Tudingan tersebut, termasuk sebuah klaim bahwa pendiri perusahaan tersebut, Erik Prince, telah membunuh para mantan pegawainya yang bekerjasama dengan para penyelidik federal, dituangkan dalam sebuah pernyataan tersumpah yang disidangkan di sebuah pengadilan Virginia pada hari Senin malam waktu setempat (Selasa pagi WIB).
Perusahaan tersebut adalah perusahaan yang dianggap terdepan dalam menyediakan pengamanan terhadap perusahaan yang sengaja disewa oleh Pentagon dan departemen luar negeri AS untuk melindungi iring-iringan militer dan menjaga para diplomat AS yang berada di Irak.
Tudingan terhadap Prince dilayangkan oleh dua orang mantan pegawainya, salah satunya adalah mantan anggota pasukan marinir AS, yang merahasiakan identitas mereka. Sehingga mereka disebut dengan panggilan John Doe (Istilah untuk menyebut orang yang tidak dikenal di AS) 1 dan John Doe 2. Mereka berdua mengatakan bahwa mereka mengkhawatirkan nyawa mereka jika identitas mereka dibongkar.
Dalam salah satu pernyataannya, John Doe 2, yang telah bekerja untuk Blackwater selama empat tahun, membenarkan bahwa Prince menganggap dirinya sebagai seorang tentara Perang Salib dari kelompok Kristen yang bertugas untuk memusnahkan kaum Muslim dan agama Islam dari muka bumi, ia juga menyatakan bahwa Blackwater menganjurkan dan menghargai pembantaian di Irak.
Mereka berdua mengklaim bahwa Prince dan sejumlah pejabat lain telah menghancurkan bukti rekaman video, e-mail dan dokumen yang memberatkan mereka, mereka juga menyembunyikan perbuatan kriminal mereka dari departemen luar negeri AS.
Dalam pernyataan tersumpahnya, John Doe 1 mengklaim bahwa – berdasarkan informasi yang diberikan kepadanya oleh mantan koleganya – tampaknya Prince dan para pegawainya telah membunuh satu atau lebih orang yang membocorkan, atau berencana membocorkan, informasi kepada pejabat federal mengenai tindakan kriminal dari Blackwater.
Pernyataan tersumpah tersebut adalah bagian dari sebuah mosi yang diajukan oleh para pembela yang mewakili 60 orang warga sipil Irak dan menuntut Blackwater atas kejahatan yang mereka lakukan. Tuntutan dari lima orang warga sipil digabungkan dan ditangani oleh seorang hakim di northern Virginia. Mosi tersebut adalah tanggapan dari permintaan yang diajukan oleh Blackwater untuk mengabaikan kasus tersebut.
Blackwater, yang telah kehilangan kontrak kerja senilai berjuta-juta dollar AS dari departemen luar negeri pada bulan Mei lalu, menyangkal tudingan yang diarahkan kepada mereka dan menentang tuntutan hukum tersebut. Masih belum ada tuduhan kriminal yang dialamatkan kepada Prince.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis untuk CNN, perusahaan tersebut mengatakan bahwa pihaknya akan menanggapi tuduhan tanpa substansi dan pernyataan tanpa nama yang diajukan oleh pihak penggugat dalam sebuah dokumen yang akan dirilis pada tanggal 17 Agustus mendatang.
Blackwater menambahkan, "Sangat jelas bahwa para penggugat lebih memilih untuk "memfitnah" tuan Prince ketimbang mengungkapkan pandangan hukum mengenai fakta sebenarnya yang akan dipertimbangkan oleh pengadilan. Kami dengan senang hati akan menghadapi mereka di pengadilan."Kami mempertanyakan penilaian dari siapapun yang membuat deklarasi tanpa nama ini."
Pernyataan tersumpah dari John Doe 2 membenarkan bahwa Prince memang dengan sengaja mencari dan mengirimkan orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan dengannya, yang menginginkan adanya supremasi Kristen. Prince mengetahui dan menginginkan orang-orang tersebut untuk mengambil setiap menit peluang yang ada untuk membantai warga Irak. Kebanyakan orang-orang tersebut mempergunakan sebutan yang didasarkan pada para Ksatria Templar, prajurit Kristen yang terjun dalam Perang Salib. Ditambahkan bahwa para anggota Blackwater seringkali mempergunakan istilah-istilah rasis dan penuh hinaan.
Dalam sebuah mosi terpisah setebal 72 halaman yang mengutip ucapan kedua orang tersebut, disebutkan pula bahwa para penjaga Blackwater melakukan pembantaian, meminum obat-obatan yang mempengaruhi pikiran, steroid, dan menyenangi prostitusi anak-anak.
Prince dituding menyelundupkan senjata ilegal ke Irak dengan mempergunakan pesawat pribadinya. Dia dituding memperkenankan anak buahnya untuk mempergunakan amunisi peledak ilegal agar memiliki dampak lebih mematikan terhadap rakyat Irak. Dia juga dituding melakukan pemerasan dan menghindari pajak.
Dalam dua pernyataan terpisah mengenai Blackwater, yang kini beroperasi dibawah Xe Services LLC, disebutkan bahwa ada sejumlah insiden tindakan berlebihan Blackwater yang direkam dalam bentuk video, kemudian ditonton bersama-sama di penghujung hari, lalu dihapus.
Pihak Blackwater menghindar ketika dimintai komentar perihal masalah tersebut oleh harian The Times kemarin.
Pengacara Blackwater bersikeras bahwa Prince dan Blackwater "tidak bersalah" terhadap apa yang dituduhkan. Juru bicara perusahaan tersebut menolak untuk berkomentar kepada media.
Kantor jaksa AS distrik Columbia menolak untuk memberikan komentar mengenai kasus tersebut.
Lima orang anggota Blackwater yang membela diri dan mengatakan bahwa mereka "tidak bersalah" dalam tuduhan pembantaian, saat ini tengah menunggu proses persidangan mengenai insiden penembakan di Nisour Square, Baghdad, pada tanggal 16 September 2007 lalu, yang membuat 17 orang warga Irak kehilangan nyawa. Seorang anggota Blackwater yang keenam, Jeremy Ridgeway, dinyatakan bersalah atas pembantaian dan upaya pembantaian warga Irak. (dn/tol/ptv) Dikutip oleh www.suaramedia.com














