"Kurangnya dana menghalangi seluruh usaha kami untuk membeli sebidang tanah di Kopenhagen yang rencananya akan kami manfaatkan untuk pembangunan Masjid," Abdel-Hamid Al-Hamdi, ketua Dewan Islam Denmark mengatakan kepada IslamOnline via telepon.
Pada tahun 2006 silam, pemerintah kota Kopenhagen telah menyetujui proposal komunitas Muslim untuk membangun Masjid pertamanya di ibukota.
"Kota bahkan telah menawarkan sekitar 12 lahan tanah untuk kami pilih salah satunya," lanjut Al-Hamdi.
Beberapa pemimpin Muslim sepakat untuk memilih lahan sebesar 5.000 kubik meter seharga $5 juta yang berlokasi di dekat area komunitas Muslim di ibukota.
"Namun untuk pembangunan secara menyeluruh, meliputi Masjid dan Pusat Islami, kami perkirakan akan menghabiskan dana sebesar hampir $10 juta," Al-Hamdi menjelaskan.
Dana yang telah berhasil mereka kumpulkan nampaknya tidak cukup, karena di saat yang bersamaan, mereka juga membangun sebuah Masjid di Arhus, kota terbesar kedua di Denmark.
"Muslim tidak mampu mendanai pembangunan tersebut di tanah Denmark, salah satu negara dengan harga tanah termahal di dunia," Sheikh Radwan Mansour, ketua Masyarakat Kultur Arhus.
Meski telah sejak 2006 pemerintahan Denmark mengizinkan komunitas Muslim untuk membangun Masjidnya sendiri, namun hingga kini impian tersebut belum terwujud.
Denmark memiliki masyarakat Muslim yang diperkirakan sebanyak 250.000 dari 5.4 juta jiwa.
Islam merupakan agama terbesar kedua setelah Gereja Kristen Lutheran yang juga agama resmi pemerintahan Denmark.
Hubungan Denmark dengan dunia Muslim sempat merenggang setelah sebuah surat kabar Denmark merilis gambar kartun Nabi Muhammad pada tahun 2005.
"Sebagai rasa permintaan maaf, pemerintah Denmark memberikan jawaban atas permintaan komunitas Muslim untuk membangun Masjid di negara itu," ujar Al-Hamdi.
"Satu-satunya hambatan yang kami temui adalah masalah kekurangan dana untuk membeli tanah serta mendirikan Masjid," dia menambahkan.
"Ini adalah tantangan utama bagi seluruh Muslim. Dunia tengah mengawasi, dan solusi ada di tangan komunitas kami."
Komunitas Muslim Denmark bahkan melakukan perjalanan ke beberapa negara Teluk untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan tersebut.
"Yang kami dapatkan hanyalah janji. Tidak ada perubahan yang terjadi," keluh Al-Hamdi.
Para pemimpin Muslim juga mengingatkan akan adanya kemungkinan serangan dari pihak-pihak sayap-kanan yang anti-Islam.
"Kekerasan yang terjadi di Swiss, mungkin juga akan terjadi di Denmark," kata Al-Hamdi merujuk pada kasus larangan pembangunan menara Masjid di Swiss.
Dia mengingatkan juga akan usaha-usaha yang dilakukan Partai Rakyat Denmark (DPP) yang berusaha keras melarang adanya pembangunan Masjid di negara Skandinavia.
"Meski pemerintahan telah menolak usaha tersebut, namun kini DPP bertindak semakin agresif dengan membawa proposal mereka ke parlemen."
DPP pada hari Rabu, 9 September 2009 silam meluncurkan sebuah kampanye iklan besar-besaran melawan pembangunan Masjid-Masjid di negaranya, lapor situs berita EuroNews.
"Politisi pemerintah kota Kopenhagen memutuskan untuk mendirikan sebuah Masjid besar di tengah kota," tulis partai itu dalam sebuah iklan satu halaman penuh yang dipublikasikan di beberapa harian Denmark.
Kampanye iklan juga mengkritik rencana pembangunan Masjid lain di kawasan pinggiran selatan Amager, mengklaim bahwa proyek itu akan didanai oleh "diktator Arab Saudi".
Walikota Kopenhagen untuk Kesehatan dan Perawatan, Mogens Lonborg, mengkritik kampanye anti-Masjid dan menuduhnya sebagai bagian dari upaya untuk merusak kebebasan beragama.
"Saya tidak peduli pada kampanye itu. Kita memiliki kebebasan di Denmark, dan jika kau mencoba untuk menghalangi kaum Muslim berkumpul di Masjid, saya pikir itu merusak kebebasan beragama," ujarnya kepada MetroXpress. (al/io/sm) www.suaramedia.com















