Pertanyaan tentang penggunaan ekspresi eksternal keyakinan ditemukan di tiga sektor utama, yaitu pekerjaan, layanan publik, dan pendidikan. Karena CGKR meluncurkan sebuah situs di mana mereka merumuskan rekomendasi untuk ketiga sektor itu.
Kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan seseorang dengan cara yang damai harus menjadi titik awalnya, ujar Jozef de Witte, direktur CGKR. "Secara alami, tidak ada satu kebebasan pun yang absolut. Pembatasan harus diterapkan dengan hati-hati. Dengan kata lain, sebuah larangan harus menjadi sebuah perkecualian dan bukan peraturan umum," ujar de Witte.
Dalam bidang pendidikan, CGKR berpendapat bahwa sistem yang ada sekarang telah mencapai batasnya. De Witte mengatakan harus ada pengaturan legal, namun mereka tetap menginginkan sebuah perdebatan tenang yang melibatkan semua orang yang berkepentingan. Kebebasan individu pelajar harus tetap menjadi prinsip dasar, namun dapat dibatasi untuk mengatasi kegiatan misionaris dan atas nama keamanan.
CGKR ingin melarang ekspresi eksternal keyakinan di pendidikan dasar. Sedangkan untuk pendidikan menengah, komunitas harus memulai sebuah proses untuk memikirkannya kembali. Kebebasan individual harus tetap ada di pendidikan yang lebih tinggi.
Bulan Juni lalu, sekitar 100 orang berkumpul di sekolah menengah atas Antwerp untuk memprotes pelarangan terhadap jilbab di satu-satunya sekolah Belgia yang masih mengijinkan pemakaian jilbab.
SMA Antwerp dan Hoboken mengumumkan bahwa mereka berniat untuk mengikuti langkah sekolah-sekolah lain dan melarang pelajar Muslim mengenakan jilbab mulai tahun ajaran baru mendatang.
Pihak sekolah mengatakan bahwa larangan itu ditujukan pada semua simbol politik dan agama.
Larangan itu diperkirakan akan mempengaruhi sekitar 50% dari pelajar wanita di sekolah tersebut, menurut Nordin al Taweel, mantan presiden Eksekutif Muslim Belgia, organisasi nasional Muslim Belgia.
Namun, pengelola sekolah mengatakan bahwa jumlah gadis berjilbab di sekolah mereka tidak lebih dari lima orang dan bahwa mereka akan mempertimbangkan kembali persoalan itu jika pemakai jilbab lebih banyak.
Taweel mengatakan bahwa dari 148 sekolah dasar dan menengah, hanya 23 yang mengijinkan pemakaian jilbab.
Sekitar 100 Muslim, termasuk beberapa pelajar, berkumpul di Sint-Jansplein Antwerp untuk memprotes larangan itu, menyusul seruan dari Taweel untuk melakukan demonstrasi.
Antwerp adalah rumah bagi komunitas Muslim dalam jumlah besar yang sebagian besar terdiri atas pendatang Maroko dan Turki. Ia juga mendesak para orangtua untuk memboikot sekolah itu dengan tidak mengirimkan anaknya menuntut ilmu di sana. Namun, seruan boikot itu memicu beragam reaksi dari kaum Muslim maupun rakyat Belgia.
Mohamed Bouziani, kepala Jaringan Inisiatif Maroko, mengatakan bahwa menurutnya seruan untuk boikot itu terlalu jauh.
"Bagaimanapun, kami keberatan dengan larangan terhadap jilbab," tambahnya.
Naema Langri, anggota partai Demokrat Kristen, mengatakan bahwa seruan boikot Taweel datang di saat yang tidak tepat, sedangkan menteri pendidikan Frank Vandebroucke menyebut seruan Taweel itu tidak dapat diterima. (rin/ie/ab) www.suaramedia.com
- Brazil, Rumah Baru Bagi Perkembangan Islam
- Masjid California Hadirkan Cara Baru Perangi Penyakit Sosial
- Munculnya "Allah" Di Gereja Timbulkan Pertanyaan Muslim
- Lantunkan Adzan Terlalu Awal, Imam Rusia Didenda
- "Muslim Tak Akan Dihargai Sebelum Memiliki Negara Sendiri"














