"Kami harap dokumenter tersebut dapat memberikan gambaran yang positif dalam hubungan antara anggota Gereja Baptis dengan Muslim, gambaran yang secara berangsur mampu mengikis pandangan negatif yang mulai merasuki budaya Amerika," Robert Parham, ketua Baptist Center for Ethnic, mengatakan kepada surat kabar Tennessean Saturday, 2 Januari 2010.
Dokumenter berdurasi panjang berjudul "Different Books, Common Word" (Buku yang Berbeda, Bahasa yang Sama), menghadirkan kisah lima persahabatan antara Muslim dan Nasrani di seluruh Amerika.
Dokumenter tersebut menunjukkan bagaimana umat Muslim memberikan bantuan ketika kelompok non-Muslim tengah mendapat masalah, menyediakan bantuan dan persinggahan untuk para korban angin topan.
Selain itu, juga terlihat bagaimana komunitas Nasrani memberikan bantuan sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap Muslim yang mendapatkan musibah ketika Masjid mereka dibakar oleh kelompok supremasi kulit putih pada 2008.
Secara gamblang, film ini juga menunjukkan bahwa Muslim Amerika juga merupakan kelompok masyarakat yang sama, yang juga memiliki selera humor.
"Kami mencoba bekerja bersama untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita memiliki lebih banyak persamaan daripada perbedaan," Orhan Osman, eksekutif direktur Institut of Interfaith Dialogue di Oklahoma City.
"Kami mencoba membantu masyarakat untuk mengerti mengenai kedua agama dan membuat hubungan yang baru."
Dokumenter tersebut, yang diproduksi oleh EthicsDaily.com, berafiliasi dengan Baptist Center of Ethics, merupakan salah satu dari sekian banyak film yang mengangkat mengenai konflik yang terjadi karena perbedaan agama dan sudut pandang politik.
Film tersebut akan ditayangkan oleh ABC di beberapa saluran televisi dalam bulan Januari dan Februari mendatang.
Tujuan utama film ini adalah untuk menunjukkan bahwa agama apapun melarang kekerasan.
"Kami memiliki beberapa ekstrimis di kedua pihak," ujar Bruce Prescott, Direktur Eksekutif Mainstream Oklahoma Baptists.
Timothy McVeigh, seorang veteran militer AS dan penjaga keamanan, dituduh mendalangi peledakan Gedung P. Murrah di Oklahoma City pada 1995, menewaskan 168 orang.
Seorang pemuda berusia 23 tahun asal Nigeria minggu lalu ditahan setelah mencoba usaha peledakan pesawat Detroit.
"Yang perlu kita sadari adalah bahwa para ekstrimis tersebut hanyalah seorang ekstrimis, bukan karena agama mereka," Prescott menambahkan.
Prescott menyuarakan harapan bahwa dokumenter tersebut mampu membuat masyarakat berpikir jernih dan menghilangkan stereotipe yang menguasai pikiran mereka yang berpikir bahwa kekerasan terjadi karena suatu agama.
"Kami mencoba mencari cara yang lebih umum untuk menyebarkan pesan perdamaian."
Komunitas Muslim Amerika, yang diperkirakan berjumlah enam hingga tujuh juta jiwa, telah menjadi sorotan publik setelah serangan 11 September 2001 di New York.
Mereka menjadi korban diskriminasi karena asal serta agama mereka. LIHAT VIDEO (al/io) www.suaramedia.com














