Terbungkus dalam sebuah selimut berwarna krem di luar puing-puing Taman Kanak-kanak Ishinomaki Mizuho No.2, ia merasakan ketakutan yang paling buruk.
Gelombang dengan tinggi lebih dari 9 meter yang menyapu kota kota membawa pergi ratusan anak kecil dan ibu 28 tahun tersebut tidak dapat mendekati sekolah anak laki-lakinya tersebut pada hari bencana tersebut terjadi, mobilnya terhalangi oleh puing-puing dan endapan lumpur.
Tidak sampai hari berikutnya ia dan suaminya, 36 tahun, Harunori, bermaksud untuk menyusun sebuah pencarian yang sesuai.
Ia tetap menerima informasi yang terus bertentangan bahawa anak-anak baik itu telah diselamatkan atau tersapu oleh ombak.
Namun, 11 anak dan 14 guru di sekolah tersebut telah dengan tenang dievakuasi ketika ombak tersebut menghantam, pindah ke atas ke lantai dua gedung dan kemudian ke atap ketika air hitam naik melewati gedung tersebut.
Anak-anak menggunakan matras gym sebagai jaket dan membungkus diri mereka sendiri di dalam tirai untuk membuat mereka tetap hangat.
Tiga hari setelah bencana tersebut, Sugimoto pada akhirnya mengetahui bahwa anaknya, Raito, telah dievakuasikan ke universitas Senshu Ishinomaki. Ia bergegas ke universitas tersebut di mana ia kembali bersatu dengan anak laki-lakinya.
Satu bulan setelah gempa bumi, keluarga tersebut tinggal di sebuah rumah sewaan di bagian lain prefektur tersebut.
"Selama anak laki-laki saya ada bersama saya, saya dapat berharap untuk banyak hal," ia mengatakan kepada kantor berita harian Yomiuri.
Di tengah-tengah potongan berita bagus yang jarang ditemui, para pekerja di pembangkit listrik nuklir Fukushima terus-terusan berjuang dalam krisis yang disebabkan oleh gempa bumi.
Para dokter memperingatkan bahwa kelompok yang ada di pembangkit listrik Fukushima Daiichi menderita insomnia, dehidrasi dan tekanan darah tinggi. Mereka telah berjuang untuk membuat pembangkit listrik yang membocorkan radiasi tersebut berada di bawah kendali lagi sejak pembangkit tersebut rusak karena gempa 11 Maret.
Sementara itu, otoritas Jepang mempertimbangkan dengan ketat memberlakukan 12 mil zona evakuasi di sekeliling pembangkit listrik tersebut.
Mencapai 80.000 orang yang tinggal di dalam zona tersebut, namun kadang-kadang kembali dan kepolisian tidak dapat secara hukum menghentikan mereka.
Dalam sebuah langkah menuju pemulihan sistem pendingin yang rusak di dalam pembangkit listrik tersebut, operator pembangkit listrik tersebut telah memompakan air yang sangat radioaktif dari bawah tanah salah satu dari gedung turbin untuk sebuah daerah penyimpanan pengganti sementara.
Membersihkan pembangkit listrik tersebut dari kolam-kolam yang penuh dengan air terkontaminasi akan membebaskan akses bagi para pekerja yang berusaha untuk memulihkan sistem pendingin pembangkit tersebut, namun kemungkinan membutuhkan waktu berbulan-bulan. (ppt/tlg) www.suaramedia.com
- Sengketa Kontraktor Asing Ancam Rekonstruksi Afghanistan
- MRAP, Upaya Baru AS Selamatkan Pasukan Dari Kematian
- Formula Kekuasaan AS Tak Mempan Untuk Taliban
- "Perang Ini Hanya Bisa Dimenangkan Rakyat Afghanistan"
- Perangi Taliban, Afghanistan - Israel Jalin Kesepakatan Rahasia














