Sabtu, 04 September 2010

Headlines:

Dilema Muslim Penjual Babi Dan Alkohol Di AS

E-mail Cetak PDF

NEW YORK (Berita SuaraMedia) – Kebanyakan pelanggan Khairul Kabir di Madison Deli and Grocery di East Harlem tidak menyadari bahwa di balik senyum ramahnya tersimpan perasaan menahan malu.

Kabir, 49, seorang pendatang Muslim yang dari berasal Bangladesh, merasa sedih karena ia terpaksa menjual daging babi dan alkohol, dua benda yang dilarang di dalam Al Quran. Ia juga menjual tiket lotere, satu bentuk judi yang juga tidak diperbolehkan. Kaum Muslim yang taat tidak boleh terlibat dalam, menjual, atau bahkan menangani barang-barang haram itu. Dilema Kabir menyebar di antara pendatang Muslim di New York dan kota-kota Amerika lainnnya, di mana keyakinan agama, pengejaran kemakmuran, dan tekanan untuk berasimilasi seringkali berbenturan.

Namun, pergulatan spiritual itu paling buruk terjadi di lingkungan yang beragam seperti East Harlem, di mana bisnis kaum Muslim harus bersaing untuk mendapatkan pelanggan yang mengharapkan sebuah deli akan, misalnya, membuatkan mereka sepotong roti isi daging babi atau menjual tiket lotere atau satu pak bir ke mereka.

Opini terkait penjualan barang-barang haram itu sama beragamnya dengan orang-orang yang membentuk komunitas Muslim di Amerika, namun Kabir terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya menjual barang-barang tersebut.

"Menjual barang haram sama dengan memakannya," ujar Kabir, melirik pendingin penuh berisi dengan kaleng-kaleng bir di dalam tokonya. "Saya merasa bersalah, sangat bersalah. Saya ingin menjual bisnis ini dan pulang ke rumah, tidak menjual barang haram. Setiap hari saya berpikir untuk melakukan itu."

Kabir mengatakan bahwa ia terpaksa menjual barang-barang yang tidak ia setujui itu untuk bertahan di dalam resesi. "Saya melakukan banyak hal buruk," ujar Kabir. "Saya berdoa semoga Allah mengampuni saya."

Mohammed Al Naqib, yang pernah bekerja di Sammys Grocey di 165 DeKalb Avenue, Fort Greene, Broklyn, mengatakan bahwa toko yang dimiliki oleh sepupunya itu berhenti menjual bir empat atau lima tahun lalu karena kurangnya permintaan dan terutama karena alasan agama.

"Wilayah itu telah berubah," ujar Al Naqib. "Sepupu saya dulu menjualnya, tapi ijin penjualan saya kembalikan ke pemerintah karena tidak terlalu laris terjual."

Di East Harlem, Ahmed Ibrahim, pemuda berusia 25 tahun berasal dari Mesir yang bekerja di 3-S Deli yang kecil di Second Avenue dan East 105th Street, merasa khawatir tokonya tidak dapat menjual bir, bukan karena alasan agama melainkan karena pemilik sebelumnya telah kehilangan ijin untuk menjual minuman beralkohol.

Dari perspektif bisnis, Ibrahim mengatakan, toko-toko harus menjual bir dan barang haram lainnya untuk sukses.

"Bagi saya, saya datang ke sini untuk mencari uang," ujarnya. "Jika saya ke sini dan berusaha menjalankan bisnis yang halal, hanya kaum Muslim yang akan datang. Saya harus menjual ke orang-orang Amerika juga."

"Bir, rokok, dan roti isi adalah produk-produk yang paling penting dalam bisnis toko kelontong," ujar Ibrahim.

Saat Ibrahim berbicara, sebuah radio memutar doa-doa Islam. Ketika sekelompok pelanggan masuk ke toko, Ibrahim mengganti salurannya.

"Jika saya melihat ada masalah dengan pelanggan, saya akan menggantinya," ujar Ibrahim, merujuk pada radionya. "Untuk berbisnis, saya harus membuat pelanggan saya tersenyum.

Seorang pegawai di sebuah toko kelontong di Carlton Avenue di Fort Greene mengatakan bahwa tokonya mempekerjakan non-Muslim untuk menangani bir yang akan dijual.

Beberapa imam memahami tekanan yang dihadapi oleh kaum Muslim yang berusaha mencari nafkah di dalam kota yang sangat kompetitif itu.

Imam Kabir, Mohammad Fayek Uddin, pemimpin Jackson Heights Islamic Cener dan Masjid di Roosevelt Avenue, Queens, mengatakan bahwa  meskipun ia memarahi orang yang ia kenal secara pribadi karena menjual barang haram, ia tidak diharuskan untuk terlibat. Ia hanya diharuskan memperingatkan mereka.

"Di negara ini semua orang harus melakukan sesuatu. Saya menyampaikan ceramah di depan orang-orang, itu tergantung pada pilihan yang mereka buat," ujar Uddin diikuti dengan anggukan beberapa jamaahnya yang masih tetap berada di Masjid setelah sholat berjamaah selesai. "Tidak ada hukuman, tidak di sini," ujar Uddin, yang juga berasal dari Bangladesh. "Allah akan menjatuhkan hukuman di hari pembalasan, saya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan hal itu."

Uddin menambahkan bahwa ia sesekali membantu kaum Muslim mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia mengatakan bahwa orang-orang yang beriman biasanya dapat menemukan pekerjaan yang tidak bertentangan dengan keyakinan mereka karena "Allah pasti menyediakannya untuk mereka."

Terlepas dari segala godaan yang ada di Amerika, Uddin mengatakan bahwa ia merasa kehidupannya lebih baik di negara tersebut.

"Di negara ini saya melihat kebebasan yang tidak terbatas," ujarnya. "Itu lebih baik daripada di negara kami sendiri." (rin/nyt) www.suaramedia.com

Altetik

Federer Tak Terhadang, Davdenko Tumbang
Kejutan lain terjadi saat unggulan ke-11 Marin C...More »

Berita Gadget Terkini

Sony Kembangkan Laptop 3D Canggih Dengan Kacamata Istimewa
"Teknologi frame sequential dengan cepat memutar...More »

Otomotif Terbaru

Veloce 1200, Motor Sporty Nan Gahar Dengan Jiwa Streetfighter
Veloce didukung oleh mesin canggih bertenaga bes...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon