"Kaum Muslim harus memahami keyakinannya dan mengetahui bahwa mereka tidak seharusnya menjadi pengemis tapi berkontribusi bagi perkembangan dan penyebaran Islam," ujarnya. Kiyingi adalah pembicara tamu dalam tur Kabukye di distrik Khadis, Kamuli, baru-baru ini.
Ia memperingatkan mereka agar tidak memegang keyakinannya terhadap tradisi Islamisme tradisional yang mendorong mereka untuk memiliki beberapa istri dan menghasilkan banyak keturunan. "Memiliki banyak istri dan anak sudah tidak jamannya lagi. Sebagai seorang Muslim mari kita berpikir tentang ukuran keluarga yang lebih kecil dan berinvestasi dalam pendidikan," ujarnya.
Khadhi distrik Kamuli Sheikh Ibrahim Muganza mendorong kaum Muslim Uganda untuk bersatu. Muganza mengatakan bahwa pembangunan Muslim, seperti sekolah, membutuhkan banyak dukungan untuk mengejar ketertinggalan dari kelompok relijius lainnya.
Islam masuk ke Uganda di akhir tahun 1844, ketika Ahmed Ibn Ibrahim tiba di istana Kabaka. Selain itu, juga dipercaya bahwa Muslim Arab/Swahili lainnya sampai di Buganda di akhir tahun 1830an, di masa kekuasaan Raja Suuna II. Mungkin juga Islam telah masuk ke Uganda jauh sebelumnya melalui axis utara, dari Mesir dan Sudan. Yang tidak menjadi perdebatan adalah fakta bahwa Islam masuk ke Uganda setidaknya 33 tahun lebih dulu daripada Kristen.
Meskipun Islam tidak diperkenalkan di Uganda melalui sebuah sistem dakwah yang terorganisir dengan baik, banyak warga Buganda termasuk Raja Mutesa I yang akhirnya memeluk Islam, Islam memang diajarkan di istana Raja Suuna II. Raja bahkan menerima satu kopi Al Quran dan ketika ia wafat, Raja Suuna telah menghafalkan empat juz Al Quran. Mutesa I tidak masuk Islam tapi juga mempelajari Islam, menjadikan istananya di Banda sebagai Pusat Pendidikan Islam yang pertama.
Kedatangan misionaris masyarakat misionaris Gereja (CMS) di Buganda tahun 1877 dan Bapa-bapa Kulit Putih tahun 1879 membuka sebuah era baru.
Tak lama setelah itu, keyakinan Mutesal dalam Islam ternodai dan konflik relijius pun muncul yang berujung pada perang antar agama. Kaum Muslim melawan dengan gagah berani namun akhirnya kalah. Pada tanggal 18 Oktober 1888, kaum Muslim mengalahkan umat Kristen dan memaksa mereka keluar dari ibukota Buganda. Kelompok Kristen itu pun melarikan diri ke Ankole untuk mengorganisir kelompoknya dan kembali.
Kekuatan gabungan umat Kristen dan Mwanga akhirnya mengalahkan kaum Muslim dalam pertempuran di Bankabiira, Kitebi, dan Balwaanyi. Umat Kristen mengambil alih Buganda dan pengaruh Eropa memperoleh landasan yang kuat dalam wilayah perpolitikan Buganda dan akhirnya Uganda.
Banyak kaum Muslim yang kemudian melakukan hijrah yang membuat Islam tersebar ke luar Buganda. Kepindahan umat Islam sebagai reaksi kekalahan dalam perang akhirnya malah menjadi pencapaian besar dalam perang antar agama. Kaum Muslim mengubah kekalahan menjadi peluang untuk menanam benih-benih Islam yang perbatasannya meluas hingga di luar kerajaan Buganda. (rin/mt/mr) www.suaramedia.com
- Badan Anti-Diskriminasi Belgia "Musnahkan" Jilbab Dari Sekolah
- 500 Muslim Paling Berpengaruh Di Muka Bumi, Siapa Mereka?
- Pendeta Peng-Kristen 80 Muslim Terbunuh Dalam Gereja
- Rumania: Belajar Islam Tak Harus Di Sekolah Nyata
- Inggris Kenali Islam Lebih Jauh Dalam Pekan Kesadaran














