Jenderal AS Stanley McChrystal mengatakan bahwa dirinya berencana untuk menghabiskan waktu delapan hingga sepuluh hari untuk merombak kebijakan perang Afghanistan yang dianggap melenceng jauh. Waktu sebanyak itu dia perlukan untuk menggelar pertemuan dengan para komandan militer dan juga sejumlah kepala desa dan propinsi untuk menentukan langkah yang akan diambil.
Dalam sebuah wawancara di Kabul sesaat setelah resmi dilantik menjadi komandan, McChrystal mengatakan bahwa tinjauan ulang tersebut akan difokuskan kepada area-area yang dapat dikuasai oleh pasukan AS, NATO dan Afghanistan.
"Kami akan mengawasi daerah-daerah yang paling penting di negara ini. Dan daerah-daerah tersebut biasanya adalah komunitas penduduk," kata McChrystal.
"Kami harus menerapkan prioritas kasar, karena kami tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan segalanya, di mana-mana," katanya.
McChrystal mulai memegang kendali ditengah upaya penambahan pasukan AS secara besar-besaran yang akan meningkatkan jumlah pasukan AS. Jumlah tentara AS akan digandakan dari 32.000 orang pada akhir tahun 2008 menjadi 68.000 orang pada akhir tahun ini. McChrystal juga mengomandani sekitar 30.000 orang pasukan dari negara-negara sekutu NATO lainnya.
Harian tersebut menyatakan bahwa McChrystal kemungkinan akan benar-benar memperhatikan kawasan lembah Korengal di sebelah timur Afghanistan, dimana pasukan AS selama bertahun-tahun terkurung dalam medan pertempuran sengit.
"Yang harus dipertanyakan di Korengal adalah: Berapa banyak dari para gerilyawan tersebut yang, jika tidak diusik, akan bertempur dengan pasukan kami?" kata McChrystal. "Saya tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Namun saya bisa merasakah bahwa kami menciptakan banyak pasukan perlawanan di berbagai pelosok dengan operasi militer yang kami jalankan. Jadi kami harus benar-benar memutuskan dimanakah kami akan beroperasi."
Harian tersebut menambahkan bahwa sang komandan juga ingin merubah cara AS dalam melakukan investigasi dan merespon terhadap korban sipil.
Korban sipil yang disebabkan oleh operasi pasukan militer asing telah membangkitkan amarah dari banyak sekali warga Afghanistan. Hal tersebut juga menjadi sumbe utama perpecahan antara pemerintahan presiden Hamid Karzai dan AS.
"Masyarakat Afghanistan, khususnya kaum Pashtun, memiliki rasa hormat dan kesetaraan yang tinggi. Hal tersebut membuat mereka memberikan penilaian yang buruk jika ada yang melakukan kesalahan, dan orang yang melakukan kesalahan harus meberikan kompensasi tersendiri," kata McChrystal. "Kami harus mengerti proses semacam itu sehingga ketika kami mencoba menjadil kontak dengan masyarakat, kami tidak malah membuat keadaan menjadi lebih buruk."
Pashtun yang oleh pemerintah Pakistan disebut Pathan, adalah komunitas adat yang terbesar di dunia. Sekitar 15.000.000 orang berdiam di Afghanistan, menjadi setengah dari populasi negara tersebut. 26.000.000 orang lainnya tinggal di seberang perbatasan Pakistan. Jumlah pengungsi Pashtun di Afghanistan di Pakistan mencapai 3.000.000 orang.
Jangan pernah mengancam atau memberikan ultimatum kepada seorang Pashtun. Para petarung pegunungan tersebut tidak menanggapi AS dengan menolak menyerahkan Usamah bin Ladin karena dia adalah pahlawan perang anti-Soviet sekaligus tamu mereka. Jika mereka menyerahkan bin Ladin, maka mereka hanya akan melanggar kode etik bersejarah Pashtunwali mereka yang masih menjadi tuntunan mereka.
Kini, kebijakan Washington dan kekerasan di lembah Swat pada minggu lalu mengancam untuk kembali mengobarkan mimpi terburuk kedua Pakistan setelah invasi India; yakni 26 juta orang Pashtun akan memisahkan diri dan kemudian bergabung dengan kaum Pashtun Afghanistan, lalu membentuk negara independen, Pashtunistan.
Hal ini akan membuat Pakistan hancur lebur, kemungkinan akan dapat memprovokasi suku Baluchi yang juga tengah resah untuk turut memisahkan diri, dan hal tersebut akan membuat India sangat tergiur untuk kembali mengerahkan kekuatan militer, dengan menempuh resiko perang nuklir dengan Pakistan. (dn/rtr) Dikutip oleh www.suaramedia.com














