Menurut data tersebut, tidak ditemukan warga yang memiliki nama "God" (Tuhan) atau Jahve (Yahweh), namun terdapat 152 orang bernama Shiva, 167 Oden, 19 Zeus, dan 667 Yesus.
Dalam perdebatan terbaru mengenai nama-nama yang boleh diberikan kepada anak-anak warga, Dinas Perpajakan Swedia (Skatteverket) telah memberitahukan kepada sepasang orang tua yang memiliki anak berusia dua bulan di Skane, selatan Swedia, agar tidak memberi nama "Allah" kepada anaknya.
Namun pasangan tersebut memberi tahu surat kabar The Local bahwa mereka tidak berniat mengajukan permohonan atas larangan yang diajukan Skatteverket tersebut.
Menurut hasil keputusan tersebut, Skatteverket telah terhempit dilema karena dengan melarang nama tersebut, mereka telah membuat batasan, namun jika menyetujuinya maka membuat sebagian warga merasa terhina karena berkaitan dengan keagamaan.
Seorang tokoh utama Skatteverket, Lars Tegenfeldt memberi tahu surat kabar The Local bahwa beberapa tokoh agama masyarakat juga mendesak dirilisnya larangan terhadap nama-nama yang berhubungan dengan agama agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Tuhan atau Allah atau Iblis mampu menyinggung sebagian kelompok masyarakat. Bukan saya secara personal, namun beberapa komunitas beragama berpikir demikian," tuturnya.
"Meski demikian, beberapa nama yang bersangkutan dengan keagamaan, Yesus contohnya, dianggap normal," dia menambahkan.
Pada tahun 2007, sepasang orang tua dilarang memberikan nama putrinya "Metallica", meski larangan tersebut akhirnya dicabut, sementara di bagian lain Swedia membolehkan seorang putra diberi nama "Google". Beberapa nama lainnya yang cukup kontrovesial, meliputi "Q", "Token" dan "Michael Jackson".
Terdapat beberapa kasus tinggi di Swedia yang bersangkutan dengan nama, dimana beberapa wilayah membuat keputusan yang serampangan mengenai pemberian nama.
Masuknya Islam ke Swedia memiliki sejarah yang panjang.
Selama abad ke-18, Swedia merupakan sekutu Kerajaan Ottoman, dimana pemimpin Swedia kala itu, Raja Carl XII hidup di bawah perlindungan Ottoman sejak 1709 hingga 1714. Selama masa itu, ketertarikan Swedia terhadap Islam mencapai puncaknya. Segera, Swedia menjadikan Islam sebagai salah satu agama resmi di negara tersebut. Selama masa itu pula, banyak universitas di Swedia yang mempelajari Islam.
Kaum Tatar Baltik merupakan komunitas Muslim pertama di Swedia, yang umumnya merupakan pendatang dari negara-negara mayoritas Islam (Turki, Maroko, Irak). Sedang kelompok Muslim terbesar kedua berasal dari Yugoslavia, Bosnia, dan Kosovo.
Hingga saat ini, beberapa Masjid telah didirikan di Swedia, termasuk di Malmo dan Stockholm.
Pada tahun 2000, diperkirakan populasi Muslim Swedia mencapai 300.000 – 350.000 dan terus berkembang dari tahun ke tahun. (al/ie/tl/wp) www.suaramedia.com














