Sumber yang mengetahui permasalahan itu mengatakan bahwa visa tersebut akan diberikan pada Ri Gun, negosiator nomor dua di Korea Utara dalam negosiasi nuklir antara dua Korea, China, Jepang, Rusia, dan AS yang kini sedang terhenti.
Hari Jumat lalu AS mengatakan akan mengijinkan Ri Gun berkunjung ke negaranya dalam bulan ini, sebuah gerakan yang menurut para analis dapat menjadi langkah pertama menuju pembicaraan antara keduanya untuk mengakhiri program nuklir Pyongyang.
Ri Gun akan menghadiri beberapa pertemuan di New York dan San Diego dengan sejumlah akademisi dan pakar swasta yang mempelajari Korea Utara.
Departemen Luar Negeri tidak mengatakan apa-apa tentang kemungkinan adanya pembicaraan antara pejabat AS dan Korea Utara, namun sebuah sumber mengatakan bahwa besar kemungkinan diplomat AS Sung Kim akan bertemu dengan RI secara informal dalam kunjungannya ini.
AS berharap sebuah dialog bilateral akan mengembalikan Korea Utara ke pembicaraan yang lebih luas untuk menghentikan program nuklirnya.
Pembicaraan enam pihak itu melibatkan Korea Utara dan Selatan, China, Jepang, Rusia, dan AS namun telah terhenti sejak Korea Utara mengatakan akan mengundurkan diri enam bulan yang lalu.
Baru-baru ini Korea Utara mengatakan bahwa mereka menginginkan hubungan yang lebih baik dengan AS, membebaskan dua jurnalis AS yang dipenjara pada bulan Agustus, dan mensinyalir sepuluh hari lalu bahwa mereka mungkin akan kembali ke pembicaraan enam pihak setelah berbicara dengan AS terlebih dahulu.
Tidak jelas apa memicu peringatan ini.
Setelah Pyongyang melakukan uji nuklirnya yang kedua, Dewan Keamanan PBB menerapkan sanksi baru terhadap Korea Utara yang didesain untuk membatasi penjualan senjata yang selama ini menjadi sumber pemasukan mata uang bagi negara tersebut.
AS, yang telah mengatakan bahwa mereka belum memutuskan untuk melakukan pembicaraan bilateral, menginginkan jaminan bahwa Korea Utara akan kembali ke pembicaraan enam pihak dan berjanji akan menghentikan program nuklirnya.
Analis AS mengatakan bahwa dengan mengijinkan Ri Gun berkunjung, pemerintahan Obama mungkin memberi tanda akan keinginan untuk mengeksplorasi kemungkinan pembicaraan langsung antara AS dan Korea Utara mengarah pada dilanjutkannya pembicaraan denuklirisasi yang lebih luas.
"Washington memberi tahu Pyongyang bahwa mereka tertarik untuk menjaga keberlangsungan dinamika dan tren menuju dialog yang telah kita lihat selama beberapa minggu terakhir ini," ujar Evans Revere, presiden Masyarakat Korea di New York.
"Hal itu menandakan bahwa pemerintah tertarik untuk menjaga kelanjutan dialog," tambahnya.
Masyarakat Korea di New York dan kelompok nirlaba lainnya, Komite Nasional untuk Kebijakan Luar Negeri Amerika, telah mengundang Ri untuk ikut serta dalam seminar tanggal 30 Oktober di New York bersama dengan sejumlah akademisi swasta, mantan pejabat pemerintah, dan analis.
Secara terpisah, Ri juga diundang untuk ambil bagian dalam Dialog Kooperatif Asia Timur Laut di Universitas California, San Diego.
Bruce Klingner, seorang analis di lembaga think tank konservatif Heritage Foundation di Washington, mengatakan bahwa tampaknya masih ada "jurang perbedaan" antara AS dan Korea Utara.
AS menginginkan Korea Utara menghentikan program nuklir yang dilihatnya sebagai ancaman langsung terhadap sekutu AS, Korea Selatan dan Jepang. Sementara Korea Utara baru-baru ini menegaskan bahwa mereka ingin diterima sebagai sebuah negara nuklir.
"Untuk sekarang, kedua pihak memiliki perbedaan yang tidak dapat disatukan," ujar Klingner. "Sebuah pertemuan antara pejabat AS dan Ri Gun akan mengeksplor apakah sebuah jembatan dapat dibangun." (rin/wb/rt) www.suaramedia.com















