Denda sebesar 500 rubel (USD 17) dijatuhkan oleh pengadilan distrik di kota Orsk, Kawasan Orenburg, Urals Selatan. Kasus itu diajukan ke pengadilan setelah sang imam menolak untuk menerima keputusan serupa dari sebuah komisi administratif.
Komisi tersebut menemukan bahwa sang imam, yang bekerja di Masjid kota, menggunakan pengeras suara untuk melantunkan adzan setiap hari, mulai pukul 5.30 pagi hingga 11 malam. Penduduk lokal berulang kali mengeluh bahwa panggilan itu membangunkan tidur anak-anak mereka.
Setelah hukuman diumumkan, sang imam meyakinkan semua orang bahwa mulai sekarang ia hanya akan menggunakan pengeras suara mulai pukul 7 pagi, menurut jadwal yang telah diputuskan oleh hukum Rusia.
Islam saat ini menjadi agama terbesar kedua di Federasi Rusia. Menurut perhitungan terbaru oleh Agensi R&F, terdapat sekitar enam juta penganut asli Islam di Rusia, dan lebih dari 20 juta lainnya yang juga mengidentifikasikan diri sebagai pemeluk Islam, sebuah angka yang telah naik 40% dalam 15 tahun terakhir.
Menurut sumber yang sama, Rusia telah meminta untuk bergabung menjadi anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) dari statusnya sebagai pengamat sejak 2005.
Komunitas Muslim terkonsentrasi di antara minoritas kebangsaan lainnya di area antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Adyghe, Balkars, Chechens, Circassians, Ingush, Kabardin, Karachay, dan sejumlah orang Dagestani.
Di kawasan Sungai Volga terdapat populasi Tatar dan Bashkir, mayoritas dari mereka adalah Muslim. Juga ada sejumlah orang Rusia yang masuk Islam, beberapa dari mereka berpartisipasi dalam konflik Chechen melawan tentara Rusia.
Meningkatnya populasi Muslim Rusia, serangan teroris, dan penurunan populasi etnis Rusia membangkitkan xenophobia (tidak menyukai atau takut terhadap segala sesuatu yang berbeda dari dirinya) dan Islamophobia di Rusia. Serangan rasis oleh etnis Rusia, terutama kelompok neo-Nazi, yang dulu hanya dilakukan terhadap kaum Yahudi, kini semakin meningkat terhadap kaum Muslim. Tahun 2006 terdapat 539 orang yang menerima serangan, naik 17% dari tahun sebelumnya. Hampir separuh dari 56 orang yang tewas dalam serangan-serangan itu berasal dari Kaukasus Utara dan Asia Tengah.
Rusia bukan satu-satunya negara di Eropa yang bermasalah dengan suara adzan. Sejumlah Masjid di kota Baku dan Ganca di Azerbaijan harus mengecilkan volume lantunan adzan shubuh mereka mulai tanggal 1 Mei.
Rahima Dadasheva, juru bicara Dewan Muslim Kaukasus, mengatakan bahwa pengecilan volume itu untuk mengurangi masalah yang dihadapi oleh para penghuni apartemen di dekat Masjid.
Namun, ia mengakui bahwa tidak ada keluhan dari warga sekitar Masjid.
Dadasheva mengatakan bahwa itu bukan persoalan penting karena volume adzan hanya dikecilkan di beberapa Masjid.
Aktivis HAM mengatakan bahwa tindakan itu melanggar kebebasan beragama.
Beberapa Masjid bahkan tidak mengumandangkan adzan.
Pejabat negara mengatakan bahwa pembatasan itu jangan dianggap sebagai sebuah larangan. (rin/ie/rf/wp) www.suaramedia.com














