Grup yang diberi nama setelah Komite Kerajaan Saudi untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Keburukan ini bertujuan memperkenalkan masyarakat kepada polisi agama.
Pengelola grup telah menyusun beberapa persyaratan untuk menjadi anggota, termasuk tidak menggunakan bahasa yang buruk atau mengumpat polisi, hanya topik-topik serius yang dapat dibahas, dan harus bersikap toleran serta berpikiran terbuka.
Jika ada anggota yang menghina Islam mereka akan mendapatkan peringatan tiga kali sebelum dihapus keanggotaannya.
Banyak warga Saudi yang tertarik untuk bergabung dengan grup ini dan banyak dari anggota yang memuji peran komite dalam masyarakat Saudi dan cara mereka melindungi warga dan menerapkan tata tertib.
Beberapa anggota menunjukkan bahwa aksi mempromosikan kebajikan dan mencegah keburukan tidak hanya terbatas pada polisi. Mereka berargumen bahwa memelihara masyarakat adalah sebuah prinsip dasar dalam Islam.
Anggota lainnya mengkritik grup ini karena menghapus entri mereka dan menuduh pengelola bersikap diskriminatif.
"Itu tidak benar," ujar pengelola grup. "Kami hanya menghapus entri jika isinya menghina Islam. Jika tidak, anggota yang memulai diskusi berhak menghapus komentar yang tidak mereka sukai."
Para sukarelawan merespon tuduhan terhadap komite dan memberikan saran serta mempromosikan prinsip-prinsip Islam. Meski demikian, pihak kepolisian agama yang resmi mengatakan bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan grup Facebook ini, memicu sebuah pertanyaan mengenai kelompok di balik berdirinya grup maya tersebut.
"Hingga sekarang kami tidak memiliki kontribusi dalam grup Facebook tersebut dan tidak bertanggung jawab atas isinya," ujar juru bicara Komite, Abdul Mohsen Al Qafari. (rin/ab) www.suaramedia.com
- Survey Terbaru Buktikan Mayoritas Warga AS Tak Anti-Masjid
- Mahasiswi Muslim AS Ungkap Misteri di Balik Jilbab
- Mantan Tentara Pengancam Peledak Masjid Berakhir di Penjara
- Hadirkan Kubu Anti-Islam, Sidang 9/11 Picu Kemarahan
- Sekolah Bisnis Dunia Berlomba Memeluk Syariah Islam














