CIA mengatakan bahwa Mohammed "tampaknya memanfaatkan kesempatan, kadang hingga berjam-jam, untuk membahas kinerja lingkaran dalam Al Qaeda dan rencana-rencana, ideologi, serta cara kerja kelompok," ujar salah satu sumber yang mendeskripsikan sesi tersebut. "Ia bahkan terkadang menggunakan papan tulis."
Penggambaran CIA tersebut cukup mengagetkan, terutama karena penggunaan teknik terlarang waterboarding (peneggelaman kepala ke dalam air) dan kekurangan tidur yang berkepanjangan yang mereka klaim digunakan untuk terus mengorek informasi mengenai kelompok Al-Qaeda.
"KSM (Khalid Sheik Mohammed) hanya memberikan sedikit laporan intelijen sebelum digunakannya teknik waterboarding, dan analisis informasi itu mengungkapkan bahwa sebagian besar telah kadaluarsa, tidak akurat, atau tidak lengkap," menurut porsi baru laporan inspektur jenderal CIA tahun 2004 yang dirilis oleh Departemen Kehakiman.
Debat mengenai keefektifan penggunaan tekanan psikologis dan fisik terhadap tahanan dengan teknik waterboarding masih belum terselesaikan karena mustahil untuk mengetahui apakah metode yang lebih lunak dapat mencapai hasil yang sama. Namun, bagi pembela teknik waterboarding mengatakan bahwa buktinya sudah jelas: Mohamed bersedia bekerjasama, hanya ketika semangatnya telah patah di bawah tekanan.
Selama beberapa minggu, ia menjadi subyek serangkaian metode koersif yang semakin meningkat, berpuncak pada 7 ½ hari kurang tidur dan 183 kali waterboarding.
"Menurut kalian apa yang mengubah pikiran KSM?" ujar salah satu petinggi senior intelijen CIA setelah ditanya mengenai efek waterboarding. "Tentu saja dimulai dengan itu."
Mohammed, dalam pernyataannya kepada Komite Palang Merah Internasional, mengatakan bahwa informasi yang ia berikan kepada CIA tidaklah benar.
"Selama periode terkeras dalam interogasi saya, saya banyak memberikan informasi yang salah untuk memuaskan apa yang saya yakini ingin didengar oleh para interogator untuk menghentikan penyiksaan itu. Kemudian saya memberitahu mereka bahwa metode mereka itu bodoh dan kontraproduktif. Saya yakin informasi salah yang terpaksa saya buat agar penyiksaan itu berhenti telah membuang banyak waktu mereka," ujarnya.
Kritikus mengatakan waterboarding dan metode keras lainnya tidak dapat diterima terlepas dari hasil yang diperoleh, dan mereka yang memiliki pengetahuan detail tentang program CIA ini mengatakan penilaian yang ada tidak memberikan basis ilmiah untuk menarik keseimpulan mengenai keefektifannya.
"Masyarakat yang demokratis tidak menggunakan penyiksaan dalam situasi apa pun. Itu ilegal dan tidak bermoral," ujar Tom Parker, direktur kebijakan untuk kontraterorisme dan HAM di Amnesty International. "Ini adalah argumen yang bodoh dalam kondisi apa pun. Tidak ada cara untuk menyetujui atau tidak menyetujui kontrafaktual ini."
John L. Helgerson, mantan inspketur jenderal CIA yang menyelidiki program penahanan dan interogasi CIA, mengatakan hasil kerjanya tidak menempatkannya pada "sebuah posisi untuk mencapai solusi definitif mengenai keefektifan metode interogasi tertentu."
"Teknik-teknik tertentu tampaknya hanya memberikan sedikit efek, terutama waterboarding dan kekurangan tidur," ujarnya. "Kita tidak punya waktu atau sumber daya untuk melakukan analisis yang sistematis dan hati-hati mengenai penggunaan teknik-teknik tertentu terhadap individu-individu tertentu dan secara independen mengkonfirmasi kualitas informasi yang dihasilkan."
Setelah penangkapannya, Mohammed pertama kali memberitahu penangkapnya apa yang menurutnya telah mereka ketahui.
"Segera setelah penangkapannya pada bulan Maret 2003, KSM membeberkan rencananya untuk menabrakkan pesawat komersial ke bandara Heathrow," menurut sebuah dokumen yang dirilis oleh CIA.
Salah seorang pejabat AS yang mengetahui secara detail bagaimana interogasi itu dilakukan mengatakan bahwa Mohammed, seperti beberapa tahanan lainnya, tampaknya terpaksa memberikan keterangan palsu untuk menghentikan siksaan CIA.
"Setelah teknik yang lebih keras diterapkan pada para tahanan, mereka beranggapan telah melaksanakan tugasnya terhadap prinsip-prinsip relijius mereka tidak akan meminta apa-apa lagi," ujarnya. "Setelah itu, mereka pun mau bekerjasama. Tentu saja, ada sebuah kepentingan untuk dapat mengatakan, Lebih baik saya memberikan keterangan palsu."
"Pengalaman terbatas dan negatif KSM di AS – termasuk beberapa waktu di dalam penjara akibat menunggak sejumlah tagihan – hampir pasti membantu pemilihan jalan hidupnya menjadi teroris," menurut ringkasan informasi intelijen. "Ia menyatakan bahwa kontaknya dengan warga Amerika, walau minimal, mengkonfirmasi pandangannya bawa AS adalah negara yang rasis," seorang pejabat CIA berpendapat.
"Mohammed memberikan $1000 kepada Ramzi Yousef, keponakannya, untuk membantunya melakukan serangan di World Trade Center tahun 1993. Tahun 1994, ia bekerja di Filipina bersama Yousef, yang kini dipenjara di Colorado atas tuduhan rencana pengeboman terhadap 12 pesawat komersial AS di atas laut Pasifik."
Mohammed dipindahkan ke fasilitas militer di Guantanamo, Kuba, pada bulan September 2006, sesekali ia menghadap komisi militer. Di sel seluas 86 kaki persegi di Kamp 7, Guantanamo, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beribadah, menurut sebuah sumber yang terpercaya.
Teknik waterborading merupakan teknik siksaan yang diterapkan kepada para tahanan Muslim sejak jaman pemerintahan George W Bush.
Beberapa bulan lalu, pemerintahan Obama berencana membeberkan memo internal untuk menelanjangi buruknya teknik interogasi tersebut.
Pejabat senior AS menjelaskan pada Newsweek bahwa tiga memo internal akan menjelaskan detil teknik interogasi "termahsur" yang disetujui oleh pemerintahan Bush terhadap tawanan Al-Qaeda yang "bernilai tinggi". Majalah Newsweek yang terbit Sabtu 21 Maret 2009 mengungkapkan tiga memo yang diduga berasal Gedung Putih pada masa kepresidenan Bush kepada badan intelijen CIA.
Meskipun deputi dari Jaksa Agung Eric Holder Jr, berpendapat bahwa tidak ada alasan lagi untuk merahasiakan memo interogasi tersebut, beberapa petugas intelejen tetap menentang perilisan memo tersebut, mereka berpendapat bahwa memo tersebut mengkompromikan "sumber dan metode."
Anggota Komite Intelijen Senat AS, Dianne Feinstein mengaku tidak mendapatkan keterangan lengkap mengenai kebijakan-kebijakan CIA. "Saya sekarang tidak mengetahui detail itu," katanya. Padahal sebelumnya CIA kerap menggelar konferensi dengan para anggota senat membahas program-program keamanan nasional AS. Menurut pejabat AS, anggota Kongres telah mendapatkan lebih dari 30 pertemuan mengenai program-program CIA.
Bahkan, panel intelijen Kongres telah menerima laporan mengenai penyiksaan yang dilakukan CIA dari Palang Merah Internasional (ICRC). Memang laporan rahasia ICRC itu memicu polemik di AS. Kelompok para pemerhati hak asasi manusia (HAM) meminta pemerintahan Obama menginvestigasi para pejabat CIA dan dibawa ke pengadilan. (rin/msn/sm) Dikutip oleh www.suaramedia.com
Click Video{youtubejw 280" 280"}w-0Ms7mId34{/youtubejw}















