Dalam satu kasus, seorang pria yang melarikan diri dari pengejaran di Afrika di mana semua anggota keluarganya dibunuh mengklaim bahwa selama sembilan bulan terakhir ini ia telah diganggu oleh agen-agen MI5 yang memaksanya bekerja untuk mereka.
Ishaq Elmi, 31, mengatakan bahwa ia dibombardir dengan lebih dari 200 panggilan telepon dan diakali untuk menghadiri sejumlah pertemuan di stasiun polisi di Birmingham.
Dalam salah satu panggilan telepon yang paling akhir, Elmi mengatakan bahwa seorang agen MI5 menyebutnya bodoh dan mengancamnya dengan mengatakan, "Bagaimana pun caranya kami akan mendapatkanmu."
Ahmed Diini, seorang warga negara Belanda yang telah menetap di Inggris, mengatakan bahwa ia dikunjungi oleh beberapa agen di sekolah Birmingham di mana ia bekerja dan mendapat ancaman akan ditahan. Ketika ia pergi berlibur ia mengatakan telah dua kali ditahan di bandara Inggris. Diini, 21, mengatakan bahwa ia juga dibombardir dengan panggilan telepon dan diancam akan ditahan menggunakan Undang-undang Terorisme, menyarankan bahwa hidupnya akan lebih mudah jika ia bersedia bekerja untuk MI5. Ia juga mengatakan bahwa istrinya diganggu oleh seorang agen wanita MI5 saat sedang berbelanja di sebuah bandara.
Baik Elmi dan Diini berasal dari Somalia. Diini datang ke Eropa ketika berusia tiga tahun dan Elmi mendapatkan kewarganegaraan Inggrisnya di tahun 2006.
Tuduhan baru itu menimbulkan kekhawatiran tentang taktik yang digunakan oleh MI5 untuk merekrut informan dari komunitas Muslim. Tahun lalu, The Independent melaporkan lima kasus di London di mana beberapa pemuda Somalia mengeluhkan gangguan serupa.
Kelompok Muslim Inggris telah memperingatkan bahwa taktik keras ini berisiko meminggirkan komunitas Asia. Mereka juga mempertanyakan kualitas dan reabilitas intelijen yang diperoleh melalui koersi.
Agen keamanan Inggris menggelar operasi rahasia di tahun 2008 terhadap komunitas Somalia dan Yaman Inggris atas keprihatinan terhadap warga negara Inggris yang bepergian ke Afrika dan Timur Tengah untuk bergabung dengan kamp pelatihan ekstremis yang terkait dengan Al Qaeda. Upaya untuk meledakkan sebuah pesawat AS oleh seorang pria Nigeria yang menghabiskan waktu di Yaman dan serangan serupa yang diluncurkan dari Somalia telah meningkatkan rasa tertarik MI5 terhadap warga Inggris yang memiliki hubungan dengan kedua negara tersebut.
"Saya datang ke sini tahun 2000 setelah keluarga dan usaha saya menjadi target ekstremis yang beroperasi di Mogadishu. Saya kira saya telah aman setelah menerima suaka di tahun 2006 namun kunjungan dan panggilan telepon dari MI5 telah membuat hidup saya berantakan. Saya katakan pada mereka bahwa saya tidak mau bekerja untuk mereka dengan memata-matai komunitas saya. Saya katakan jika mereka menginginkan informan mereka harus pergi ke Pusat Lowongan Kerja dan berikan pekerjaan untuk orang-orang yang kehilangan pekerjaan di masa resesi ini – namun saya telah memiliki pekerjaan," ujar Elmi.
Diini mengatakan bahwa hidupnya telah banyak berubah sejak dihubungi MI5. "Secara mental dan moral saya merasa terganggu karena menjadi korban. Bahkan sekarang saya harus hidup dengan fakta bahwa tidak akan dapat pergi ke suatu tempat tanpa dicegat selama minimal dua jam dan dipandang sebagai kriminal, karena orang-orang di sekitar saya yang juga mengantri tidak dicegat namun sayalah satu-satunya yang dipilih.
"Hal itu bahkan membuat ibu saya sangat cemas hingga ia sakit dan kesulitan psikologis. Istri saya juga marah karena saya tidak memberitahunya tentang MI5 sebelum kami menikah."
Seorang juru bicara Departemen Dalam Negeri mengatakan, "Agen Keamanan beroperasi sesuai hukum. Jika ada yang merasa diperlakukan salah maka ada prosedur jelas untuk meminta komisaris kewenangan investigasi, yang merupakan seorang hakim senior, untuk menyelidiki keluhan tersebut. (rin/pt) www.suaramedia.com















