Sabtu, 04 September 2010

Headlines:

Tak Akui Penyaliban, Penulis Muslim Didepak Dari Penghargaan

E-mail Cetak PDF
BERLIN (Berita SuaraMedia) – Pembicaraan selama dua jam antara semua pihak telah menuntun pada sebuah titik balik dalam keputusan mengenai siapa yang akan menerima penghargaan penting budaya Jerman.

Perselisihan atas Hesse Culture Prize senilai 45.000 euro ($61.000) pertama kali muncul di bulan Mei lalu. Awalnya, penghargaan itu akan diberikan pada empat pria dari berbagai latar belakang agama – Muslim, Katolik, Luther, dan Yahudi – untuk menghormati pentingnya dialog agama.

Namun, seorang penulis Muslim bernama Navid Kermani dikeluarkan dari daftar empat calon penerima hadiah setelah ia menulis sebuah artikel mengenai penggambaran Kristen atas peristiwa penyaliban. Kardinal Katolik, Karl Lehmann dari Mainz dan Peter Steinacker, mantan kepala gereja Lutheran di Hesse dan Nasau, keberatan berbagi hadiah dengan Kermani, penulis kelahiran Iran yang tinggal di Cologne.

Di bulan Maret, Kermani menulis artikel untuk Neue Zuercher Zeitung Swiss mengenai sebuah perjalanan ke Roma, di mana ia mengunjungi sebuah lukisan abad ke-17 oleh Guido Reni yang menceritakan kisah penyaliban Yesus. Tulisan Kermani dimulai sebagai sebuah analisis terhadap lukisan itu, menuntunnya ke dalam sebuah diskusi filsafat mengenai penyaliban sebagai simbol relijius.

"Saya mengekspresikan penolakan pribadi saya terhadap teologi salib. Saya menganggapnya pemujaan berhala," tulisnya.

"Bukannya saya tidak menghormati orang-orang yang berdoa di depan salib seperti halnya orang-orang lain yang berdoa. Ini bukan sebuah tuduhan. Ini sebuah penolakan."

Sebagai respon, Lehmann dan Steinacker secara formal mengajukan komplain ke Komite Budaya Hesse. Menyerah pada tekanan yang ada, komite menanggapi keluhan itu dengan menarik penghargaan bagi Kermani.

Juru bicara parlemen Jerman, Norbert Lammert, mengekspresikan kemarahannya dan kemarahan publik Jerman pada Dewan Penghargaan Hesse karena mencabut penghargaan bagi Kermani. "Jika ini benar, mereka harusnya menghapus semua penghargaan sekaligus. Budaya itu bagus, toleransi juga, tapi seseorang tidak akan memperoleh keduanya tanpa melakukan upaya yang keras."

Dewan Sentral Muslim, salah satu dari empat kelompok Islam nasional di Jerman, menggambarkan reaksi gereja itu sebagai "kekanak-kanakan."

Ayman A Mazyek, sekretari dewan, mengatakan, "Bagaimana perasaan mereka jika seorang Muslim menolak untuk bertemu dengan pengurus gereja karena ia tidak mengakui Nabi Muhammad?"

Isu tersebut tidak berhenti sampai di situ, namun berlanjut hingga diperdebatkan di media dan di antara masyarakat umum. Komite penghargaan menunda pemberian hadiah hingga musim gugur, berharap dapat memberikan waktu pada keempat peserta (penerima penghargaan yang keempat adalah Salomon Korn, pemimpin Yahudi) untuk mengadakan dialog pemulihan.

Memang benar, isu itu nampaknya telah diselesaikan dengan sebuah pembicaraan peribadi, yang terjadi pada Jumat lalu di Mainz. Lehmann, Steinacker, dan Korn meninggalkan pertemuan dengan mengatakan bahwa Kermani "juga harus menerima penghargaan itu," menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh biskop Mainz pada Jumat malam waktu setempat.

Pembicaraan dilangsungkan "tanpa kehadiran orang lain dan mencakup semua aspek dari kontroversi". Peserta dialog mengatakan bahwa atmosfer pembicaraan adalah terbuka dan obyektif.

"Ini adalah perkembangan yang kita harapkan," ujar Dirk Metz, juru bicara Hesse.

Pimpinan Dewan Sentral Muslim di Jerman, Axel Ayyub Koehler, menyambut baik keputusan itu, "Ini adalah  sebuah kemenangan terlambat yang masuk akal."

Bagaimanapun, ujarnya, akan lebih baik jika perwakilan gereja memberikan respon yang tidak terlalu emosional sejak awal.

Konflik itu melukai banyak orang dalam komunitas Muslim, Koehler mengatakan, "Kaum Muslim juga perlu belajar untuk lebih tenang dan sabar mengenai hal-hal seperti ini," tambahnya.

Navid Kermani terkenal akan bukunya yang berjudul "Teror Tuhan", di mana ia mengeksplor dengan kejujuran intelektual yang tinggi bagaimana para penganut berbagai keyakinan kadangkala bersikap atas nama Tuhan dalam cara-cara yang sering membuat kaum tak bersalah jadi menderita.

Beberapa penghargaan yang pernah ia raih antara lain: The 2000 Ernst Bloch Prize, The 2003 Annual Prize of the Helga and Edzard-Reuter Foundation, The 2007 Public's Prize di Festival  "Wortspiele" Munich, dan The 2008 Villa Massimo Scholarship di Roma. (rin/dw/it) Dikutip oleh www.suaramedia.com

Altetik

Federer Tak Terhadang, Davdenko Tumbang
Kejutan lain terjadi saat unggulan ke-11 Marin C...More »

Berita Gadget Terkini

Sony Kembangkan Laptop 3D Canggih Dengan Kacamata Istimewa
"Teknologi frame sequential dengan cepat memutar...More »

Otomotif Terbaru

Veloce 1200, Motor Sporty Nan Gahar Dengan Jiwa Streetfighter
Veloce didukung oleh mesin canggih bertenaga bes...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon