Mayor Nidal Hasan, melepaskan tembakan dengan dua pistol ke arah rekan-rekannya di Fort Hood, Texas, kemarin sebelum kemudian ditembak oleh seorang polisi wanita. Mayor Hasan, 39, kini berada dalam kondisi stabil dan menggunakan alat bantu pernapasan.
Penembakan itu memicu berbagai reaksi dan kemarahan di markas hari ini, di mana penembakan tersebut langsung digambarkan sebagai sebuah aksi terorisme Islam.
Komandan markas, Letnan Jenderal Bob Cone mengatakan bahwa para saksi mata mendengar sang Mayor berteriak "Allahu Akbar" saat ia melakukan serangan. Teriakan itu dianggap sebagai sebuah panggilan Jihad oleh masyarakat.
Lebih dari 30 orang terluka, 28 dari mereka masih dirawat di rumah sakit.
Mayor Hasan lahir di Virginia Utara dari orangtua yang berimigrasi ke Amerika dari sebuah kota kecil di dekat Yerusalem.
Dalam sebuah wawancara dengan The Times di kota al-Bireh, Tepi Barat, sepupunya, Mohammed Hasan, mengatakan bahwa Mayor Hasan telah meminta bantuan pengacara untuk membantunya keluar dari militer.
"Selama enam bulan ia berusaha keluar dari militer," ujar Mohammed, 24 tahun.
"Saya rasa karena ia seorang Muslim ia tidak mau pergi ke Afghanistan atau Irak, dan ia tidak mau mengekspos dirinya pada kekerasan atau kematian," ujarnya.
Mohammed mengenang seorang pemuda menyenangkan yang penasaran dengan tanah airnya, ang tinggal di al-Bireh selama beberapa minggu 12 tahun lalu, dan sangat senang telah menyelesaikan sekolah dan akan bergabung dengan militer.
"Kami tidak pernah melihat ada perilaku yang aneh dari dirinya," ingat Mohammed. "Kami tidak pernah membahas politik. Saat itu ia hanya merasa sangat senang berada di sini."
Namun Mohammed mengatakan bahwa ia telah mendengar dari kerabatnya di Amerika bahwa Mayor Hasan telah diperlakukan buruk baru-baru ini oleh rekan-rekannya di kemiliteran. "Ia diperlakukan seperti seorang Muslim dan Arab, bukan seorang Amerika. Ia didiskriminasi," ujar Mohammed. "Tapi itu bukan alasan yang cukup untuk melakukan apa yang ia lakukan," tambahnya.
Ia dipindah ke Fort Hood pada bulan Juli setelah menghabiskan enam tahun di Pusat Medis Militer Walter Reed di Washington DC, di mana ia menyelesaikan pelatihan medisnya.
Salah satu tetangga Mayor Hasan di Texas menceritakan bagaimana ia membersihkan apartemennya di Killeen beberapa hari menjelang penyerangan, mengatakan bahwa ia akan ditugaskan ke luar negeri.
Sang tetangga, Patricia Villa, mengatakan bahwa Mayor Hasan datang ke flatnya pada hari Rabu dan memberinya brokoli beku, bayam, kaus, rak, dan sebuah Al Quran baru.
Ia kembali lagi keesokan paginya dan memberinya matras, beberapa kopor, dan lampu meja, serta menawarkannya uang USD 60 untuk membersihkan apartemennya saat ia pergi.
Tetangga lain mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Mayor Hasan mengenai penundaan penugasan dan tampaknya ia baik-baik saja. "Saya menanyakan bagaimana perasaannya ditugaskan ke sana, dengan agama mereka dan semuanya, dan ia mengatakan,Ini akan menarik," ujar Edgar Booker, mantan tentara berusia 58 tahun yang kini bekerja di kafeteria markas.
Kolonel Steve Braverman, komandan rumah sakit Fort Hood, mengatakan bahwa Mayor Hasan telah mendapat perintah penugasan ke Afghanistan, yang berarti bahwa dalam beberapa minggu lagi ia sebenarnya akan dikirim ke sana.
Saat investigator negara bagian dan federal mengumpulkan bukti-bukti dari lokasi kejadian, baik pihak militer maupun para pemimpin politik tidak mau memanaskan situasi dan menolak untuk memperlakukan insiden itu sebagai serangan teror.
Kelompok Muslim terbesar AS, CAIR, juga menolak anggapan bahwa tragedi tersebut merupakan teror Islam radikal, karena sebenarnya penyerangan tersebut sebenarnya berlatarbelakang diskriminasi agama yang seringkali diterima Hassan selama berada di militer.
"Kami mengecam serangan pengecut ini dan meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku. Tidak ada ideologi politik atau relijius yang dapat membenarkan atau menjadi alasan tindak kekerasan yang diskriminatif ini. Serangan ini mengerikan terutama karena mentarget para tentara sukarelawan yang melindungi bangsa kita. Muslim AS berdiri bersama rekan–rekan sebangsa untuk endoakan para korban dan menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan."
Bersama dengan kecaman terhadap teror tersebut, CAIR telah meluncurkan sebuah petisi anti-teror online berjudul "Bukan atas nama Islam," menginisiasi kampanye melawan ekstremisme relijius, serta mengeluarkan sebuah fatwa melawan terorisme dan ekstremisme. (rin/to/ss/sm) www.suaramedia.com
Click Video- Guinea Perbaiki Keislaman Muslim Lewat Renovasi Masjid
- "Qurban Untuk Mengabadian Amal" Menyerbu Dunia!
- Kemurah-hatian Muslim AS Jangkau Korban Fort Hood
- Teror Kematian Ancam Muslim AS Pasca Tragedi Fort Hood
- Perluas Pengaruh Di Dunia Islam, China "Ralat" Konflik Uighur














