Anggota parlemen dari Partai Buruh, Perry Barr Khalid Mahmood, mengatakan bahwa telah menjadi sebuah kebutuhan untuk mem-profile para penumpang dari ras dan kelompok agama tertentu untuk menyaring kemungkinan tersangka teror.
"Saya rasa kebanyakan orang akan lebih memilih untuk di-profile daripada diledakkan. Ini tidak akan menjadi pentargetan terhadap seluruh komunitas," ujarnya.
Mahmood mengatakan bahwa beralasan bagi kaum Muslim disisihkan untuk pemeriksaan keamanan ekstra di bandara-bandara setelah upaya pengeboman di Detroit.
"Jika orang-orang ingin terbang dengan aman, kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan hal-hal seperti plot Hari Natal kemarin. Profiling mungkin adalah harga yang harus kita bayar."
"Faktanya adalah mayoritas orang yang telah melakukan atau merencanakan serangan-serangan teror itu adalah Muslim," ujarnya.
Agen Perbatasan Inggris mengatakan profiling adalah salah satu prosedur keamanan yang digunakan terhadap orang-orang yang datang ke Inggris, namun Departemen Transportasi menolak untuk mengatakan apakah itu juga digunakan terhadap para penumpang yang meninggalkan negara tersebut.
Opini kaum Muslim sendiri tentang persoalan ini terpecah kemarin, dengan beberapa kelompok yang keberatan terhadap langkah tersebut karena takut akan meminggirkan komunitasnya.
"Prosedur semacam itu tidak hanya akan menyisihkan orang-orang, tapi juga tidak efektif untuk menghentikan terorisme. Apa yang akan mencegah mereka berpakaian layaknya Yahudi ortodoks demi untuk menghindari pemeriksaan berdasarkan profiling?"
Namun, banyak Muslim Inggris yang kini setuju dengan Mahmood.
Dr. Shaaz Mahboob, dari Demokrasi Sekuler Muslim Inggris, mengatakan, "Kami telah melihat bahwa orang-orang tertentu yang cocok dengan profil tersebut – pemuda dari latar belakang etnis tertentu – telah terlibat dalam aktivitas teror, dan mentarget orang-orang semacam ini akan memberikan rasa aman yang lebih besar pada para penumpang."
"Profiling harus didukung dengan bukti yang berdasarkan intelijen dan statistik."
Asosiasi Operator Bandara dan BAA, operator bandara terbesar di Inggris, akan melakukan profiling penumpang.
Namun beberapa orang justru menganggapnya sebagai sebuah sikap diskriminatif, karena tidak hanya Muslim, siapapun dari agama apapun juga memiliki kemungkinan melakukan plot serangan seperti itu.
Pernyataan Mahmood tersebut disampaikan setelah Profesor Anthony Glees, direktur Pusat Keamanan dan Studi Intelijen Universitas Buckingham, mengatakan bahwa umat Muslim yang berada di bandara sebaiknya diperiksa secara ekstra selama beberapa minggu.
"Saya meminta kaum Muslim di mana pun untuk bersiap menjadi subyek penggeledahan tambahan selama beberapa minggu, mungkin bulan, ke depan hingga MI5 dan polisi selesai menyelidiki kasus ini," ujar Glees.
Glees mengakui bahwa sebagian besar kaum Muslim menentang ideologi ekstremis Al Qaeda.
"Kebanyakan kaum Muslim tidak memiliki kaitan apa pun dengan Al Qaeda dan samasekali tidak memiliki apa pun untuk disembunyikan," ujarnya.
Sebuah survei Populus menemukan bahwa 98% dari dua juta penduduk Muslim Inggris akan merasa malu jika ada anggota keluarganya yang bergabung dengan Al Qaeda. (rin/ei/tg/sm) www.suaramedia.com














