Kementerian pembangunan rural India kini sedang mempertimbangkan minoritas secara keseluruhan, tidak hanya "Muslim", yang akan mendapat poin tambahan dalam identifikasi BPL. Kementerian mengadakan sensus untuk mengidentifikasi keluarga-keluarga BPL, yang akan dilaporkan tahun ini.
Para sumber mengatakan bahwa sebuah pemikiran ulang tentang apakah kaum Muslim sebagai sebuah komunitas harus dipertahankan sebagai penerima poin khusus dalam sensus BPL dimulai setelah beberapa negara bagian mengatakan bahwa itu tidak bijaksana, beberapa negara bagian itu, yang dilaporkan sebagian besar dari mereka dikuasai oleh BPJ, merasa bahwa itu akan mengirimkan pesan yang salah.
Sumber-sumber itu juga mengatakan bahwa kementerian masih belum memutuskan antara "Muslim" dan "minoritas" dan sebuah sudut pandang final akan diambil atas metodologi laporan Saxeena untuk sensus BPL. Meski demikian, perdebatan itu terlihat menarik.
Sementara komisi Sachar dan survei-survei lainnya, dari waktu ke waktu, telah mengidentifikasi sebagian kaum Muslim ke dalam kategori miskin, sumber-sumber mengatakan adanya usulan bahwa penggunaan kata "minoritas" akan mencegah segala perasaan waswas bahwa sebuah komunitas lebih disukai dalam kesejahteraan kemiskinan. Kata itu, selain menyingkirkan kemungkinan timbulnya kecemburuan sosial, juga tidak mengganggu komunitas minoritas lain yang dapat merasa kecewa.
Di antara para keluarga yang dicsurvei, ada beberapa ukuran yang diberikan kepada sejumlah kelompok sosial. Sementara SC/ST mendapat tiga poin, Kasta Paling Terbelakang (MBC) akan memperoleh dua poin. Laporan Saxeena menambahkan bahwa kaum Muslim dan OBC akan diberi masing-masing satu poin.
Kementerian pembangunan rural merasa bahwa metodologi yang disarankan oleh panel Sazeena untuk sensus BPL cukup kuat, terutama metode "inklusi dan eksklusi otomatis". Konsep tersebut dianggap adil dan kuat.
Menurut konsep tersebut, beberapa keluarga tertentu tidak akan masuk kategori BPL sama sekali. Mereka antara lain adalah: rumah tangga yang memiliki dua kali lipat dari rata-rata tanah teririgasi sebuah distrik, atau memiliki kendaraan roda dua atau empat, atau memiliki peralatan pertanian, atau memiliki anggota keluarga yang merupakan pegawai pemerintah, atau memiliki pekerja di sektor swasta dengan pendapatan di atas 10.000 rupee per bulan.
Sebaliknya, kelompok tribal primitif, rumah tangganya dikepalai orang seorang wanita atau anak kecil, keluarga dengan pencari nafkah utananya yang memiliki kekurangan fisik atau rumah tangga dari kaum "mahadalit" akan secara otomatis dimasukkan ke dalalm daftar BPL, meskipun tanpa survei terlebih dahulu. (rin/ti) www.suaramedia.com














