberapa orang di pusat evakuasi Onagawa, yang membentang hanya lima kilometer dari sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di pantai dengan nama yang sama yang juga rusak pada 11 Maret namun ditutup sepenuhnya.

"Saya takut tsunami lainnya kemungkinan menjatuhkan pembangkit nuklir Onagawa dan menyebabkannya membocorkan bahan radioaktif, seperti di Fukushima," kata Endo, salah satu dari para pengungsi, menambahkan bahwa ia kelelahan karena terlalu sering tidak bisa tidur pada malam hari.

"Jika hal tersebut terjadi, kami tidak tahu ke mana akan melarikan diri. Kami berada di barisan depan." (ppt/dw) www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon