Susan Rice mengatakan pada CNN bahwa tawaran Presiden Obama untuk melakukan dialog masih terbuka namun untuk waktu yang terbatas.
"Tawaran itu masih ada, dan kami menjadikannya sebagai bagian dari kepentingan nasional," ujar Rice sembari menambahkan bahwa "tawaran itu tidaklah abadi."
Namun, ia juga menambahkan bahwa Washington akan mencari cara lain untuk berurusan dengan Iran jika Teheran mengabaikan tawaran tersebut.
Barat, yang dipimpin oleh AS dan Israel, menuduh Iran membangun senjata nuklir dengan kedok aktivitas pengayaan uranium.
Bagaimanapun, Teheran membantah tuduhan itu, berdalih bahwa Perjanjian Non-proliferasi Nuklir yang ikut ditandatanganinya memberikan hak pada para anggota untuk memiliki program nuklir damai.
Selama wawancara, Rice juga menyinggung tentang konflik politik di Iran baru-baru ini dan mengkritik negara tersebut atas apa yang ia sebut "persidangan pura-pura" terhadap mereka yang memprotes hasil pemilu presiden ke-10 bulan Juni lalu.
"Menurut sudut pandang kami, Iran ingin menunjukkan bahwa mereka siap menjadi anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab dan patuh pada hukum yang berlaku," ujar Rice. "Sayangnya, semua persidangan pura-pura ini berjalan ke arah yang sebaliknya."
Paska terpilihnya kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden, aksi protes terjadi di setiap sudut jalan di Teheran. Beberapa dari aksi tersebut berubah menjadi kekerasan dan mengakibatkan setidaknya 30 orang tewas.
Dalam aksi protes tersebut, lebih dari seribu orang, termasuk sejumlah figur politik terkenal dan aktivis, ditahan dan beberapa dari mereka diajukan ke pengadilan atas tuduhan menjadi dalang kerusuhan.
Sementara itu, menurut direktur Intelijensi Nasional AS, Dennis Blair, Iran tidak akan mampu memproduksi uranium yang diperkaya pada level senjata dalam jumlah yang cukup untuk memproduksi sebuah senjata atom sebelum tahun 2013.
Blair menyerahkan sebuah dokumen yang berisi data-data penilaian tersebut kepada Komite Pemilihan Senat untuk Intelijen pada bulan April. Dokumen itu kemudian dipublikasikan oleh Federasi Sains Amerika.
Penilaian yang termuat dalam dokumen tersebut tidak mencerminkan adanya kontradiksi yang bertolak belakang antara penilaian intelijen Amerika dan Israel mengenai program nuklir Iran.
Secara keseluruhan, data-data dalam dokumen yang disediakan oleh agen intelijen AS itu menyatakan bahwa antara tahun 2010 hingga 2015 Iran akan berada dalam posisi untuk memproduksi sebuah bom nuklir.
Penilaian yang paling skeptis adalah dari Biro Intelijen dan Penelitian Departemen Dalam Negeri, yang berpendapat bahwa Iran tidak akan mampu memproduksi nuklir sebelum tahun 2013.
Dalam dokumen tersebut, Blair membuat pemisahan antara kemampuan praktis membangun senjata nuklir dengan keputusan politik oleh pemimpin Iran untuk benar-benar meneruskan proses produksi sebuah bom.
Blair mempertanyakan apakah pemimpin Iran akan terus membangun sebuah bom selama tekanan internasional terus ditujukan pada Teheran.
Dokumen itu terdiri atas serangkaian pertanyaan dan jawaban. Selain informasi mengenai ambisi nuklir Iran, dokumen itu juga menilai kemampuan militer Rusia.
Mengutip penilaian terhadap Rusia, Blair mengatakan bahwa Iran tidak akan mampu memproduksi sebuah senjata nuklir sebelum tahun 2013 karena "persoalan teknis".
Jangkauan waktu yang diperkirakan badan-badan intelijen AS bagi Iran untuk mampu membangun sebuah senjata nuklir tidak berbeda jauh dengan perkiraan yang telah dibuat oleh komunitas intelijen Israel.
Pimpinan Mossad (badan intelijen Israel), Meir Dagan, mengatakan dalam sebuah pertemuan dengan Komite Pertahanan dan Urusan Luar Negeri Knesset di bulan Juni bahwa Iran akan mampu memproduksi sebuah bom di tahun 2014.
Penilaian yang berbeda-beda itu didasarkan pada kurangnya informasi definitif mengenai program nuklir Iran oleh badan intelijen Barat. Ditambah lagi, sejumlah petinggi senior telah memilih untuk menekankan berbagai tahap perkembangan dalam kemampuan nuklir Iran.
Secara garis besar, Iran akan mampu memproduksi sebuah senjata nuklir dalam waktu dekat, namun mereka juga memiliki cara-cara lain sebelum mampu memproduksi nuklir yang dapat dipasang di ujung rudal balistik untuk menyerang Israel.
Sejak bulan Januari, pemerintahan Obama telah mencari berbagai cara selain perang untuk membujuk Iran menghentikan upayanya membangun senjata nuklir. Semua upaya itu, hingga kini, belum berhasil. Bagaimanapun, mereka telah memberikan Iran lebih banyak ruang dan waktu untuk membangun lebih banyak sentrifugal, memperkaya lebih banyak uranium, meluncurkan jalur plutonium untuk memproduksi bom, dan menguji rudal balistik yang lebih canggih. Kini, Iran lebih dekat ke arah memproduksi senjata nuklirnya yang pertama dibanding enam bulan lalu.
Laporan dari Washington mengatakan militer AS sedang berusaha mempercepat upaya pengiriman 14 ton senjata konvensional penyerang bunkernya yang baru dengan menggunakan armada pesawat siluman pengebom B-2. Massive Ordnance Penetrator (MOP) dapat digunakan untuk menyerang fasilitas nuklir Iran atau Korea Utara yang berada dalam penjagaan ketat. Pihak angkatan udara AS sedang berupaya mempercepat program MOP tersebut dengan meminta dana tambahan dari kongres.
Pentagon berharap armada B-2 itu akan dilengkapi dengan MOP secepatnya tahun depan. "Angkatan udara dan Departemen Pertahanan sedang mencari kemungkinan dipercepatnya program ini," ujar juru bicara angkatan udara, Andy Bourland. "Telah ada pembicaraan dengan empat anggota komite kongres dengan tanggung jawab pengawasan. Belum ada keputusan final yang dibuat."
Lewis Page menulis bahwa MOP adalah senjata yang relatif cukup sederhana, pensil baja besar tajam dengan 2.5 ton bahan peledak di dalamnya. Dijatuhkan dari ketinggian stratosfer, ia akan mengenai sasarannya dalam kecepatan supersonik dan menembus puluhan meter ke dalam bumi atau pelindung konkret sebelum kemudian meledak.
Senjata serupa – "Tallboy" dan "Grand Slam" yang didesain oleh spesialis bom dari Inggris, Barnes Wallis, dan dikenal dengan sebutan "bom gempa bumi" – digunakan untuk menyerang NAZI dalam Perang Dunia II. Desain yang bahkan lebih besar lagi, T-12 seberat 20 ton buatan Amerika, terlambat diselesaikan untuk digunakan dalam perang dunia. Satu-satunya pengembangan signifikan yang diklaim oleh 14 ton MOP dari model tahun 1940 adalah panduan ketepatan, yang berarti lebih sedikit pengebom yang dibutuhkan untuk menghancurkan sasaran.
Page mengatakan kemungkinan yang menjadi sasaran MOP dalam waktu dekat – dengan asumsi bahwa presiden AS akan kembali memilih jalur militer untuk mengatasi ancaman nuklir – adalah pabrik sentrifugal bawah tanah di Natanz, Iran. Satu serangan sukses ke bunker pengayaan yang terkubur jauh di dalam tanah itu akan menjadi pukulan telak bagi ambisi nuklir Iran.
Bagaimanapun, pertahanan udara Iran dalam beberapa tahun terakhir ini telah diperkuat dengan sistem rudal Rusia, dan Rusia mungkin akan segera menjual sistem yang lebih canggih lagi ke Iran. (rin/ptv/imr/hsn) Dikutip oleh www.suaramedia.com














