Wall Street Journal pada Sabtu lalu melaporkan bahwa pengangguran menjangkiti 3.000 orang yang pernah bekerja dalam pemerintahan Bush, sedang diperkirakan hanya 25%-30% yang berhasil menjadi pegawai tetap.
Hal tersebut dianggap petaka yang melebihi ketika Ronald Reagan, George H.W. Bush dan Bill Clinton meninggalkan Gedung Putih. Setidaknya sebulan setelah lepas dari jabatannya, setengah dari mantan pegawainya telah mendapatkan pekerjaan baru.
"Ini bukan saat yang tepat untuk mencari pekerjaan, terutama bagi mereka yang pernah berkecimpung dalam pemerintahan Bush," kata Carlos M. Gutierrez, mantan sekretaris keuangan Bush. (Video)
Sedikitnya 3.6 juta orang telah dipecat dari pekerjaannya sejak resesi AS yang dimulai awal Desember lalu, jumlah tertinggi dalam 16 tahun terakhir.
Bahkan beberapa pegawai disarankan untuk mencari pekerjaan di luar Washington, kata Nels B. Olson, HRD Korn/Ferry International.
Para pegawai yang mulai putus asa mengatakan, "Saya akan mencari kerja dimana saja". Karena mereka menyadari saingan kerja di Washington sangat berat.
Pekerjaan sebagai penasehat Washington, asosiasi sumbangan dan perdagangan adlah tanah subur bagi mantan pegawai pemerintahan, namun hal tersebut nampaknya semakin sulit bagi pengikut Republik ketika pemerintahan Demokrat memegang kekuasaan.
"Dan tidak ada satupun dari tindakan Bush yang dapat menolong mereka," kata Leonard Pfeiffer IV, seorang pegawai non-profit Washington.
Di sisi lain, mantan kepala keamanan AS Zbigniew Brzezinski menghimbau kemungkinan terjadinya kericuhan di AS jika masalah tersebut tidak segera ditangani.
Awal bulan ini, Cadangan Federal yang beru melaporkan jumlah pengangguran akan meningkat hingga 8.8%, menyebabkan kemerosotan selama setahun.
Sementara itu, Kinerja saham di Wall Street yang anjlok akhir pekan ini tak lepas dari isu nasionalisasi terhadap dua raksasa bank AS, yakni Citigroup dan Bank of America.
Isu itu kontan membuat investor kalang kabut, sehingga mereka melepaskan saham-saham di sektor keuangan, yang akhirnya membuat Wall Street melemah.
Seperti dilansir Associated Press, Minggu (22/2/2009), untuk meredam ketakutan di pasar akan nasionalisasi itu, Jumat (20/2/2009), Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintah tidak berniat untuk mengambilalih dua lembaga keuangan besar itu yang kini tengah 'berdarah-darah' akibat hantaman krisis keuangan.
Di Wall Street, pembicaraan mengenai nasionalisasi Citigroup Inc dan Bank of America Corp, memicu aksi jual di saham-saham keuangan, karena investor khawatir pemerintah mengendalikan sistem keuangan dan pada buntutnya akan mengapus kepemilikan para pemegang saham.
Isu itu membuat saham Citigroup anjlok 20 persen, sementara saham Bank of America rontok 12 persen, yang sama-sama merupakan level terendah kedua saham itu.
"Pemerintahan ini tetap yakin sistem perbankan yang dikuasai swasta adalah sistem yang tepat," kata sekretaris pers Gedung Putih Robert Gibbs ketika ditanya mengenai nasionalisasi perbankan. (ptv/ap) dikutip oleh http://www.suaramedia.com
Click Video














