Pada tanggal 24 Mei 2009, berlangsung sebuah gerak jalan bertajuk "Gerak Jalan Untuk Inggris" (March for England) melalui pusat kota Luton, Berdshire, Inggris, yang memakan waktu antara satu setengah sampai dua jam dan melalui pusat kota Luton. Gerak jalan tersebut merupakan sebuah wujud protes terhadap tindakan sebuah kelompok Muslim pada tanggal 10 Maret 2009. Pada saat itu, berlangsung sebuah parade yang diselenggarakan oleh Royal Anglian Regiment untuk menyambut para tentara yang baru pulang dari medan perang. Kelompok Muslim tersebut meneriaki para tentara dalam parade tersebut dengan sebutan "Penjagal Basra", "Pemerkosa", "Pembunuh", dan "Pembunuh Bayi". Lima orang Muslim kemudian dikenai sanksi dengan tuduhan melanggar ketertiban umum oleh pengadilan Luton.
Selama berlangsungnya "Gerak Jalan Untuk Inggris", terjadi kerusuhan. Sebuah toko fast food yang dimiliki oleh seorang warga keturunan Asia diserang. Seorang pria Asia diserang di pintu masuk toko tersebut. Segerombol orang mendorong polisi dan melempari polisi tersebut dengan plakat.
Kasus tersebut kemudian di bawa ke Pengadilan Luton. Dalam rekaman CCTV yang diputar di pengadilan, tampak sebuah kelompok yang melibatkan lebih dari 200 pria. Kelompok tersebut merupakan anggota Gerak Jalan Untuk Inggris. Mereka berlari melintasi jalan kembar dan menyerang sebuah mobil berisi tiga pria Asia.
Sebagian orang di dalam kelompok tersebut mengenakan balaclava. Sebagian yang lain melampiri tubuh dengan bendera St. George atau Union Jack. Sebagian lagi membawa plakat berbunyi " 'United People of Luton". Terdengar sejumlah orang diantara kelompok tersebut menyerukan yel-yel, "Bajingan, bajingan, bajingan."
Pada hari Selasa (19 Januari 2010), tujuh orang dituduh bersalah atas kerusuhan yang terjadi selama gerak jalan tersebut. Empat orang di antaranya dijatuhi hukuman. Tony Griffiths, 27, dari Manor Road, Caddington dan Simon Hattle, 21, dari Hazelwood Close, Luton, dihukum 16 minggu dalam penjara. Richard Myers, 21, dari Marsom Grove, Luton, dihukum 28 minggu.
James Butler (18 tahun) dari Crawley, West Sussex, dihukum 16 minggu. Tiga orang yang lain belum mendapat putusan karena laporan pra-peradilan mereka belum disiapkan.
Jason Woolfe, penuntut umum dalam kasus tersebut, mengatakan bahwa gerak jalan tersebut merupakan "kontrademontrasi" yang timbul akibat masalah pada 10 Maret 2009. Hakim Distrik, Carolyn Melanby, menyatakan bahwa keempat terdakwa menunjukkan "perilaku kekerasan yang agresif". Kepada keempat pemuda tersebut, Melanby berpesan, "Orang-orang yang bertindak seperti ini akan kehilangan kebebasan".
Beberapa tahun belakangan ini, kelompok-kelompok anti-Islam memang semakin marak di Eropa. Angka tersebut bahkan mengalami peningkatan.
English Defence League (EDL), adalah salah satu kelompk tersebut, dengan angka anggota yang terus meningkat pesat tiap tahunnya. Sejak awal kemunculannya pada musim panas 2009, kelompok tersebut telah merencanakan sekitar 20 aksi protes meliputi Britania, termasuk London, Birmingham, Manchester, Leeds, Luton, Nottingham, Glasgow, hingga Swansea.
Pemimpin EDL mengklaim bahwa gerakan mereka adalah gerakan damai, sebuah organisasi non-rasis. Namun menghabiskan waktu bersama mereka, terdapat bukti-bukti bahwa gerakan mereka sangat mengganggu. Mereka bahkan diketahui memiliki hubungan erat dengan beberapa organisasi vandalis, termasuk hooligan, neo-Nazi, Combat 18, Blood and Honour dan British Freedom Fighters.
Dan seperti yang diketahui, umat Muslim lah yang menjadi target utama mereka.
Dalam sebuah serangan, 30 pemuda kulit putih dan hitam melakukan pengeroyokan terhadap seorang pelajar Asia di dekat City University di pusat London, menyerang mereka dengan tongkat besi, batu bata, dan juga meneriakkan kata-kata rasis. Tiga orang – dua mahasiswa dan seorang pejalan kaki menjadi korban mereka.
Menteri Komunikasi Inggris, John Denham, mengecam pertumbuhan EDL yang semakin tak terkendali.
"Jika Anda melihat para demonstran, bahasa yang mereka gunakan, dan target yang mereka pilih, terlihat jelas bahwa ini semua hanya bertujuan untuk melakukan pengrusakan dan kekerasan, untuk mendapatkan respon. Dan kita semua harus ambil bagian dalam menanganinya."
Didirikan di Luton, EDL dihidupkan dengan sebuah protes di bulan Maret oleh Muslim Al Muhajiroun, yang memprotes sebuah parade penyambutan untuk para tentara yang kembali dari Irak. (es/bn/sm) www.suaramedia.com














